"Aku pikir Linn minta dipeluk," ujar Robert dengan wajah serius, ketika kami berbaring berdampingan, mengantar dia tidur. Di kamarnya, rengekan Linn terdengar nyaring, disertai isak tangis sekali-kali. "Really?" tanyaku ke Robert yang mengelus-elus rambutku. Ya, katanya. Seolah tahu apa yang dibenak Linn, dia mencoba menyakinkan aku untuk mendatangi Linn di kamarnya dan menawarkan "pelukan" perdamaian.
Rupanya Robert tahu, sejak sejam sebelumnya, terjadi perang dingin yang cukup sengit antara kakak perempuannya, yang 6 tahun, dengan mama yang memasang wajah masam. Linn menyalahkan mama karena telah "merusak" hasil rajutan tangannya, yang berubah patrun. Sementara mama berpikir, patrun baru akan memudahkan gadis itu untuk melanjutkan hobi barunya belajar merajut. Patrun awalnya sendiri, dikerjakan sang papa. Karena tidak suka dengan pola baru rajutan itu, Linn berusaha menarik kembali benang rajutan, yang akhirnya menjadi kacau. Jadilah perang dingin antara Linn dan Mama. Dan putraku yang 4 tahun itu berusaha menjadi penengahnya.
Usaha Robert ternyata tidak berhenti hanya sekadar menyakinkan Mama untuk memeluk Linn. Dia mendatangi Linn di kamarnya dan menanyakan/memastikan apakah Linn mau minta dipeluk. Sekejap kemudian, dia balik ke kamar kami menyampaikan kesimpulannya. "Linn mau dipeluk, tapi dia takut dipukul." "Apa pernah Mama memukul Linn?" aku balik bertanya. Robert menggeleng dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, Linn mendatangi kamar kami, masih dengan isakan setengah manjanya. "Apa kamu mau dipeluk?"tanyaku. "Iya," sengaunya di sela tangisan yang makin menjadi dan ocehan yang gak jelas. Aku tanya, kenapa kamu nangis? Dia berusaha menjelaskan kekesalannya terhadap rajutan yang salah pola tadi. Aku bilang, kalau kamu tak suka, ya ubah saja kembali semula, dan berhenti bicara mengenai rajutan yang menjengkelkan itu. Dia bilang, dia berusaha mengatasi kekesalannya, tapi masih teringat terus. Akhirnya, kubuka tanganku dan menawarkan pelukan. Robert ikut-ikutan mengelus kakaknya.
Linn, dalam banyak hal, mencerminkan tabiatku waktu masih muda. Kalau kesal terhadap sesuatu, maka perasaan itu sering dipendam-pendam dan akhirnya meledak. Sejak kecil, Linn jauh lebih dekat ke papanya, sementara Robert lengket denganku. Linn sangat perasa, sementara Robert sangat easy going.
Akhirnya, kami pun berdamai. Linn minta ijin untuk tidur di ranjang kami, dan disambut gembira oleh Robert yang senang tidak sendiri. Tapi sejenak kemudian, Robert tiba-tiba cemberut. La.. kalau Linn tidur di sini, nanti kakiku gak bebas lagi, keluh dia. "Lo, bukannya kamu suka tengkurap dan menekuk lutut (seperti orang bersujud) kalau tidur," tanyaku. Itu kalau aku kedinginan dan tidur di ranjangku sendiri, kata Robert. Tapi di sini kan ada mama, papa dan Linn, jadi hangat, jadi aku biasa tidur begini, ujarnya, sambil memperagakan badannya yang berbaring lurus. Di bawah, kakinya bertemu kaki Linn, yang tidur di tengah dengan kepala berlawanan arah.
Kedua anak ini punya kebiasaan sejak kecil. Pagi-pagi sekali, ketika mereka terbangun, langsung berlari ke ranjang kami untuk melanjutkan tidur, sambil menghangatkan kaki mereka yang kedinginan, karena selimut yang berceceran. Robert menaruh kedua telapak kakinya di antara pahaku. Sementara Linn selalu memepet ke badan papanya. Waktu mereka masih kecil, kebiasaan ini tidak masalah. Tapi kini, Linn sudah 118 cm dan Robert sudah 107 cm. Karena keduanya tidur di tengah, maka kedua pasang kaki mereka pun bertabrakan.

