Undangan itu tentu saja aku terima dengan antusias. Maklum, selama itu, jarang ada kesempatan wartawan (Indonesia) bisa ketemu Hasan Tiro. Dia ibarat tokoh misterius. Namanya berkibar-kibar dalam diplomasi GAM, tapi jarang terlihat ia tampil di pemberitaan koran, pun TV.
Tadinya, pertemuan dirancang untuk Sabtu. Tapi, aku dan keluarga sudah terlanjur punya acara. Akhirnya, kami sepakat untuk bertandang ke rumah Wali Nanggroe itu hari Minggu, 11 Desember. Aku datang sekeluarga ke apartemen Tiro yang sekaligus menjadi markas GAM. Di daerah Alby, pinggiran Stockholm.
Aku sengaja tidak menyiapkan materi wawancara ketika itu, meskipun ternyata mereka siap. Maksudku hanya ingin berkenalan dulu satu sama lain. Makanya, aku pun datang dengan suami dan dua anakku yang masih balita itu.
Satu masalah yang mengganjal ketika aku harus datang kesana. Orang GAM, dalam berbagai kesempatan, selalu menyebut Hasan Tiro sebagai Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe. Di pemberitaan di koran-koran asing pun selalu disebut Prins, pangeran, atau raja atau Sultan. Aduh.... aje gile..., aku kayak mengalami jaman kolonial kerajaan di masa lampau.
Akhirnya setalah diskusi dengan suamiku, aku bilang aduh... mungkin aku panggil Ayahanda atau Pak Wali, atau apa ya...? Diemail kepada staf Tiro aku memanggilnya Ayahanda. Suamiku sih cuek, dia panggil Tiro saja orang tua itu. Maklum orang Swedia, semua dipanggil nama. Nenek sendiri pun dipanggil nama...
Nah, Minggu siang, berkunjunglah kami ke sana bertemua Wali Nanggroe. Di sana, ternyata berkumpul sejumlah petinggi GAM, termasuk peneken MoU dengan Indonesia, Malik Mahmud. Aku sempet kikuk.. aduh, harus dipanggil apa orang tua ini? Aku putuskan, memanggil Pak Wali... kemudian dalam dialog jam berikutnya panggilannya menjadi Teungku... lalu Teungku Wali. Soal bahasa, jangan ditanya. Kami memakai bahasa gado-gado. Inggris, Swedia dan sedikit bahasa Indonesia...., bahasa melayu bagi orang GAM.
Meskipun perjanjian damai antara GAM dan Indonesia sudah diteken, masih terasa sekali antipati aktivis GAM terhadap hal-hal yang berbau Indonesia, apalagi Jawa—yang selalu disebut sebagai kerajaan majapahit. GAM terkenal alergi dengan wartawan dari Indonesia (baca: jawa). Aku sendiri menduga, mereka mau menerimaku di sana, karena namaku cina dan kawin dengan orang swedia.
Kesan pertama bertemu Teungku cukup mengesankan. Seorang gentleman tua yang murah senyum dan santun. Anggukan kepala dan kalimat thank you, seakan tak habis dari mulutnya. Meski kalimat-kalimatnya tak lagi runut dan lancar karena terserang dua kali stroke, terkesan ingatannya cukup tajam. Dan beliau ternyata penyayang anak-anak. Sekali matanya tertuju pada Linn dan Robert (masih bayi), senyum dan tangannya langsung berayun ingin merangkul. Jadilah Robert Mang digendong Hasan Tiro.
Suamiku bilang, untung MoU damai antara GAM dan Indonesia sudah diteken. Kalau tidak, bisa-bisa Robert gak bisa pulang Jakarta karena dikira punya koneksi sama "teroris".
Hasan Tiro meninggal di Banda Aceh, 3 Juni, sehari setelah pemerintah Indonesia secara resmi mengabulkan permintaannya untuk mendapatkan kembali kewarganegaraan Indonesia di usia 84 tahun.
Selamat jalan Teungku, semoga damai langkahmu dan beristirahatlah dengan tenang di haribaan ibu pertiwi bumi Aceh. Semoga keberadaan Teungku yang abadi di Serambi Mekkah membawa kedamaian bagi rakyat di sana.
Hasan Tiro and Robert
No comments:
Post a Comment