Thursday, March 3, 2011

Regina, hilang dan kembali Misterius


Regina, remaja asal Bimoti, NTT, yang menghilang dari rumah penampungan anak pencari suaka Estonte di Sundsvall, Swedia, akhirnya secara misterius, kembali, Kamis sore, 11 Desember. Gadis 16 tahun ini menjadi pusat pencarian polisi Swedia dan sejumlah LSM, setelah menghilang 15 November lalu. Ia permisi ke induk semangnya untuk mengembalikan buku ke perpustakaan kota, tapi kemudian menghilang tanpa jejak. Sebuah situs www.findregina.com yang dikelola oleh MC Club Cruiser for Life pun didedikasikan untuk menelusuri jejaknya.

Saya sendiri menerima kabar kembalinya Regina per telepon dari Lena Sundbom, yang bertindak sebagai pendampingnya dalam proses mencari suaka di Swedia. Lena yang dalam perjalanan kereta dari Stockholm ke Sundsvall, menyatakan tiba-tiba saja Regina muncul, ketika pada penghuni rumah penampungan sedang merayakan Lucia. ”Ini hadiah Natal yang fantastis,” ujar Agnita Angström, pengelola penampungan itu.

Sejauh ini, Lena belum bisa bercerita banyak tentang apa yang terjadi terhadap Regina, karena ia dijadualkan bertemu gadis itu, Jumat pagi. Selain itu, induk semang Regina membiarkan Regina istirahat, karena ia terlihat capek dan banyak menangis.

Saya juga sempat mengabarkan kabar gembira ini kepada pihak kedutaan dan disambut gembira. Sekretaris pribadi Duta Besar Linggawaty Hakim menyatakan kemungkinan mereka akan mengirim wakil ke Sundsvall, untuk mengikuti kasus ini.

Terdamparnya Regina asal Bimoti, satu kota tak jauh dari Kupang, NTT, di Sundsvall, kota di tengah Swedia, yang berjarak 350 km di utara Stockholm, memang penuh misteri. Ia tidak bisa bercerita bagaimana dirinya bisa diantar seorang pria ke depan kantor Imigrasi setempat, 26 September lalu. Kepada petugas Imigrasi yang menangani kasusnya, ia hanya mengaku dibawa oleh seorang lelaki kenalan neneknya, Walisah. Satu-satunya orang yang membesarkannya, setelah orangtuanya meninggal. Karena ceritanya itulah, ia kemudian dimasukkan dalam katagori anak pencari suaka tunggal, yang kemudian ditempatkan di penampungan, sampai statusnya jelas.

Menghilangnya Regina, tentu saja memicu kecurigaan sejumlah pihak di Swedia, akan berlangsungnya sebuah perdagangan atau penyelundupan manusia antar negara. Bagaimana Regina bisa menghilang begitu saja selama hampir sebulan dan tiba-tiba muncul kembali. Untuk remaja yang baru mengenal Swedia, tentu sangat sulit untuk ke mana-mana tanpa ada kotak dengan orang yang dikenal atau calo. Apalagi kemampuan bahasa Ingrisnya sangat terbatas dan tidak bisa berbahasa Swedia.

David Lagerlöf, sektretaris pers Ecpat—sebuah organisasi sosial yang banyak terlibat dalam kampanye melawan kejahatan seks terhadap anak, menyebut kasus Regina sama dengan kasus humantrafficking asal Cina yang terdampar di Swedia, tiga tahun lalu.

Menurutnya—seperti dikutip oleh Sundsvall Tidning-rombongan dari cina itu dikirim oleh jaringan penyelundupnya dari Cina dan kemudian mereka ditinggal begitu saja, sehingga kasusnya diambil alih oleh imigrasi Swedia. Selama menunggu proses pengajuan status atau suaka, rombongan ini di tempatkan di penampungan. Dari sinilah kemudian, dimulai babak baru, ketika mereka kembali dihubungi oleh kelompok penyelundupnya untuk memulai babak rencana baru menjadi imigrant gelap di Scandinavia, tidak saja Swedia. Akan halnya kelompok dari Cina itu, kini mereka menghilang tak diketahui rimbanya. Kabarnya, mereka menerima instruksi lanjutan melalui pesan SMS.

Menurut data yang dikutip oleh Cruiser for Life, tahun 2007 saja, ada sekitar 100 anak yang menghilang dari pusat penampungan. Satu informasi yang belum terkonfirmasi menyebutkan di antara jumlah itu, terdapat beberapa orang Indonesia. Tak heran jika muncul pertanyaan, apakah Regina adalah salah satu korban akan trend penyeludupan orang ini.

