Saya tidak tahan untuk tidak mengomentari berita yang ditulis Detik.com soal pemberian award Nurani oleh Fakultas Hukum Universitas Indonesia untuk penerima suap yang tak lain adalah wakil rakyat di DPR, Agus Condro.
Baca artikel di sini: http://www.detiknews.com/read/2008/09/10/183113/1003977/10/agus-condro-dapat-nurani-award-dari-ui
Kadang saya pikir ada yang salah dengan logika berpikir sendiri. Sudah jelas-jelas yang bersangkutan sebagai wakil rakyat terima suap--entah berapa kali, kita gak tahu--lalu ngaku ke KPK. Yang bersangkutan lalu menjadi headlines media massa, dan mirisnya, salah kaprah orang kita, seolah-olah yang bersangkutan pahlawan, jadinya. Seolah-olah, Agus Condro lah mengemban nurani rakyat--simpati bertambah setelah dia kemudian dipecat oleh partainya, PDIP. Pertanyaan saya, apakah dengan pengakuannya, Agus Condro bisa melepas bajunya sebagai penerima suap atau korupsi karena kekuasaannya sebagai wakil rakyat?
Okelah, kalau pihak UI sebagai lembaga intelek mau melihat dia sebagai whistle blower. Tapi bukankan ada macam-macam whistle blower dan tidak semuanya layak dilihat sebagai pahlawan. Saya berprasangka, Agus sebagai whistle blower karena dia kepepet dan berpikiran, satu ketika kebobrokannya sebagai wakil rakyat bakal terbongkar juga. Nah, dari pada nanti KPK harus mengobrak-abrik rumah dia, kenapa gak duluan saja mengaku. Apa whistle blower yang begini layak masuk katagori pahlawan--seperti dimaksudkan FHUI ketika memberikan Award Nurani. Nurani mana yang dimaksud, nurani bersalah atau nurani kejujuran..
Saya kira whistle blower yang layak menerima award macam begini adalah sosok yang jujur, pekerja serius, yang tak tahan melihat kebobrokan di institusinya dan memutuskan untuk saatnya mengabarkan kebenaran kepada publik--boleh jadi semacam dosen IPDN Inu Kencana, yang kendati mendapat tekanan dari mana-mana, tetap berani bersuara.
Kalau toh FHUI ingin menyemangati agar koruptor atau para penerima suap lain mengaku, apa perlu ada award beginian? Apa konstruktif hasilnya? Kenapa award macam begini tidak diberikan kepada mereka-mereka yang benar-benar jujur, bisa orang biasa, bisa orang penting, bisa orang terkenal, yang memang terbukti kebersihan nuraninya. Mana yang lebih penting, berlomba mengelus para koruptor untuk bertobat atau bergiat menyemangati orang-orang untuk berbuat kejujuran??
Bingung jadinya saya. Ush, temen saya yang wartawan di harian terkemuka di Jakarta bilang, jangan bingung, kita kan masih tinggal di Republik Mimpi.. Sedih kan..
No comments:
Post a Comment