Entah kenapa, aku begitu akrab dengan kematian dan selalu terhanyut rasa kehilangan, sekali pun mereka yang pergi tak juga kukenal baik. Setiap ada berita kematian, pikiranku bisa berhari-hari melekat kepadanya. Mencoba mengingat apa yang kukenang darinya. Di meja dapur, biasanya aku bisa bercerita panjang lebar untuk suamiku, mengenai dia yang pergi.
Musim panas tahun kemarin, kami menikmati midsummer dengan keluarga kenalan yang memiliki anak lelaki, 18 tahun. Anaknya kalem, kurus dan setelah beberapa saat, aku tahu dia mengidap leukemia. Ketika kamu berkumpul di pulau kecil milik kakek tirinya, ia baru saja pulang dari cuci darah di RS di Stockholm. Rupanya, penyakit yang baru terdeteksi itu sudah memasuki stadium lanjut. Bibirnya tampak kering dan matanya cekung, tapi ia tampak okey, tenang dan beraktifitas seperti kami yang normal. Aku ingat, kami sempat melancong keliling pulau kecil itu dan berhenti di tengah laut, dengan perahu kecil yang diawakinya. Kami menikmati hotdog di tengah ombak, dengan beer dingin.
Setelah menginap dua malam di pulau kecil itu, memasang jaring ikan dan dua kali makan malam bersama, aku terkesan dengan anak muda itu. Terkesan bagaimana dia terlihat ”tenang” menghadapi hidupnya, yang kata dokter, tak bakal bertahan lama. Rasanya, ingin kupeluk dia, merasakan detak jantungnya, menyalurkan kehangatan darahku di tangannya. Ah, aku ingin berbagi kehidupan dengannya. Tapi bagaimana bisa. Kini, aku bahkan lupa siapa namanya.
Yang kuingat adalah wajahnya yang memancarkan kehidupan. Wajahnya yang menegaskan ”go to hell” kematian. Aku ingat, aku menyiapkan penganan kecil untuk ngopi dia, aku dan suamiku, ketika dia meminta ikut kapal kami pulang ke kota. Weekend itu, dia ingin menghabiskan waktu dengan temen-temannya, katanya. Kami mengakhiri perjalanan dengan obrolan kecil, mengenai sekolah dan kegiatannya. Aku tahu, boleh jadi itu bakal menjadi obrolan kami terakhir.
Dan betul saja, musim gugur kemarin, sekitar November, aku dan suamiku membaca iklan kecil obituari, yang mengabarkan kepergian lelaki muda, yang baru 18 tahun itu. Dadaku sesak, betapa pendek waktunya.
Pertengahan Desember lalu, aku pulang mendadak ke Bangka untuk menjenguk orangtuaku yang sudah sepuh dan sakit-sakitan. Antrian check in di airport Pangkal Pinang, mempertemukan aku dengan sepupu perempuanku. Dia akan berangkat ke Jakarta untuk menjenguk istri adik lelakinya (alm), yang baru saja diketahui mengidap kanker payudara stadium lanjut. Aku terkejut, ah.. Penderita kanker yang dimaksud adalah Aso Ayun, begitu aku menyebutnya, umurnya aku taksir 50-an tahun. Aku kenal cukup baik Aso (kakak ipar) Ayun, karena sewaktu kelas I SMP, aku pernah tinggal bersama keluarga itu, selama setahun lebih. Pekerja keras, sederhana, dan harus ditinggal suami. Ya, Aso Ayun ditinggal mati sepupuku, ketika putra semata wayang mereka masih balita. Seumur hidupnya, Aso Ayun tinggal di Bangka, membesarkan putranya yang kini 20-an tahun. Saking sederhananya, Aso Ayun tak pernah ke Jakarta, meski banyak saudara yang mengundang. Baru ketika terdiagnosis kanker, Aso terbang ke Jakarta untuk berobat sampai ajalnya.
