Tuesday, March 1, 2011

Linn and Things

Pagi tadi, Linn, 6 tahun, berangkat sekolah dengan merengut setengah menangis. Sebelum ia menutup pintu depan dan berlari menyusul papa yang menunggu di mobil, kutanya apa dia marah? ”Jag är ledsen,” katanya. Aku sedih, ucapnya.

Aku tentu saja tahu apa sebabnya. Linn, gadis cilik itu, merasa dipaksa memakai celana panjang warna kuning kakhi—yang menurutnya jelek banget warnanya. Sudah beberapa kali dia menolak memakai celana itu. Sampai hari ini, dengan sedikit otoriter dan memaksa, kupakaikan juga ke dia, dengan alasan gak ada celana lain yang bersih. Ia pun tersungut-sungut. ”Hon tvingade mig (dia memaksaku),” komplainnya ke Papa.

Ok.. keliatannya gak bijak memaksa anak-anak untuk mengikuti kita. Tapi aku tahu Linn. Banyak yang dia tak suka. Gaun-gaun cantik, dia tidak suka. Dia bilang, kayak orang goblok, kalau pakai gaun ala putri-putri. Itu nggak aku paksakan. Tapi kadang ketidaksukaannya dalam beberapa hal, justru berubah jadi cinta dalam sehari.

Mengawali musim dingin kemarin, aku belikan dia jaket cewek dengan warna pink menyala. Modelnya manis sekali. Pertama kali aku perliatkan dan meminta dia memakainya, dia selalu menolak, dengan alasan tadi, jelek. Setelah beberapa kali, aku akhirnya menyerah. Kubiarkan jaket itu bergantung saja. Selama ini, aku memang biasa membeli jaket biasa saja yang netral warnanya. Jadi, kalau sudah tidak bisa dipakai lagi oleh Linn, Robert bisa menggunakannya. Bagus untuk pertimbangan menghemat. Satu kesempatan, kita harus pergi ke satu tempat dan jaket yang biasa dipakainya ke sekolah ternyata kotor. Terpaksa deh, ia memakai si jaket pink. And she loves it ever since. Sekarang, kalau nyari jaket tersebut, dia selalu tanya, mana jaket bagusnya.

Begitu juga ketika aku belikan topi untuk musim gugur kemarin. Topi ala penunggang kuda, yang lagi ngetrend di sini, warnanya hijau tua kotak-kotak dan ada garis-garis warna perak. Pertama aku tunjukkan topi itu, dia bilang jeleknya setengah mati dan gak bakal memakainya. Sama seperti si jaket, aku biarkan saja tergeletak di antara topi-topi lain. Baru minggu lalu, ketika musim semi tiba, dia tidak punya alternatif. Topi winter sudah gak enak dipakai, sementara mau pake topi caps biasa, masih agak dingin. Akhirnya, terpaksa juga dia coba topi itu, setelah aku bujuk berkali-kali. Alhasil.. tiba-tiba dia berubah pikiran. Semua orang bilang topinya bagus.

Mudah-mudahan, pulang sekolah hari ini, dia gak komplain lagi soal celana panjang kuning kakhi itu.

Kalau soal gaun, aku memang gak mau memaksa dia. Mungkin nanti ada saatnya, dia jadi suka dengan gaun-gaun cantik hadiah dari banyak sepupunya di Indonesia.

No comments:

Post a Comment