Kalau ada teladan bagaimana menjadi teman yang setia, maka Andrianto Soekarnen lah orangnya. Ia begitu biasa dalam berkawan, tapi juga begitu setia. Begitu biasa, karena tak perlu energi banyak untuk berhubungan dengannya. Tak perlu memuji, tak perlu berbaik-baik, tak perlu menraktir makan, hanya ngobrol saja. Hampir tiap kesempatan aku menegur entah lewat SMS, email, yahoo messenger, dan belakangan Facebook, dia akan selalu menjawab pada kesempatan pertama. Begitu setia, karena kita akan selalu merasa, berteman dengan Andri, maka ia akan selalu ada di saat kita membutuhkan.
Aku berkenalan pertama kali dengan Andri, lelaki asal Bandung ini, tentu saja di kantor Majalah FORUM Keadilan, saat ia direkrut reporter tahun 1999, junior 2 angkatan di bawahku. Sosoknya kecil, kulitnya agak gosong, kesannya imut-imut dan alim. Meski sekali-kali, dia sudah mulai berani meledek Irawati, teman sekantor kami yang juga lucu. Andri gampang dikenali dan mudah disenangi sesama karyawan di kantor. Orangnya well-organized, teliti, rajin, dan ia juga fasih berbahasa Inggris dan menguasai bahasa Perancis. Dua bahasa ini tentu saja jadi andalannya. Tak heran, banyak dari kami yang senang mengajak Andri mewawancarai tokoh-tokoh, yang kadang membutuhkan kemahiran bahasa Inggris. Sejak awal, Andri sudah kelihatan berminat dalam isu-isu ekonomi, tak heran setelah sekian waktu di Forum, lalu ke Trust, ia akhirnya dipercaya menjadi Managing Director atau Pemred-nya BusinessWeeks.
Andri kesannya serius, tapi sense of humor nya juga tinggi. Salah satu dari sedikit teman yang tetap berhubungan baik, sekali pun kami sudah terpisah jauh dan punya kesibukan berbeda. Teman yang baik, seperti Andri, punya karakter yang beda dengan teman-teman yang biasanya. Aku ingat, satu kurun waktu, aku mendapatkan kiriman surat dari beberapa instansi, yang masih saja dialamatkan ke kantor Forum. Andri mengabarkan pos-posku dan setelah mendapat ijinku, ia berani membukanya dan mengabarkan isinya. Tapi teman model lain—setelah bertahun-tahun—kami ketemu di Facebook, ia bercerita bahwa aku rutin mendapat kiriman info rekening dari sebuah bank. ”Ternyata tabungan kamu banyak yah..” Kok kamu tahu, tanyaku? Ya.. kan bisa diliat dari pos kamu yang jatuh di kantor, katanya tanpa merasa bersalah sedikitpun, karena telah membuka surat-surat bukan untuknya.
Kesetiaan Andri dalam berteman, terbukti ketika puluhan karyawan Forum, termasuk aku, dirumahkan dengan alasan kami tengah menyusun persekongkolan untuk menyingkirkan pemilik saham yang ada. Andri tidak termasuk yang dirumahkan. Tapi ia salah satu teman yang paling setia mengikuti kami yang wira-wiri mencari keadilan dalam melawan kesewenang-wenangan Pemred Forum dan pemilik saham mayoritas Rahmat Ismail. Nasib kami terkatung-katung, status tidak jelas dan gaji pun tak dibayar, sampai akhirnya kami berhasil menggaet investor baru untuk mendirikan Majalah Trust, bersama dengan sejumlah wartawan Tabloid Kontan. Selama luntang-lantung itu, Andri kerap berkumpul dengan kami, mengasah ide. Andri pun termasuk yang ikut direkrut seiring terbitnya Majalah Trust, 2002. Aku sendiri mengundurkan diri dari Trust 2003.
Meskipun aku pindah ke Swedia di tahun yang sama, hubungan dengan Andri masih seperti biasa. Kami kadang chat di yahoo atau belakangan ya di fesbuk. Ia bercerita banyak mengenai konflik di Trust yang membuat dia dkk tertendang. Tapi tak lama kemudian, Andri sudah on the track lagi dengan menjadi penanggungjawab di BusinessWeeks. Ketika ia mengundurkan diri dari BusinessWeeks, ia sempat berbagi cerita mengenai latar belakangnya. Aku mencoba mendukung keputusannya dan melontarkan ide mengenai peliang untuk kuliah lagi di luar negeri. Dan kalau ada peluang bagus di Swedia, maka aku akan membantunya sebisaku.
Terakhir bertemu dengan Andrianto, pertengahan Desember 2009, ketika aku menyempatkan pulang untuk membesuk orang tuaku yang sakit. Tiap kali aku ke Jakarta, pasti kami menyempatkan bertemu. Andri mengorganisir teman-teman yang ingin ketemu dan kita ngobrol-ngobrol. Masih ingat ketika Aku, Dayat, Andri dan Sukis, menikmati nasi goreng, di malam pertemuan itu di sekitaran Jl. Jaksa.
Terakhir bertemu, kelihatan bahwa Andri sudah semakin matang, jaringan pertemanan dan relasinya bertambah luas. Jaringan pertemanan karena pekerjaannya sebagai wartawan dan jaringan kampusnya sebagai alumni ITB, membuat Andri sibuk dengan banyak kegiatan. Ia, dalam beberapa hal, tampak seperti pulang kandang ke Bandung (ITB). Ia bercerita bagaimana mereka merintis jaringan untuk mencari bakat mahasiswa berprestasi dan pemberian beasiswa kepada pelajar2 berpotensi ini. Andri tidak saja pintar melobi dan membuat jaringan, tapi potensinya menjadi motivator makin lama makin kelihatan. Terakhir, ia juga bercerita kalau ia memegang Majalah Venue. Baru tahu belakangan, ia lagi-lagi mengundurkan diri. Rupanya, Andri mulai merasa kondisi badannya yang tidak fit.
