Greetings dari sang pilot menenangkan hatiku. Finally, I’m home, begitu kira-kira. Bukannya sok lupa dari mana asalku dan lupa paspor di tangan masih berlambang Garuda. Tapi home di sini lebih karena zona rasa aman yang kurasakan ketika memasuki udara Swedia. Everything will be according to the rule. Itu yang membuat aman dan nyaman. Gak ada zona abu-abu dalam hampir setiap urusan. Tidak ada yang bertanya aku warga negara mana, agama apa. Mata sipit dan kulit kuning langsat, tidak menjadi bahan diskriminasi. Kepemilikan atas 10 nomor kependudukan, menjelaskan semua informasi yang mereka butuhkan.
Kelegaan ini bukan juga tanpa alasan. Sejak check in keberangkatan dari Jakarta sudah muncul masalah. Bawaanku overloaded. Tas yang masuk bagasi 30 kg, berat maksimum yang ditolerir oleh penerbangan Etihad. Aku gembira, karena tadinya sudah siap-siap membayar ekstra. Tapi kemudian si petugas mulai iseng. Tas bagasiku ukuran standar, dia minta ditimbang juga. Meskipun tak terlihat dari luar, isinya ternyata berat, karena snack kemplang dan mpek-mpek buatan saudara, 17 kg. Si petugas bilang tidak bisa, mesti dikurangi jadi 7 kg maksimum. Aku bilang, Aku bersedia membayar overweight. Anehnya, dia yang gak mau melayani, karena menurut dia, kemahalan. Dia menghitung cepat, bisa Rp10 juta, katanya, tak sebanding dengan harga bawaanku. Kok jadi dia yang memutuskan sebanding atau tidak, Aku mendongkol, sambil berpikir keras dari mana dia mendapat angka Rp10 juta. Wong, aku biasa berhubungan dengan jasa pengiriman. Kiriman lewas EMS Express untuk 20 kg saja tak lebih dari 3 juta.
Alternatif yang dia tawarkan adalah membuang sebagian dari isi tas. Aku terpaksa setujui karena gak mau repot. Saudaraku yang menunggu di luar, kemudian sibuk memisahkan, yang ringan, masuk ke tas tangan, yang berat dan kompak dimasukkan ke tas plastik jinjing. Aku balik ke counter check in, ditimbang, tas tangan tinggal 11 kg. Lagi-lagi dia menolak. Kubuka tas itu dan menawarkan rendang atau krupuk yang mau dia ambil. Tapi si petugas menolak dengan alasan itu oleh-oleh. Aku bilang, kubayar berapa kelebihannya, tapi lagi-lagi anehnya dia tidak mau melayani. Setelah berdebat beberapa menit, seorang petugas penerbangan itu menghampiri dan memerintahkan si petugas meloloskan tasku, karena waktu boarding sudah hampir habis. Kepalaku pusing dan mulai berkeringat karena mesti lari sana-sini. Selain itu, aku juga tidak mengerti, mengapa tidak dibolehkan membayar saja biaya kelebihan itu. Mau uang pelicin? Aku tidak mau berprasangka.
Kepulangan mendadak selama 2 minggu lalu, terbilang melelahkan, meskipun senang juga bisa berjumpa keluarga dan teman. Tepat 2 tahun setelah kepulanganku terakhir, rasanya banyak yang berubah di Indonesia. Kota Jakarta makin semerawut, meskipun atas nama pembangunan. Pembangunan jalan tol Kalideres ke arah Jakarta Selatan, misalnya, terlihat sangat ”manual” dan tradisional. Alat berat yang terlihat hanya satu-dua, selebihnya urusan gali menggali dan memecah beton, dilakukan oleh kuli-kuli. Di satu sisi, boleh jadi ini bagus untuk pengerahan tenaga kerja. Tapi, berapa besar dampak ekonomi dari kemacetan, kesemrawutan dan inefisiensi sepanjang tahun akibat pembagunan konvensional ini?
Masih teringat ketika, minggu siang, 7 Desember, aku mendarat di bandara Soekarno-Hatta setelah menempuh perjalanan 22 jam rute Arlanda-Frakfurt-Abu Dhabi-Jakarta. Pilot Etihad, perusahaan penerbangan milik Emirat Arab ini, mengabarkan Jakarta cerah dan udara 32 derajat Celsius. Aduh.., rasanya tak rela meninggalkan ruang pesawat yang dingin dan nyaman dan harus siap-siap menikmati panas, debu dan polusi Jakarta.