Rupanya Robert tahu, sejak sejam sebelumnya, terjadi perang dingin yang cukup sengit antara kakak perempuannya, yang 6 tahun, dengan mama yang memasang wajah masam. Linn menyalahkan mama karena telah "merusak" hasil rajutan tangannya, yang berubah patrun. Sementara mama berpikir, patrun baru akan memudahkan gadis itu untuk melanjutkan hobi barunya belajar merajut. Patrun awalnya sendiri, dikerjakan sang papa. Karena tidak suka dengan pola baru rajutan itu, Linn berusaha menarik kembali benang rajutan, yang akhirnya menjadi kacau. Jadilah perang dingin antara Linn dan Mama. Dan putraku yang 4 tahun itu berusaha menjadi penengahnya.
Usaha Robert ternyata tidak berhenti hanya sekadar menyakinkan Mama untuk memeluk Linn. Dia mendatangi Linn di kamarnya dan menanyakan/memastikan apakah Linn mau minta dipeluk. Sekejap kemudian, dia balik ke kamar kami menyampaikan kesimpulannya. "Linn mau dipeluk, tapi dia takut dipukul." "Apa pernah Mama memukul Linn?" aku balik bertanya. Robert menggeleng dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, Linn mendatangi kamar kami, masih dengan isakan setengah manjanya. "Apa kamu mau dipeluk?"tanyaku. "Iya," sengaunya di sela tangisan yang makin menjadi dan ocehan yang gak jelas. Aku tanya, kenapa kamu nangis? Dia berusaha menjelaskan kekesalannya terhadap rajutan yang salah pola tadi. Aku bilang, kalau kamu tak suka, ya ubah saja kembali semula, dan berhenti bicara mengenai rajutan yang menjengkelkan itu. Dia bilang, dia berusaha mengatasi kekesalannya, tapi masih teringat terus. Akhirnya, kubuka tanganku dan menawarkan pelukan. Robert ikut-ikutan mengelus kakaknya.
Linn, dalam banyak hal, mencerminkan tabiatku waktu masih muda. Kalau kesal terhadap sesuatu, maka perasaan itu sering dipendam-pendam dan akhirnya meledak. Sejak kecil, Linn jauh lebih dekat ke papanya, sementara Robert lengket denganku. Linn sangat perasa, sementara Robert sangat easy going.
Akhirnya, kami pun berdamai. Linn minta ijin untuk tidur di ranjang kami, dan disambut gembira oleh Robert yang senang tidak sendiri. Tapi sejenak kemudian, Robert tiba-tiba cemberut. La.. kalau Linn tidur di sini, nanti kakiku gak bebas lagi, keluh dia. "Lo, bukannya kamu suka tengkurap dan menekuk lutut (seperti orang bersujud) kalau tidur," tanyaku. Itu kalau aku kedinginan dan tidur di ranjangku sendiri, kata Robert. Tapi di sini kan ada mama, papa dan Linn, jadi hangat, jadi aku biasa tidur begini, ujarnya, sambil memperagakan badannya yang berbaring lurus. Di bawah, kakinya bertemu kaki Linn, yang tidur di tengah dengan kepala berlawanan arah.
Kedua anak ini punya kebiasaan sejak kecil. Pagi-pagi sekali, ketika mereka terbangun, langsung berlari ke ranjang kami untuk melanjutkan tidur, sambil menghangatkan kaki mereka yang kedinginan, karena selimut yang berceceran. Robert menaruh kedua telapak kakinya di antara pahaku. Sementara Linn selalu memepet ke badan papanya. Waktu mereka masih kecil, kebiasaan ini tidak masalah. Tapi kini, Linn sudah 118 cm dan Robert sudah 107 cm. Karena keduanya tidur di tengah, maka kedua pasang kaki mereka pun bertabrakan.
No comments:
Post a Comment