Ketika kami sedang sarapan pagi di kapal—rumah musim panas kami--di Grisslehamn, salah satu kota yang kerap kami singgahi, suamiku tiba-tiba ingat dan nyelutuk. Oh.. iya ya.. Ok. Dan kami pun meneruskan sarapan. Anak-anak sempat bertanya apa artinya? Setelah mengerti, mereka bilang,”Oh, ternyata berbarengan dengan paman Royne ulang tahun ya..,” kata Linn, ingat bahwa sorenya kami akan mengunjungi Royne yang berulang tahun ke-50.
Kami termasuk pasangan yang tidak pernah formal merayakan moment-moment khusus. Ulang tahun biasanya kami rayakan karena anggota keluarga yang ingin bersilaturahmi, atau kami yang kangen berkumpul dengan teman dan keluarga dekat. Tak ada kado-kado istimewa antar kami, paling juga tanya, apa kamu perlu dibelikan sesuatu; baju, sandal, kaos kaki—biasanya barang-barang yang memang dipakai sehari-hari.
Selebihnya, kami rayakan komitmen hidup bersama ini sehari-hari. Dengan dua anak yang masih kecil dan kami berdua bekerja sebagai entreprenur dengan bisnis yang berbeda, adalah kepuasan besar untuk bisa mengakhiri hari dengan lancar. Dan adalah sebuah celebration, ketika kami bisa menikmati secangkir kopi malam hari dan duduk nyaman sebentar di depan tv.
Perayaan atas sebuah komitmen dalam keluarga juga bisa didapat dari hal-hal kecil. Pengertian akan tanggung jawab, kemauan saling melengkapi dan mengisi, adalah sebuah perayaan yang paling aktual dalam hubungan dua orang yang membentuk keluarga. Karena tanpa faktor-faktor itu, harmoni dalam hubungan tak kan pernah ada. Dan aku merasa hadiah terbesar yang indah adalah sejauh ini kami mampu menjaga nilai-nilai ini dalam keluarga. Saling melengkapi dan mengisi.
Semula aku agak heran. Seorang ibu guru di daycare sementara, tempat Robert mengisi harinya selama 4 minggu--ketika daycare kami tutup untuk libur musim panas—cenderung sangat ramah, murah senyum dan friendly sekali, setiap aku mengantar Robert pagi-pagi. Dalam hati, aku pikir, ini tidak terlalu biasa. Apalagi, kami hanya berhubungan sebulan dalam setahun. Dan ini adalah kali kedua kami bertemu.
Keherananku terjawab, satu hari. Suamiku yang biasanya menjemput anak-anak sore hari, bilang bahwa ada salam dari froken (guru) nya Robert dan bilang have a nice weekend. Lo.. kenapa, kok tumben? tanyaku. Lalu, suamiku menjelaskan bahwa si froken sangat senang melihat keluarga kami yang dinilainya harmonis dan well organized kind of family. Aku mengantar pagi hari, suami menjemput sore hari.
Selain itu, kami memang termasuk detail dan informatif. Hari pertama mengantar anak-anak ke tempat baru, aku sudah menyiapkan sehelai kertas berisi jadual mereka selama di tempat baru, kapan mereka libur, dari mana sekolah asal mereka, siapa orang tuanya dan tentu saja sejumlah nomor telepon yang bisa dihubungi kalau perlu. Begitu juga soal peralatan yang dibawa: baju cadangan, handuk, botol minuman, you name it.
Simpelnya, aku ingin anak-anak merasa betah di tempat baru dan para frokennya pun dimudahkan pekerjaannya. Jadi salam dari froken Robert kali ini aku anggap sebagai compliment dan itu adalah pengakuan dan celebration bagi komitmen kami.
Dalam setiap hubungan, tentu saja ada saja konflik-konflik kecil yang terjadi. Tapi tidak berarti kadar cinta langsung menurun atau pertanda awal sebuah kehancuran. Karena tak jarang konflik justru menghasilkan pengertian-pengertian baru. Konflik atau pertengkaran-pertengkaran kecil bisa jadi lahir karena kelelahan, kejenuhan dan karena kebutuhan untuk melepaskan diri dari situasi rutin.
Sebagai pasangan, dalam hal ini, kita harus jeli melihat gejala-gejala itu dan membantu mengatasinya. Satu kelegaan luar biasa, karena suamiku termasuk yang jeli melihat gejala ini, dan aku juga termasuk yang bersedia melengkapi. Dengan sense of humor yang besar—terutama papanya anak-anak-- kami sering tertawa dalam banyak kesempatan.
Suatu kebahagiaan juga bahwa keluarga ini kami bangun bersama-sama, dan tak ada yang merasa lebih dari yang lainnya. Bahagia juga bahwa sejauh ini kami bisa mendidik anak-anak sesuai harapan kami dan mereka. Hidup sederhana-sederhana saja.
Sebuah kebahagiaan luar biasa ketika kami ingin bisa menghabiskan sebanyak-banyaknya waktu bersama. Habis kerja, pulang ke rumah dan mengakhiri hari bersama. Begitu juga ketika hari senggang, kami juga memilih menikmati waktu bersama. Kami berlayar ke mana-mana, menjauh dari rutinitas sehari-hari. Di tempat lain, terpencil, di mana kami hanya menikmati suara-suara orang-orang terkasih dan suara alam. Tanpa ingin bermimpi tinggal di kemewahan kota besar dan hotel berbintang. Sebuah kebahagiaan ketika anak-anak sangat bersahabat dengan alam.
Tak tahu sampai kapan harmoni dan kebersamaan ini dapat kami jalani. Yang pasti, sejauh ini, hidup kami bahagia-bahagia saja.
No comments:
Post a Comment