Tuesday, March 1, 2011

When Robert is 5

Robert

He is not a super son, he is not a special one. I’m just Robert, begitu biasanya ia menjelaskan diri. Begitu juga kalau satu ketika mamanya ingin mengubah model rambutnya atau menyisirnya ala punk rock atau ala selebritis, dengan spontan ia akan menolak, dengan alasan ”Jag vill bara som Robert—aku cuma ingin seperti Robert”. Lelaki muda ini berulang tahun ke-5, Selasa, 10 Agustus.

Catatan kali ini, lebih ditujukan untuk anakku sendiri. Thanks to teknologi, mudah-mudahan, ketika ia beranjak besar dan bisa membaca, ia bisa menyimpan catatan ini sebagai kenangan. Sejak kelahirannya, Robert tak pernah merepotkan. Dia cenderung selalu menimbulkan kegembiraan untuk orang-orang di sekelilingnya. Selalu riang, easy going dan pengasih. Semakin besar, semakin keliatan sifat-sifatnya ini. Dan luar biasa besar keingin-tahuannya. Nakal? Sudah pasti juga ada tingkah polah ini, tapi biasanya kenakalannya tidak destruktive, lebih karena pengen tahu.

Ahli Memanjat

Robert terbilang cekatan dalam hal motorik atau gerak-gerik. Ketika umur 2,5 tahun, papanya sempat sport jantung karena mendapati bayi Robert persis berada di atas kepalanya di ketingian lebih dari 7 meter. Waktu itu, si papa sedang membangun atap garasi kami dan mengira bahwa Robert sedang bermain-main di halaman. Tapi rupanya si Robert pengen tahu. Ia mulai memanjati tangga yang ada di tengah garasi—yang dipakai papanya untuk naik ke atap--dan berhasil memanjat mengikuti rute atas garasi tertutup yang berhubungan dengan garasi terbuka yang sedang dibangun. Suamiku baru tersadar ketika ia mendengar suara berisik di atas kepalanya. Untung, Robert bisa ditenangkan di tempat dengan janji akan dibawakan palu.

Cacing punya bayi!

Kalau dibanding-banding, Robert lebih dekat ke mama ketimbang papa, sementara Linn justru sebaliknya. Robert cenderung penyayang dan gampang dihibur kalau lagi ngambek. Akalnya juga panjang. Satu ketika, froken (guru) nya di sekolah dibuat terperangah, ketika dia didapati sedang bermain dengan cacing dan memotongnya jadi dua bagian. Karena ketangkap mata, dia langsung bilang sama froken tadi, ”eh.. si cacing punya bayi lagi..”. Lain kesempatan, ia bercerita di waktu pengantar tidur, kalau ia ketemu banyak hugo di sekolah. Siapa Hugo? Tanya mama. Ternyata hugo adalah nama yang dia berikan untuk para lalat.

Keahlian bahasa Robert juga kadang menggelikan. Kami maklum, kalau sampai sekarang, ia masih kesulitan melafal bersih huruf R dan G. Kasihan juga dia, karena namanya Robert Mang Gustafsson. Robert jadi terdengar ryobert. Oya, nama tengah Mang, diambil dari marga Kung-Kung (kakek) Mang Fo Hian. Mungkin satu-satunya cucu papa (alm) yang menyandang nama keluarga Kung-kung, karena di Indonesia, nama berkesan cina ini dihindari untuk dipakai.

Di Swedia, nama kecil Robert adalah Roban. Sementara di rumah, papanya kalau sedikit kesal atau bercanda, menyebutnya menjadi Roberti. Cece Reni di Jakarta, sering memanggil Roberto. Satu ketika, ia bercerita bahwa di daycare, ia kadang bermain dengan lilla Maya (Maya kecil). Lalu aku tanya emangnya ada berapa Maya di situ. Ada dua, katanya: Maya kecil dan Maya besar. ”Varan Mayor—maya-maya di sekolah kami-- (ini yang bikin aku ngakak, karena dia menjadikan kata plural untuk maya-maya, jadi Mayor. Padahal biasanya, ini tidak dilakukan untuk nama orang. En bil, två bilar (satu mobil, dua mobil).

Konsentrasi Tinggi

Robert bisa terbilang kreatif. Dia selalu saja menemukan sesuatu untuk bermain atau menghabiskan waktu. Satu hal yang paling gampang dikenali adalah ketertarikannya terhadap insekt dan binatang-binatang kecil. Ia bisa bermain seharian—tanpa bosan—dengan semut-semut hitang yang punya rumah di antara kayu-kayu bakar di halaman kami. Dia terobsesi sekali untuk menemukan ratu semut dan menyatakan perang dengan mereka, dengan senjata semprotan air. Kalau mengajak Robert ke suatu tempat, biasanya kita tidak khawatir dia akan bosan. Karena Robert bisa menemukan apa saja untuk bermain.

