Minggu ini adalah minggu libur buat anak-anak. Minggu di mana anak-anak sekolah diberi kesempatan untuk beraktivitas bersama keluarga. Beraktivitas musim dingin.
Orang-orang kaya akan mengajak anak-anaknya berlibur di daerah pengunungan, bermain ski, menikmati salju dan menikmati winter yang dingin.
Orang-orang biasa atau yang miskin akan pusing tujuh keliling, kemana harus menghabiskan waktu dengan anak-anak yang penuh energi itu. Bukan hanya soal cara menghabiskan waktu yang dipusingkan. Tapi banyak juga keluarga yang harus bekerja dan tak ada waktu untuk berlibur.
Kami termasuk keluarga biasa yang tak merencanakan libur muluk-muluk untuk anak-anak. Main salju bersama di halaman depan, main luncuran ski-racing di tanjakan jalan dekat rumah atau ke kolam renang umum yang tak jauh di pusat kota. Besok-besok rencananya ingin mencoba bowling bersama keluarga. Murah-meriah, prinsipnya.
Hari ini, aku dan anak-anak ke kolam renang. Di sana, kebetulan aku bertemu dengan teman sekolah yang kawin dengan perempuan Philipina. Temanku itu selalu mengaku bisa apa saja, setelah bertahun-tahun sekolah lagi, di sekolah orang dewasa di sini (Komvux), dia berhasil mengantongi ijazah dengan nilai memuaskan. A good achievement, so far. Tapi yang menyedihkan, di umurnya yang sudah 45 tahun lebih, hanya sedikit sekali waktunya dipakai untuk bekerja dan menghasilkan uang. Kini, ia memiliki 3 anak dengan istri pertama dan 2 balita dengan istri barunya, perempuan Philipine itu. Kini dan dari dulu, ia hidup menggantungkan diri dari uang subsidi pemerintah, mulai dari subsidi untuk anak-anak, sampai dengan bantuan untuk sewa rumah, dll, sebagai bagian dari statusnya sebagai pengangguran.
Tiap kali bertemu dengannya, aku dilanda kecapekan. Aku tak pernah mengerti ada orang yang lebih suka menggantungkan hidup dari subsidi, ketimbang bekerja sendiri, yang tidak saja mendapatkan gaji, tapi juga pembuktian diri bahwa kita bisa.
Pertemuan di kolam renang kali ini, dihiasi dengan cerita bagaimana ia mendapat banyak subsidi, karena anaknya sudah lima (semakin banyak anak, maka semakin tinggi subsidinya), lalu ia juga mendapat subsidi dari ex istrinya yang kini buta akibat kecelakaan mobil, tapi nyatanya bisa bekerja dan punya pendapatan lebih baik darinya. Dia bilang," sekarang apartemen kami besar, dan uang pun berkecukupan, tidak seperti dulu yang pas-pasan. Aku tahu, sejak setengah tahun terakhir, dia pindah dari apartemen kecil ke apartemen yang agak besar. Itu pun tak bukan karena jerih payah istri barunya yang kadang-kadang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Dalam banyak hal, aku selalu menganggap teman tadi tak lebih seperti parasit. Dia menikmati sekali kemurahan pelayanan sosial di negeri ini. Tadinya, dia lebih suka sekolah dari pada bekerja. Sekarang, dia lebih suka santai di rumah dengan anak dan mendapatkan barnbidrag (subsidi anak), serta parental benefit (föraldrapenning) tiap bulannya, dari pada mencari kerja serius.
Aku termasuk orang yang suka ketus dengan cara hidup dia. Tadi, aku bilang ke dia. Kalau aku mau tinggal di rumah dengan salah satu anakku dan mengklaim parental benefit--setiap orang tua punya jatah untuk tinggal di rumah bersama anaknya selama 460 hari, sampai anak berumur 8 tahun--maka sebulan penuh aku bisa menerima paling sedikit 14.000 kronor per bulan, setelah pajak, hanya ongkang-ongkang kaki. Jumlah itu adalah penghasilan lumayan besar dibanding gaji rata-rata seorang pekerja biasa, yang antara 17-18.000 kr, dipotong pajak sekitar 35% menjadi sekitar 10-11.000 kronor
Itu kalau aku mau. Tapi apakah lebih enak berleha-leha di rumah, sementara peluang kerja bertaburan di luar sana? Oke saja kalau anak menjadi pertimbangannya. Tapi jatah untuk parental benefit ini bisa kita ambil kapan saja, karena ada waktu 8 tahun untuk menggunakannya.
No comments:
Post a Comment