Di info profilnya di Facebook, Andri meenulis bahwa sekarang ia menjadi Managing Partner di QB Leadership Center. Ditilik dari namanya, nampaknya tempat baru ini menjadi tempat ideal bagi Andri yang memang senang memotivasi dan menginspirasi orang banyak. Aku akan mengikuti perjalanan Andri di depan, dengan harapan-harapan bagus. Bukan hanya untuk dia, tapi juga orang banyak yang mendapat positive influence nya.
Andri cukup lama melajang. Banyak kesempatan, kerap aku meledek mengenai siapa gadis yang diincarnya. Biasanya ia hanya menjawab dengan senyum masem-masem. Seiring dengan—aku kira—kesibukannya, aku mulai jarang chat dengan Andri. Aku lebih banyak mengikuti perkembangannya dari postingan-postingannya di Facebook, termasuk foto-foto berbagai kegiatan yang diikutinya. Terakhir, ada kabar gembira yang aku baca—meski belum sempat kukonfirmasi—yaitu statusnya yang berubah dari single ke in relationship. Tentu saja dengan harapan, ia benar-benar menemukan jodohnya.
Di wallnya di Facebook juga, aku mendapati kecemasan mengenai kondisinya yang tidak begitu baik, demam tinggi, dll. Aku mencoba mengontaknya beberapa kali di wall dan di inbox, tanpa mendapatkan respon. Ini aneh menurutku.
Aku mencoba mengubungi teman-teman yang aku kira tahu dan punya kontak dengan Andri. Aku chat dengan Dayat (Ilalang Ranukumbolo), tapi ia mengaku tak mendengar apa-apa. Lalu aku chat lagi dengan Akuat, mendapat penjelasan yang sama. Akuat menegaskan, ia masih mendapat jawaban ketika ia mengabarkan kematian seorang teman. ”Ah.. mungkin dia sibuk pacaran Sen,” begitu Akuat membuat kesimpulan. Aku tentu saja tak sepakat dengan Akuat, karena aku yakin, meski pacaran, Andri pasti masih bisa menyempatkan diri membalas pesan-pesanku. Kutelpon hp-nya, tetap saja tidak ada yang mengangkat.
Terakhir, setengah putus asa, aku tulis lagi di wall-nya untuk menanyakan kabar dan bilang ”I’m a bit worry about you.” Pesanku tak dijawab oleh Andri, tapi seorang teman baiknya Adhi Rachdian yang menjawab bahwa Andri dalam kondisi tidak memungkinkan untuk menjawab atau memakai berbagai peralatan komunikasi itu. ”Besuklah,” tambah Adhi. Ada kecemasan di pesan itu, aku pun mulai menelusuri berbagai pesan2 di wall Andri yang mendoakan dirinya. Sampai akhirnya kutemukan pesan salah satu temannya yang menyebut Andri menderita Lumpuh Layu atau Guillain Barre Syndrome (GBS). Rupanya sudah sejak usai lebaran, kondisi Andri memburuk.
Aku pun langsung mengabarkan teman-teman eks Forum dan Trust lewat imbox. Lalu mencari-cari nama adik perempuan Andri (Mbak Wuri) yang bisa dikontak di Facebook, begitu juga dengan kontak dengan temannya Adhi. Terima kasih kepada teknologi, respon teman-teman bertubi-tubi. Kebanyakan menyatakan tidak tahu menahu kalau Andri sakit. Yus Ariyanto bilang dia ketemu Andri di bulan Ramadhan dan dia sudah mulai pulih. Teman-teman pun bergerak cepat dan segera membesuk ke RSHS, Bandung. Fenty, Bunug, Mbak Atiek, Irawati dan Winu, menjadi pembesuk gelombang pertama, kemudian disusul Akuat. Ah… aku bisa merasakan bagaimana gembiranya Andri dijambangi kawan-kawan ini.
Aku yakin Andri sangat menghargai kedatangan teman-teman dan menambah semangatnya untuk kembali pulih. Aku juga yakin, Andri adalah fighter sejati. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan untuk kebaikan orang banyak. Andri tidak akan menyerah. Mudah-mudahan, tidak lama lagi, Andri akan aktif lagi dengan kampanye-kampanye barunya untuk anak-anak berprestasi tapi kurang mampu. Untuk kecintaannya pada potensi pariwisata Indonesia dan untuk semua niat baiknya sebagai motivator.
Aku sendiri menyayangi Andri seperti adikku sendiri, meskipun belakangan dia lebih suka memanggilku bu sensen, begitu juga dengan Ibu Atiek dan Ibu Ira, mungkin dia menganggap kami sudah tua-tua. Tapi aneh, kok Mbak Nining ya.. , begitu seingatku dia menyapa Nining yang kini bermukim di Inggris. Kami ini biasanya disebut sebagai kelompok Gerwani di Majalah Forum dulu. Masih ingat, Andri, aku, Ira dan Mbak Atiek, punya meja di satu sudut yang sama, dan hampir tiap saat kami bercengkrama.
Pesanku untuk Andri hanya satu, pulihkan dirimu! Desember nanti, tepat setahun sejak pertemuan kita terakhir, kita akan ketemu lagi. Ke Bandung pun akan kudatangi. Kalau ada permintaan membawa bule cantik, pun akan kuusahakan. Sampai ketemu nanti!
Sensen
No comments:
Post a Comment