Pagi tadi, sebelum berangkat ke toko, Donny Iswandono menyapa di chat room Facebook. Kami bertukar kabar mengenai cuaca dan kerjaan. Lalu dia merujuk nama André Moller, kenalan dia, yang setelah beberapa saat, aku ingat sebagai penulis kamus bahasa Indonesia-Swedia. Menurut Donny, André menikah dengan perempuan Yogya.
Dia pun lantas mengirim suggestion agar aku berteman dengan André di FB. Tentu saja tawaran itu aku sambut antusias. Soalnya, aku belum menemukan teman, orang Swedia, yang punya pengetahuan luas tentang Indonesia dan bahasanya. Dan tukar pikiran adalah kegiatan yang aku senangi.
Lalu, aku pun membuka kolom suggestion dan mengirim pesan perkenalan ke André. Ya, aku selalu mengirim pesan ke orang yang bakal aku add ke jaringan kontakku. Menurutku, ini basa-basi yang sopan dan memudahkan orang tersebut untuk mengingat sejarah pertemanan mau pun perkenalan kami. Seperti halnya aku sendiri malas merespon request dari orang yang tidak ada basa-basinya.
Kolom pesan sudah terbuka, aku sempat berpikir, bahasa apa yang harus kutulis? Swedia, Inggris atau Indonesia. Akhirnya, aku putuskan menulis dengan bahasa Indonesia formal, dengan pikiran bahwa André adalah penulis kamus—yang boleh jadi tak suka bahasa informal. Anda dan saya adalah kata ganti yang kupakai dan dengan salam pembuka ”Halo André”.
Beberapa menit kemudian, aku pun mendapat balasan dan konfirmasi pertemanan kami di FB. ”Halo Mbak Sensen”, begitu pesan dari André dimulai. Hoppsan! Pikirku. (Kata ini biasa kami pakai untuk menggambarkan keterkejutan, nyaris sama dengan ekspresi ”alamak” dan sejenisnya. André menulis lugas, singkat, tapi juga mengesankan ”keramahan” dalam pesannya.
Perbedaan gaya bahasa kami inilah yang kemudian aku tertawakan. Aku menertawakan diri, karena memposisikan diriku sebagai ”orang Swedia” (yang menurutku tidak suka banyak basa-basi di awal perkenalan, kaku, dan cenderung formal dan menjaga jarak). Aku ingat, sebuah pelukan (hug, kram) tanda terima kasih dan persahabatan dari temanku, perempuan irak, kepada perempuan Swedia, tetangganya, berakhir menyedihkan. Si perempuan swedia menjauh, karena mungkin menganggap si Irak terlalu friendly. Sementara André sukses mentransformasikan dirinya yang Swedish menjadi Indonesian dengan gaya sapaan: Mbak Sensen-nya.
Kalau saja André orang Indonesia, tanpa ragu aku akan menyapanya dengan Mas, Akang atau Bang. Tapi dia orang Swedia. Di sini, kita harus berhati-hati memakai sebutan paman, tante dan sejenisnya. Karena panggilan itu bisa berarti ”tonjokan” halus, karena memposisikan yang bersangkutan sebagai sudah berumur. Satu ketika, aku dan Robert, anakku, sempat diprotes lelaki 65-an tahun, karena ia menolak dipanggil farbror (uncle). Dia bilang, dia belum setua itu, he..he…
Dalam hal korespondensi singkatku dengan André Moller, muncul tanda tanya dalam hati. Apakah André yang sukses menampilkan sisi keindonesiaannya, karena pergaulan dengan keluarga dan lingkungan Indonesia? Atau aku yang sok menswedia, dengan menawarkan kekakuan dalam sebuah perkenalan?
Anyway, senang berkenalan dengan Anda, Mas André Moller. Kami dan bahasa Indonesia, membutuhkan banyak orang seperti sampean
No comments:
Post a Comment