Kebetulan. Kadang, banyak jenis kebetulan-kebetulan yang membuatku merenung. Adakah sesuatu dibalik kebetulan itu.
Rabu kemarin (2 Maret 2011), misalnya. Aku tengah berjalan kaki menuju tempat kerja suamiku. Sepulang bertemu dengan orang di Departemen Tenaga Kerja (Arbetsförmedlingen), aku langsung ke tempat suamiku, untuk menjemput anak-anak yang kutinggal di sana. Sesuai janji dengan mereka, kami akan pergi ke Mc Donald yang tak jauh dari situ.
Di tengah perjalanan, persis depan sebuah sekolah, entah kenapa, aku tiba-tiba teringat temanku Liping, perempuan Cina yang baru 2-3 tahun ini bermukim di Swedia. Liping selain kukenal di sekolah bahasa, juga kerap datang mengunjungiku di butik. Dia ingin berlatih bahasa Swedia.
Ketika itu, terpikir olehku, mungkin Liping dan keluarganya sudah kembali ke apartemen mereka saat itu. Karena aku tahu, sejak 2 minggu terakhir, mereka terpaksa pindah ke apartemen sementara, karena lantai apartemen mereka sedang direnovasi. Aku sendiri, pernah mengunjungi mereka di apartemen sementaranya, yang berapa agak jauh dari pusat kota.
Nah, karena ingatan itu, aku tiba-tiba berhenti di seberang sekolah tadi dan mengambil handphone. Aku ingin menelepon dia untuk bertanya kabar. Bunyi dering singkat saja, dan aku dengar dia berteriak, "Aku liat kamu.. aku liat kamu," dalam bahasa Swedia. Aku kebingungan, karena tidak mengerti maksudnya. Maklum, bahasa Swedia dia, tak lebih bagus dari bahasaku. Lalu, sambil bertanya balik, aku pun meneruskan langkahku.
Setelah beberapa kali bolak-balik mendengarkan ocehan dia, baru aku mengerti bahwa ketika aku berhenti di seberang sekolah dan mulai bertelepon, dia sedang mengamatiku dari jendela dapur sebuah apartemen, di sisi jalanku. Sayangnya, dia tidak bisa membuka jendela kaca itu untuk berteriak atau melambaikan tangan.
Aneh? Bagiku, aneh sekali... karena bagaimana mungkin, mereka tiba-tiba menempati sebuah apartemen di sisi jalan itu. Sementara aku tahu, apartemen sementara mereka ada sekitar 15 menit dari situ, dan apartemen mereka yang sedang direnovasipun butuh beberapa jarak dari situ. Dan yang lebih anehnya lagi, kenapa aku tiba-tiba berpikir tentang dia dan meneleponnya.
No comments:
Post a Comment