Keluar dari pesawat artinya siap-siap berjuang. Di antaranya berjuang melawan panas dan ketidakdisiplinan. Benar saja. Memasuki area pengambilan bagasi, semua sudah desak-desakan. Semua berusaha berada terdekat dengan gerai berjalan untuk bagasi. Alhasil hanya beberapa orang di lingkaran itu saja yang bisa melihat bagasi yang berputar, karena semua pandangan tertutup badan mereka. Dalam hati aku mengumpat, ”welcome home!” Apakah orang kita tidak pernah belajar? Termasuk untuk hal-hal yang kecil dan simpel. Contohnya, antrian bagasi itu. Di banyak bandara international, ada garis pembatas sederhana, 1 meter, di mana semua orang menunggu. Ini artinya, jarak pandang semua terbuka untuk melihat semua bagasi. Orang hanya mendekat ke trolley berputar untuk mengambil bagasinya, as simple as that! Gak ada desak-desakan.
Keluar bandara, gerah dan serbuan calo taksi menambah ketidaknyamanan. Mau naik apa? Taksi di Jakarta begitu banyak macamnya dan cerita reputasi buruk taksi juga berjibun. Hanya satu yang sering direkomendasikan teman-teman, Blue Bird Group. Tapi ternyata untuk mengenali taksi Blue Bird juga susah-susah gampang. Banyak taksi lain yang mencoba meniru dan nyaris menyamai logo dan warna populer mereka. Penasaran, apa Blue Bird sudah mematenkan logo mereka ini.
Menginap semalam di Jakarta, perjalanan berikutnya menuju kampung kelahiran, Mapur, di ujung utara pulau Bangka. Tidak banyak yang berubah di Bangka. Dari udara, kolam-kolam gersang bekas tanah penambangan timah tampak di mana-mana. Di Mapur sendiri, yang menjadi salah satu pusat pertambangan timah, dan yang terbaru adalah perkebunan sawit, populasi penduduk bertambah pesat. Pekerja pendatang dari Jawa, Lampung, Palembang, dan sekitarnya, membangun rumah-rumah sederhana di sepanjang jalan masuk ke desa Mapur. Ekses dari perubahan ini tidak saja positif, karena semakin hari trend kriminalitas pun bertambah. Mulai dari kejahatan kecil seperti maling, sampai dengan perampokan serius dengan senjata api, yang melibatkan pendatang. Konon, banyak geng kriminal dari Sumatera Selatan atau Palembang yang menyeberang mencari mangsa.
Hidup di Mapur Semahal Swedia
Sejak beralih profesi dari jurnalis ke wiraswasta, aku dipaksa makin cermat berhitung soal ekonomi. Maklum, sebagai entreprenur di negeri semacam Swedia, semua mesti dikerjakan sendiri dan tidak hanya soal berapa laba masuk kantong. Swedia adalah satu dari negeri dengan pajak termahal di dunia. Pajak pendapatan bisa mencapai 60 persen dan semua konsumsi, kecuali buku dan rumah sakit, dikenakan 25 persen. Soal pajak ini, tak banyak yang bisa kita protes, karena negara dengan sistem jaminan sosial dikelola pemerintah, maka pajak adalah baterai penggerak semua institusinya.
Nah, jika dibanding-banding, ternyata biaya hidup di Mapur atau Jakarta, sama mahalnya dengan hidup di Swedia. Di Mapur, ikan tenggiri harganya Rp50-60 ribu perkilo, daging (babi atau sapi) perkilo sama juga sekitar 60-an ribu. Padahal, sekitar 7 km dari rumah orang tua kami, laut menghampar. Bedanya dengan di Swedia, apa-apa di sini mesti ditambah 25% pajak, sementara di Indonesia, semua bisa masuk kantong sendiri. Aku merasakan, ongkos hidup di Mapur, luar biasa besarnya. Uang sudah seperti hasil nyetak sendiri. Paling tidak seratus ribu untuk belanja makan perhari untuk sekeluarga. Ini belum ongkos-ongkos lainnya. Misalnya, kalau ada keperluan mendadak ke kota. Tidak ada bus yang beroperasi setelah tengah hari. Untuk mencarter mobil pribadi, paling tidak Rp200-300 ribu. Jangan tanya soal listrik, sejak saya lahir, kami harus mandiri dengan lampu petromak dan diesel sendiri. Sedikit kemajuan sekarang, tiang listrik sudah berdiri di sepanjang jalan desa, tapi tidak ada yang tahu kapan bakal menyala.