Swedia sendiri bisa dibilang mulai menjadi tujuan negara perdagangan manusia. Soalnya, negara ini termasuk yang ”murah hati” dengan sistem jaminan sosialnya. Para pencari suaka, di tempatkan di rumah penampungan, diberi uang saku dan pendampingan, termasuk juga sekolah bahasa dan sebagainya. Bagi para imigran suaka, mereka dibiayai oleh pemda atau negara, sampai mereka bisa mendapatkan pekerjaan dan independen.

Untungnya lagi bagi modus penyelundupan orang di Swedia, adalah bebas lintas batas antara negara yang termasuk dalam Perjanjian Schengen. Jika yang bersangkutan bisa masuk ke Swedia, maka ia akan bebas masuk ke negara lain seperti Jerman, Belanda, Finlandia, Perancis, Norwegia, Belgia, Austria, Spanyol, semuanya ada 24 negara.

Kronologis Hilangnya Regina:

  • 1. 26 September 2008, Regina diantar seorang pria ke depan kantor Imigrasi Swedia di Sundsvall, sekitar 350 km utara kota Stockholm. Regina mengaku tidak ingat bagaimana ia bisa meninggalkan Bimoni, NTT dan terdampar di Swedia. Ia hanya ingat seorang kenalan neneknya, mengajaknya pergi dengan mobil. Regina pun ditempatkan di rumah penampungan untuk anak pencari suaka, mengingat umurnya baru 16 tahun.
  • Sabtu, 15 November, tengah hari, Regina permisi kepada induk semangnya, untuk mengembalikan ukuk e perpustakaan di kota Sundsvall. Tapi sampai 17.30, Regina tak kunjung tiba, induk semangnya pun melaporkan status hilang itu ke kepolisian setempat. Polisi pun menelusuri jejak Regina. Melalui kartu bus yang dimilikinya, ia diketahui menaiki bus menuju perpustakaan, lalu setengah jam kemudian, ia pun tercatat mengembalikan buku pinjamannya.
  • Pukul 14.34 hari yang sama, polisi mengendus pemakaian kartu bank atas nama Regina di sebuah mesin elektronik untuk membeli tiket kereta dari Sundsvall menuju kota lain, Gävle. Pada waktu bersama, tercatat pula transaksi pembelian student tiket oleh seseorang. Tiket yang dibeli memakai kartu bank Regina, tercatat untuk kereta dengan waktu keberangkatan 16.11. Anehnya, sekitar 15.45, menjelang keberangkatan kereta, kartu bank Regina kembali dipakai untuk mengambil uang tunai sebesar 300 kr, di sebuah ATM di luar area station. Kondektur kereta yang dihubungi kepolisian mengaku tidak mengenali foto Regina dan dia yakin, gadis itu tidak berada di kereta menuju Gävle. Polisi menduga, Regina dibantu oleh orang lain dalam transaksi membeli tiket kereta.
  • Seorang pria melapor ke polisi bahwa ia sempat membantu Regina dan pria remaja yang diduga temannya, ketika mereka membeli tiket kereta. Pria itu menyebut bahwa semula Regina berencana membeli tiket ke Ludvika, sebuah kota lain. Tapi karena tidak ada jadual kereta ke kota tujuan, maka mereka pun membeli tiket ke Gävle dan berniat melanjutkan perjalanan dari sana. Dua tiket seharga 294 kr dibeli dengan kartu bank Regina. Pria itu juga menilai penampilan Regina dan temannya tidak mencurigakan. Mereka kelihatan santai.
  • 5 Des 2008, polisi merilis foto baru mengenai keterlibatan seorang pria muda yang berada di samping Regina, saat menarik uang dari sebuah ATM. Polisi berharap bisa mengendus jejak Regina dengan menemukan lelaki ini.
  • 11 Desember 2008: Pukul 18.00 sore, Regina tiba-tiba muncul kembali di rumah penampungan di Sundsvall, di saat para penghuni penampungan sedang merayakan Lucia. Ia terlihat kecapean dan banyak menangis.
  • 12 Desember; Regina masih enggan berbicara. Bahkan kepada pihak yang memeriksanya ia mengaku hanya ingin kembali ke rumah neneknya, tapi ternyata dia salah turun dari kereta yang dinaikinya. Sampai akhirnya ia ditolong oleh pasangan yang baik dan mengijinkannya menginap di rumah mereka. Tentu saja, penjelasan ini jauh dari logika, bagaimana Regina bisa berpikiran bahwa kereta yang dinaikinya bakal membawanya kembali pulang ke NTT. Dan siapa pasangan orang yang dimaksud, masih tanda tanya besar. Jika Regina mau menjawab jujur, tentu ini bisa membuka sedikit pintu bagi aparat terkait untuk menelusuri kemungkinan Regina berhubungan dengan calo yang mendatangkannya dari desa kecil di NTT sana. ***
Link: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/195593/38/

1 comment: