Macet di kawasan Puncak sih bukan berita, apalagi pas akhir pekan. Begitu kira-kira asumsi banyak orang. Dan ketika ada berita macam di www.detik.com hari ini, soal macet 13 jam, orang-orang pun paling bisa hanya menggerutu. Baca link soal macetnya di sini: http://us.detiknews.com/read/2011/03/06/063844/1585381/10/parah-13-jam-berlalu-jalur-puncak-masih-lumpuh-total
Aku sekeluarga mengalami kemacetan serupa, ketika akhir tahun 2010, kami memutuskan untuk berlibur di Puncak. Tanggal 29 Desember, dalam perjalanan ke daerah penginapan kami di kawasan Kota Bunga, kami mampir dulu di Taman Safari. Kami memulai perjalanan dari Jakarta subuh hari. Suamiku yang orang Swedia, tak habis pikir, mengapa kami begitu khawatir dengan macet sehingga harus berangkat pagi-pagi sekali.
Perkiraan kami tepat, kami keluar tol Jagorawi dalam keadaan lancar dan sampai ke Taman Safari juga dengan nyaris tanpa kendala.
Anak-anak puas menyaksikan aneka fauna dan menjelang sore, kami siap mengakhiri safari dan selanjutnya menuju ke Puncak. Waktu itu sekitar pukul 3 sore. Keluar dari Taman Safari, tidak masalah, tapi jalan kami terhenti di lokasi parkir pertokoan yang menjual jajanan "oleh-oleh", sekitar beberapa ratus meter dari persimpangan jalur utama Jakarta-Puncak. Di depan kami, antrian mobil memenuhi parkiran pusat pertokoan itu, dan juga di sepanjang badan jalan.
Semula, kami kira perhentian ini cuma sebentar. Kami mendapat informasi bahwa jalur Puncak-Jakarta sedang ditutup dan saat itu sedang dibuka satu jalur Jakarta-Puncak, sampai pukul 16.30 wib. Kami sendiri akan mengarah ke Puncak--sama dengan arah lalu lintas yang sedang berjalan, karenanya timbul pertanyaan kenapa kami harus berhenti di sini. Insting jurnalisku bekerja otomatis. Soalnya, kalau menunggu lagi, maka kami tak mungkin bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak, karena sebentar kemudian, rute akan berubah menjadi satu arah Puncak-Jakarta.
Di depan pertokoan itu ada jalan kecil di kanan jalan, yang bisa dijadikan jalan pintas atau jalan alternatif menuju ke Puncak. Tapi untuk bisa memakai jalan itu, kita dipaksa harus dibantu dan tentu saja dengan membayar jasa penunjuk jalan. "Katanya, harus bayar 50 ribu, Mbak!" seorang pengendara mobil lain, bercerita.
Seperti ceritaku tadi, insting jurnalisku bekerja cepat. Aku turun dari mobil dan berjalan maju, melihat situasi di depan. Jalan utama yang menjadi pintu masuk ke kawasan Taman Safari itu tampak lenggang. Tidak ada tanda-tanda bahwa kendaraan tidak bisa melewati jalan yang mungkin sejauh 1 km itu. Sejumlah penghalang hanya di pasang di badan jalan, persis di depan pertokoan, sehingga mobil-mobil terpaksa berhenti di situ, yang dijagai beberapa orang.
Aku mencoba bertanya ke beberapa pengendara, mengapa kita harus berhenti di sini. Semua menggelengkan kepala. Cuma, seorang supir bercerita, pasti ini akal-akalan kelompok orang setempat, polisi, dan kerja sama dengan pemilik toko. Soalnya, kalau toh, rute dijadikan satu arah, mengapa mobil diharuskan berhenti persis di depan pertokoan--seolah-olah orang dipaksa turun dan berbelanja. Padahal, jalan di depan sekitar 1 km menuju pertigaan jalan utama, kosong melompong. Dan mengapa pula, semua mobil dipaksa berhenti. Bukankah pengendara yang akan ke Puncak, mestinya bisa melaju? Seorang pemuda yang mendengar obrolan kami, ikut menimbrung. "Mau kemana, Mbak? Lewat jalan situ bisa, kalau mau ke Puncak," ujarnya sambil menunjuk jalan kecil di seberang pertokoan.
Aku melirik sebentar, dan bertanya,"kalau lewat situ harus bayar berapa memangnya? katanya harus 50 ribu. Masak harus dipajekin!" Akh.. gak gitu, katanya. Nanti saya bantu kalau mau.
Aku melirik jam tangan. Sekitar 20 menit lagi, arah jalur akan berubah dari Puncak ke Jakarta. Itu artinya, kami akan terhenti di sini, entah sampai kapan.
Aku cari akal. Aku hampiri seorang bapak, yang mirip orang kantoran atau politisi, yang berdiri di samping jalan. "Pak, kenapa kita diberhentikan di sini?" Dia menggeleng kepala. Lalu, sok yakin aku bilang," pasti ini cuma akal-akalan orang di sini saja. Semua mesti berhenti, supaya orang bisa belanja. Kalau mau jalan pintas mesti bayar. Padahal jalan di depan melompong. Lagian, kayak kami, la.. kan mau ke Puncak, masak gak bisa jalan," kataku.
Oh.. iya..ya, kata bapak tadi. Tadinya saya juga mau ke Puncak, tapi karena terhenti di sini dan sudah sore, jadi batal deh.. Coba saya telpon dulu wartawan Sonora, biar dia yang mengontak polisi, katanya. Terjadilah percakapan telepon singkat, mirip bos yang memberi perintah ke bawahannya. Aku tersenyum simpul.
Setelah ngobrol sedikit, pemuda yang menawarkan bantuan tadi, bergabung juga bersama kami. Bapak itu--seperti mungkin pekerjaan sehari-harinya--meminta agar si pemuda itu membantu aku karena akan ke Puncak dan sebentar lagi jalur itu bakal ditutup.
Bagiku tidak ada pilihan lain, selain bersiap-siap membayar beberapa puluh ribu kepada penunjuk jalan itu, ketimbang menunggu di depan pertokoan, tanpa tahu kapan jalan akan dibuka.
Apesnya, mobil kami ternyata berada cukup di tengah, sehingga butuh kerja sama dengan mobil-mobil lain untuk bisa keluar ke jalan lagi. Di situlah, peran lelaki tadi. Alhasil, last minute, kami berhasil keluar ke jalan dan langsung mengambil jalan kecil, yang ternyata hanya tak lebih dari 100 meter menuju jalan alternatif menembus ke jalan utama Puncak.
Meski harus mengorek Rp20 ribu, kesal kami terlampiaskan. Daripada menunggu dengan perut lapar dan tanpa kejelasan.
Aku membayangkan, jika aku tak bertanya sana-sini, maka kami pasti masih akan terhenti di situ dan mengikuti arus mobil-mobil lain. Berhenti tanpa tahu kenapa?
Aku percaya, situasi itu dibuat sedemikian rupa oleh oknum-oknum tertentu untuk meraup pendapatan. Pertokoan mendapatkan pembeli yang terpaksa berbelanja karena bosan menunggu dan mungkin kelaparan. Lalu, para preman yang memaksa pengendara untuk membayar uang menuju jalan pintas. Dan pak polisi, pasti tahu gelagat ini, dan hampir pasti mendapat jatahnya sendiri.
Ini trik penghidupan di Indonesia-ku.
No comments:
Post a Comment