Aku membayangkan betapa beratnya hidup penduduk di kampung kecil, yang dulu kaya dan terkenal dengan lada putih dan jeruknya. Kini hampir semua tanah tergerus untuk penambangan timah. Perkebunan sawit dalam tempo tak lama juga bakal mengeringkan kesuburan tanah di sana, Hampir tak ada lagi lahan bagus untuk perkebunan. Banyak keresahan yang terungkap oleh penduduk asli Mapur mengenai masa depan mereka. Ketika tanah tak lagi subur, maka harapan hidup pun suram. Dan yang nelangsa, tidak ada satu pun agenda jelas pemerintahan yang bisa (dan bekerja untuk) memandu rakyat seperti di desa-desa ini. Rakyat ya harus survive sesuai kemampuannya.
Di perkebunan sawit, pekerjanya mayoritas pendatang. Upah mereka pun terbilang cuma pas untuk makan perhari. Setelah dipotong sana-sini, yang dibawa pulang tinggal Rp40 ribu perhari. Di Swedia, upah bersih rata-rata per jam sekitar Rp120 ribu. Itu upah untuk pekerja rendahan. Jauh jika membandingkan soal income ini. Tapi soal mahalnya barang-barang, ternyata nyaris sama.
Sebelum mengakhiri perjalanan mudik, aku menyempatkan diri menginap 2 malam lagi di Jakarta. Kali ini, kusempatkan untuk melihat pusat bisnis di Tanah Abang, yang ternyata sudah jauh modern dari ingatanku dulu. Pusat grosir Tanah Abang kini besar, bersih dan nyaman. Bahkan jauh lebih nyaman dari Pasar Pagi Mangga Dua yang berjubel dan sempit. Di pasar ini, aku melihat-lihat celah untuk mengekspor tekstil.
Hari terakhir, kuhabiskan dengan bertemu kawan-kawan jurnalis, sambil berbagi cerita. Kami bertemu di areal jantung Jakarta, Senayan City. Aku ibarat orang dusun yang terpana melihat berbagai simbol modernisasi dan teknologi yang mewabah di Indonesia. Kawan-kawanku, paling tidak memegang dua, bahkan 3 telpon genggam dalam kesehariannya. Alat komunikasi Blackberry, merupakan simbol status bagi pemiliknya. Konon, Blackberry sudah mirip kacang goreng di kota-kota besar Indonesia. Mobil-mobil mewah berseliweran, mal-mal selalu terlihat padat. Bahkan di resto-resto mahal—yang kebetulan saya hampiri karena ditraktir—pun tak mudah mencari meja kosong. Hebat! Krisis seakan tak menjangkau Jakarta. Dalam hati kubertanya, apakah ini hasil kehebatan program ekonomi pemerintah atau daya survival rakyat yang memang luar-biasa?
Beda dengan dampak krisis ekonomi berkepanjangan di belahan bumi Eropa. Tiap hari, kami disuguhi berita keprihatinan, berapa banyak tenaga kerja yang terancam ter-PHK. Berapa banyak usaha yang bangkrut dan budget pemerintah yang tak terpenuhi. Bahkan kini, Volvo yang menjadi simbol kebanggaan rakyat Swedia tergadaikan ke Geely Automobile, perusahaan mobil Cina, setelah pemerintah Swedia menyatakan tidak sanggup mengambil-alih perusahaan mobil itu dari Ford.
Event natal dan tahun baru yang biasanya mampu menghidupkan ekonomi di sektor perdagangan, bisa terbilang suram. Kami yang berada di sektor riil dan usaha kecil, merasakan, christmas sale kali ini terburuk dari tahun-tahun sebelumnya. Meski banyak pakar memprediksi krisis segera berakhir di Eropa, kondisi lapangan menyiratkan krisis masih berkepanjangan.
Budaya Antri
Blackberry di mana-mana
No comments:
Post a Comment