Wednesday, March 2, 2011

Kado Terindah

Waktu menunjukkan setengah 10 pagi, ketika aku memutuskan beranjak dengan malas dari tempat tidur, hari minggu ini. Malam sebelumnya, kami tidur cukup larut karena ada dua teman baik, bersama keluarga mereka, yang berkunjung ke rumah, dan kami menikmati dinner bersama. Dua teman asal Cina ini boleh dibilang dua sahabat terbaik dan terdekat. Yang selalu menyediakan waktu dan tenaga, jika aku membutuhkan. Kami sama-sama belajar di sekolah bahasa. Di negara asing begini, kami tidak bisa mengandalkan sanak-saudara seperti di Indonesia. Ikatan kekeluargaan, harus kami bangun lagi dari ikatan pertemanan.

Ketika memasuki dapur, aku liat Linn, putriku yang 6 tahun, sedang naik di kursi yang ditariknya ke depan kulkas. Ia sedang menggapai kotak susu. Beberapa makanan, seperti mentega, dan ham, sudah tersedia di meja. Awalnya, aku tak begitu perhatian. Tapi kulirik ada yang lain dari penampilannya. Ia memakai dua kalung. Kalung emas berbentuk hati kecil dari papanya dan kalung mutiara biru tua yang kubikin khusus untuknya. Di telinganya, sepasang anting panjang (yang tentu saja kebesaran), yang kemarin aku berikan untuk dia coba-coba. Linn tidak seperti gadis kecil lainnya. Dia tak suka gaun, tak suka jepit rambut, ikat rambut dan sejenisnya. Dia tak punya lobang di telinga. Makanya, penampilan dia pagi buta itu membuatku agak terpana. Cantik juga putriku, kalau dandan begitu.

Melihat Linn 'memanjati' kulkas juga bukan pemandangan biasa. Wong, setiap pagi, kami harus bertengkar kecil, dengan beberapa teriakanku agar Linn dan Robert segera duduk di meja makan untuk sarapan, atau untuk mengganti pijama mereka dengan baju ke sekolah. Biasanya, Linn berusaha selama mungkin berselimut dan berbaring di sofa sambil mata memlototi teve.

Karena baru bangun, aku langsung ke toilet dan pikiranku sibuk untuk menyiapkan kue tart buat penganan minum kopi siang nanti. Soalnya, mertuaku dan adik suamiku akan datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun bagi hari jadiku besok.

Ulang tahun. Aku termasuk yang tidak perhatian sama ulang tahun. Mungkin karena dibesarkan dalam kultur Cina, di mana moment ulang tahun hanya dirayakan ketika umur memasuki separuh abad atau seterusnya. Sementara aku masih muda, usiaku baru genap 39. Tapi jujur, kadang umur begini juga lumayan menggelisahkan. Teringat anak-anak yang masih balita. Mudah-mudahan mereka mendapatkan cukup waktu dan kesempatan yang mereka butuhkan dari kami, untuk memasuki dunia orang dewasa.

Setelah sibuk berberes ini-itu, aku lupa Linn yang tampil beda. Aku cuma berpikir, tumben.. kok dia jadi sibuk membantu nyiapin sarapan. Setelah sarapan, "Linn-Robert, ke toilet dulu ganti baju dan sikat gigi." Kalimat ini standar dan otomatis banget keluar dari mulutku, setiap paginya, sebelum mereka menghabisi tegukan terakhir susu di gelas dan menghilang dengan cepat ke depan teve.

"Mama..!" Linn memotong ucapanku. Aku sudah sikat gigi, katanya. Sudah pula ganti baju, biar mama gak repot nyuruh-nyuruh, katanya. Oh.., ujarku, sambil memlototi penampilannya. Baru sadar kalau dia sudah berganti baju, berdandan dengan segala perhiasan, yang tak biasa ia pakai.

Rupanya, pagi ini, dia tidak ingin merepotkan aku. Tidak ingin membuatku naik darah karena anak-anak "menulikan" telinganya dan sibuk menikmati kartun di teve. Rupanya ini hadiah yang dia maksud ketika kemarin gadis kecilku ini berbisik bahwa akan ada hadiah buatku. Tapi rahasia, katanya.

Aku bilang ke dia, terima kasih atas usahanya. Dia tersenyum dan berkata,"mungkin besok (hari senin, ultahku), mama bakal sarapan dengan kue (ini bakal jadi sarapan istimewa, kalau jadi. Soalnya kami biasa makan roti, tiap pagi)." Rupanya ada lagi rencana lain di otaknya, untuk kado ultahku.

Linn Andari Gustafsson

No comments:

Post a Comment