Thursday, March 3, 2011

Inmemoriam seorang Kawan

Dear Kawans,
Siang ini, ketika aku selesai berberes di dapur, iseng, aku mengecek HP, siapa tahu ada missed calls atau SMS. Sejak tinggal di Swedia, jarang sekali aku peduli dengan HP, karena memang gak banyak yang menelepon. Paling keponakan kirim SMS dari Indonesia.

Tapi siang ini, aku disentakkan oleh 2 SMS, satu dari Fenty dan satu SMS lagi belum aku kenali no. pengirimnya (any way, thanks for both of you), yang mengabarkan bahwa Bang ABB sudah meninggalkan kita. Aku termenung sekian menit. Menit berikutnya, aku bercerita kepada suamiku tentang si Abang. Ini kebiasaanku yang baru. Mengingat Johan, suamiku, tak tahu menahu siapa yang kumaksud. Maka, seperti halnya ketika mendengar kabar Munir meninggal, kabar soal Bang ABB pun membuka memoriku tentang dia. Lalu, keluarlah semua kenangan berkesan saat bekerja dan berkawan dengan Agus Butar-Butar (ABB) selama kami bekerja di Majalah Forum Keadilan.

Akh.. tanpa disadari, sudah lama sekali aku tak bersua dengan ABB. Aku mencoba mengingat-ngingat kapan terakhir bertemu dengannya. Tapi aku sudah lupa. Mungkin sudah lebih 5 atau 6 tahun. Terakhir yang kuingat, dia nonaktif dari Sinar Pagi. Oya, dulu, kami masih sempat menikmati mobil baru yang dia terima ketika bergabung dengan SP.

Banyak kenangan berkesan saat-saat di FORUM dan bekerja dengan ABB. Dia sosok yang mewakili banyak sisi; teman kerja, abang, guru, dan pelindung sekaligus pengayom. Meskipun badannya besar, suaranya bergemuruh, tapi tak sekalipun aku menemukan kemarahan yang meluap dari si Abang. Tak terdengar sumpah serapah. Meskipun, dia orang Batak, Bung! ABB sangat pintar menempatkan dirinya dalam berbagai suasana.
Tentara dan Polisi, adalah dua institusi yang paling dipahami ABB. Aku belum pernah menemukan orang lain yang kepandaiannya melebihi ABB dalam berkomunikasi, bersosialisasi sekaligus melobi tentara maupun polisi. Dari jenderal bintang 4 sampai dengan kolonel dan prajurit, dia tahu bagaimana mengambil hati mereka. Kalau sebagai jurnalis, kami butuh melobi tentara atau polisi--dari pangkat tertinggi sampai kopral--ajaklah ABB, semua urusan bakal jadi lebih mudah. Apalagi ABB adalah fotografer handal.

Tahun 1996, kami berdua ditugaskan untuk meliput latihan gabungan ABRI dari semua Angkatan di Kepulauan Natuna, pulau terjauh Indonesia yang terletak di Laut Cina Selatan antara Semenanjung Malaysia, Borneo, Vietnam, dan Kamboja. Seminggu di sana, di antara para tentara, dengan kondisi seolah "dalam peperangan", medan yang berat, menjadi relatif ringan bersama ABB. Bahkan ada saat-saat fun, ketika kami menyewa motor pergi berkeliling kampung dan pulang ke camp, dengan keranjang besar penuh durian.

ABB suka sekali menikmati makanan. Apa saja, yang berlemak, yang pedas, yang gurih. Kalau Anda ingin makan enak, tanyalah ABB, kemana kita harus pergi. Salah satu restoran padang favorit ABB dan sejumlah fotografer lain terletak di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Lalu, kami juga beberapa kali makan ikan bakar di Muara Angke. Kamping dengan ABB sebagai komandan, adalah kenangan indah yang tak terlupakan.

Aku yakin banyak sekali kenangan berkesan bersama ABB yang juga dikenang kawan-kawan lain. Kini, saat mendengar kabar kepergiannya, aku tak kuat menahan air mata. Semoga Bang ABB diterima di sisi Nya, dilapangkan jalannya. Buat keluarga yang ditinggalkan, semoga anak-anak dan istri Abang diberi kekuatan dan keiklasan.

1 comment:

  1. membaca tulisan mbak sen. kami keluarga besar abb di medan. mengucapkan terima kasih.dan doa tulus kami semoga kel mbak dalam lindungan allah.diberi kesehatan dan dijauhkan dari segala mara bahaya.amin...ya allah. ( dari tara butar butar. 0813 772 772 82 ) di medan.

    ReplyDelete