Ada penyesalan mendalam mendengar Aso Ayun meninggal, tak lama setelah aku pulang ke Swedia. Menyesal karena, aku tak disempatkan waktu membesuknya di RS Carolus. Padahal, sejak bertemu sepupuku di bandara, aku sudah menjadualkan untuk membesuk Aso. Tadinya, aku ingin berangkat bersama sepupuku yang langsung menuju ke rumah sakit. Sayang, kami berangkat dengan pesawat berbeda. Dia sampai duluan. Akhirnya, aku janji akan ke sana malamnya, dengan pikiran aku bisa minta diantar salah satu keponakan kami. Di airport, aku pun sempat menelpon keponakan tersebut dan mengutarakan niatku. Ketika itu hujan lebat dan langit gelap, pesawat kami pun tertunda sekitar sejam. Ditambah lagi, Jakarta memang tak bersahabat. Sampai di ibu kota, sore hari, waktuku habis di jalan. Masalah yang lain muncul, ketika keponakan, malam itu tiba-tiba saja harus mengantar orangtuanya ke RS bersalin. Di situ, adik si keponakan sedang berjuang melahirkan. Akhirnya hari berlalu, dan besoknya aku disibukkan dengan rencana lain yang jauh-jauh hari sudah diniatkan. Ingatanku baru kembali ke Aso Ayun, setelah mendengar kabar dari keponakan yang baru saja melahirkan, bahwa perempuan sederhana itu sudah tak kuat lagi mempertahankan hidupnya. Hatiku kembali sesak dan mataku panas.
Kematian dan menjadi tua adalah misteri. Tak ada yang tahu kapan hidup akan berakhir. Aku paham soal ini. Dua tahun lalu, aku mengunjungi tante pihak ibu, yang dulu kerap aku kunjungi waktu aku masih sekolah di Bangka. Dia tinggal sendiri di masa tuanya, dan sudah setengah pikun. Anaknya tinggal tak jauh dari situ. Tante (Thaijie Nyuk Jie) yang dulu kukenal ramah dan baik, tak ingat lagi padaku. Obrolannya pun sudah tak runut. Kuselipkan sedikit uang di tangannya, untuk membeli makanan yang dia suka. Aku merasa, dan benar saja, itu pertemuan terakhir dengannya.
Dua tahun lalu, juga pertemuan terakhirku dengan tante tertua (juga dari garis Ibu), Thaijie Nyuk Fa. Kepergian Thaijie ini tak kami duga sebelumnya. Meskipun ia lebih tua beberapa tahun dari Ibuku, kesehatannya cukup prima. Thaijie selalu rajin membantu mengemong cucu-cucunya. Kabar kepergiannya yang dikirim sepupuku dari Hongkong, menyentak sekali. Aku masih ingat pertemuan dan obrolan kami terakhir. Meski kehilangan, aku bersyukur selalu bisa mengunjunginya setiap kami pulang ke tanah air.
Dua kakak perempuanku yang tinggal di desa kami, kini mulai paham, mengapa aku selalu menyempatkan diri bertanya, siapa saja orang desa kami yang sepuh dan masih hidup atau yang sudah berpulang. Aku biasanya menyempatkan diri berkunjung ke mereka. Sekadar menyapa, menyelipkan uang jajan kecil, di sela jari-jari kurus mereka. Para sepuh di kampungku, umumnya, sederhana saja hidupnya, bahkan kekurangan. Sudah empat sesepuh yang tiada, sejak kepulanganku akhir 2007.
Kakak perempuanku juga mulai paham, mengapa aku ingin ada bungkusan makanan yang diatar ke para tetua itu, setiap kami merayakan hari jadi Ibu atau Papaku. Aku ingin, mereka juga bisa menikmati hajatan yang tak bisa mereka hadiri. Di desa kami, meski hanya pesta ulang tahun biasa, para tetangga dan sanak famili umumnya datang merayakan dengan makan bersama. Orang tuaku sendiri kini paling sepuh. Papaku 85 tahun dan Ibuku 82 tahun. Keduanya sudah sakit-sakitan. Sementara ibuku meski sehat, mulai parah pikunnya. Adalah misteri, sampai kapan mereka bisa menikmati hidup.
Bagi kami—anak-- yang tinggal berjauhan, rasanya berat setiap kali harus pulang dan kembali. Karena kami tak pernah tahu, kapan sebuah pertemuan menjadi yang terakhir. Deringan telepon dari Indonesia, buatku, selalu menakutkan. Takut ada kabar kehilangan. Karena kematian adalah misteri. Kematian adalah kehilangan yang tak kembali.
tidak di sangka bahwa di swedia yg begitu canggih teknologinya pun bisa terlambat mengetahui perkembangan kanker yg di mana kanker baru terdeteksi pada stadium lanjut.
ReplyDeleteberarti stadiun awal tidak bisa di deteksi dokter swedia,hal yg ironis.