Salah satu kegiatan paling menarik bagi Robert adalah memancing. Kadang, aku terpana-pana menyaksikan konsentrasinya berjam-jam, memasang umpan cacing dan menunggu tarikan ikan. Benar, bisa berjam-jam, sementara yang lain sibuk dengan kegiatan lain. Ia begitu antusias dan pengen tahu, ketika kami menemukan parasit cacing pita Schistocephalus solidus yang bersarang di ikan-ikan kecil, salah satunya: ikan spigg, yang sering mereka tangkap dengan jaring kecil. Pengetahuan yang kami konfirmasikan ke ahlinya—marin biolog—ini, ternyata cukup baru di kalangan orang-orang yang kamu temui, ketika berlalu lalang dengan kapal selama musim panas.

Setengah tahun lalu, aku agak pesimis dengan perkembangan keingintahuan Robert dalam hal tulis-menulis atau menggambar. Beda dengan kakak perempuannya Linn, yang sudah menunjukkan tanda-tanda sejak dini. Aku awalnya menduga Robert lebih mirip papanya yang berminat dalam urusan teknik dan keterampilan. Tapi dugaanku meleset, karena tiba-tiba saja, Robert menunjukkan kemampuan yang signifikan dalam hal menulis angka atau menulis huruf, misalnya menulis namanya sendiri. Maka, kegiatan kami menjelang tidurpun berubah. Dari yang tadinya lebih suka chit-chat mengenai kegiatan dia di daycare dan dongeng, beralih ke latihan menulis atau menggambar. Dan menggambar kapal, ikan dan pancing adalah favoritnya.

Tempat Persembunyian

Aktivitas lain yang juga menarik buat Robert adalah mencari makanan. Dan dia jago sekali menyembunyikan makanan—terutama kue dan permen—di mana-mana. Tempat favorit persembunyiannya adalah di kolong sofa di ruang TV kami. Karena ruang ini biasanya agak gelap dan jadi tempat bermain mereka, maka bisa jadi tempat ideal. Kadang dia sering kucing-kucingan dengan mamanya. Pura-pura mencari sesuatu di dekat penyimpanan makanan, ambil dan berlari secepatnya ke ruang TV dan melempar ’barang jarahannya’ ke bawah sofa. Kalau ketahuan mengambil sesuatu dan dikejar oleh mama, maka ia akan pura-pura mengangkat bahu dan membuka kedua telapak tangan, dan wajah tak bersalah, sebagai tanda ia tak melakukan apa-apa. Baru setelah aku lengah, ia akan merangkak di bawah sofa dan menikmati jarahannya.

Tak jarang, ketika waktunya aku membersihkan lantai atau menyedot debu, kutemukan makanan-makanan atau permen yang sudah mengering di kolong sofa, karena kelupaan dimakan. Beberapa kali aku menemukan permen kojek dan kepingan coklat dibawah bantal tidur kami. Setahun lalu, Robert tertidur pulas di ranjang kami, dengan permen kojek yang terkulum. Kok bisa? Iya, karena permen ini dicuri dan disembunyikannya, tentu saja setelah melalui semua rutinitas menjelang tidur: memakai pijama dan menggosok gigi.

Robert Penyayang.

Itu yang selalu ditunjukkan kepada banyak orang, terutama mama. Tapi tidak untuk cewek-cewek. Ia tidak peduli kalau semua teman cowok di daycarenya punya pacar. Robert sering bercerita kalau kalau si anu pacarnya anu, dll. Robert anti cewek. Ada satu anak perempuan yang senang bermain dengan Robert dan ingin mengundangnya main ke rumah. Tapi Robert selalu bilang tidak mau.

Robert juga perasa. Kalau mama sedih, maka Robert ikut bersedih. Seperti ketika Akung (kakek) meninggal beberapa waktu lalu. Robert banyak berada di sampingku, memeluk atau mengelus wajah dan bilang,”stackars Kung-Kung—kasihan Kung-Kung.”

Lelaki kecil ini juga sering bilang: ”mama, jag älskar dig så mycket som hela universum—aku sangat mencintamu, sebesar alam semesta” atau sejauh antara Swedia dan Indonesia. Ya.. lelaki muda ini salah satu sumber kebahagiaan di keluarga kami.

Grattis Robert Mang Gustafsson! If we could brought the whole universe together to show you our love, than we would said It’s done!
Binatang apa ini? Kami kira, semacam parasit yang hidup di dalam ikan kecil itu. 8Setelah ditanya ke ahlinya, ternyata itu memang parasit, namanya: Schistocephalus solidus. Parasit yang dibawa burung pemakan ikan.
Nature Kid. Anak alam yang tak merengek untuk beli games atau mainan mahal dan canggih lainnya.
Tidak ada mainan lain, dahan ilalang pun jadi and still coo

No comments:

Post a Comment