Bukan karena kapalnya yang enggak bagus. Tapi it's a matter of choices. Kenapa memilih kapal Lagoon 500 untuk sebuah ekspedisi mengecek terumbu karang.
Sepertinya, pencetus ide itu adalah mereka yang lebih ingin memuaskan hasrat personalnya, ketimbang memikirkan tujuan riset dan pemantauan lingkungan. Tidak kaget nanti, kalau kita sering mendengar, pak menteri atau para eselon atas di departemen tersebut, jadi rajin turun atau nginap di laut, karena tiba-tiba mereka mendapat fasilitas hotel mewah mengapung yang bisa membawa mereka ke mana saja. Lagoon 500 adalah yacth, kapal layar jenis katamaran mewah, yang biasa dimiliki konglomerat kaya dunia.
The new Lagoon 500 picks up where the successful Lagoon 440 left off, blending innovation and quality in equal parts. The 500 is truly impressive. From the unique flybridge steering station to the nifty rumble seat cockpit forward to the stunning interior finished in mukali wood, the Lagoon 500 leaves an indelible impression. Designers Marc Van Peteghem and Vincent Lauriot Prevost were given a challenging assignment by the Lagoon management team: Design a catamaran for world cruising that includes just about everything you’d want or need at home. That’s right, home; the design premise of the Lagoon 500 was to make the boat as much like a house as possible—albeit a house that can sail at double-digit speeds. (Dikutip dari majalah Sailing USA, Agustus 2006)
Apakah Lagoon 500 ini bagus? Absolutely. Rasa penasaran membawaku menelusuri beberapa situs tempat berkumpulnya para pencinta kapal di Eropa. Hampir sulit mencari sisi jelek dari kapal dengan dua motor ini. Luxurius, boleh jadi kata yang bisa menggambarkan fasilitas yang dimiliki kapal sepanjang 15,5 meter, dengan 6 kabin, 5 toilet, dan kapasitas 10-12 orang ini. Satu pencinta kapal layar memberi resensi, hanya ada 2 hal yang jelek mengenai Lagoon 500, yaitu harganya yang sangat mahal dan karena bobotnya yang super ringan (10.650 kg), maka agak sulit mengerem (mengendalikan) kapal ini, jika angin kencang.
Lalu apa cocok, kapal begini untuk keperluan survey? Lagi-lagi soal pilihan prioritas. Suamiku yang familiar dengan pernak-pernik kapal dan cukup tertarik dengan berbagai teknologi kapal, spontan menyebut pilihan ini sebagai ridicolous. ”Kapal layar untuk kepentingan survey marine? Are you kidding? Saya kira itu lebih untuk kesenangan belaka!” ujarnya, tertawa. Suamiku tidak sekadar ngomong, karena selama musim panas, kami biasanya banyak menghabiskan waktu di laut, dengan kapal tua kami, yang juga bermotor dua, dengan panjang 14 m.
Kalau mau dibanding-banding, kapal jenis katamaran tentu saja lebih fleksibel dibanding dengan kapal layar biasa. Kapal ini bisa berlabuh di perairan agak dangkal, di mana tidak memungkinkan untuk kapal layar konvensional. Kapal ini juga bisa irit diesel, karena kalau cuaca bagus dan berangin, maka tak perlu menggunakan motor untuk melaju. Tapi berlayar juga memerlukan keahlian khusus. Untuk itu tentu harus ada sejumlah kru dan kapten kapal yang handal. Tapi kenapa kok yacth Lagoon 500 yang dipilih dan bukan kapal yang didesain khusus untuk reset kelautan? Kalau soal kenyamanan periset, kapal-kapal ukuran besar, biasanya sudah memiliki standar desain kabin yang tak kurang nyaman. Apalagi kalau untuk berlabuh lama di laut lepas, tentu kapal berbobot berat lebih nyaman dan tegar dihajar ombak.
Dirjen Pengawasan Kementerian KP menyatakan kelebihan Lagoon 500, salah satunya karena irit. Dia membandingkan kapal patroli jenis macan-hiu yang menghabiskan Rp40 juta, hanya untuk solar, sementara Lagoon hanya Rp2 juta, perharinya. Bandingan ini tentu saja relatif, bahkan nyaris tak masuk akal. Namanya kapal patroli, ya kerjanya berkeliling, maka tak heran jika biaya operasinya pun besar. Sementara Lagoon nantinya aku kira cuma dipakai untuk mengantar, menjadi hotel berlabuh, bagi mereka yang riset. Apakah para ahli ini tak lebih baik datang ke satu lokasi, menginap bersama penduduk lokal dan memanfaatkan transport lokal untuk keperluan risetnya. Dengan begitu, tentu mereka bisa berdialog dan mendapatkan pengetahuan komprehensif mengenai apa yang mempengaruhi satu ekosistem laut.
Biaya bahan bakar solar Rp40 juta per hari untuk kapal operasi, seperti yang dirujuk Dirjen Pengawasan Kementerian KP, terkesan berlebihan. Katakanlah kapal operasi itu menggunakan 2 motor, sama halnya dengan Lagoon, dan kapal kami. Maka, kapasitas solar di tiap tangkinya kemungkinan adalah 500 liter. Itu artinya, tiap mengisi penuh tangki solar (1000 liter x Rp4500/ltr), biayanya tidak lebih dari Rp5 juta. Dan untuk kapal kami yang berbobot 13 ton—sebagai perbandingan—memakan 4 ltr solar per hampir 2 km. Itu artinya, dengan seribu liter solar di tangki, kapal kami bisa berlayar sekitar 500 km. Tidak begitu jelas, kapal operasi macam apa yang dimaksud Pak Dirjen. Tapi biaya operasional Rp40 juta (hampir 9 ribu liter solar) per hari, agaknya tidak masuk akal.
Kalau dugaanku benar, Lagoon 500 nantinya lebih banyak dipakai sebagai basecamp untuk para periset kelautan. Semacam hotel bintang lima saja, pendeknya. Padahal esensi risetnya sendiri ada di dalam laut, yang membutuhkan berbagai peralatan dan teknologi canggih untuk mendukung akurasi hasilnya. Kalau Kementerian KP menghabiskan Rp14 miliar untuk hotel mengapung saja, berapa banyak lagi alokasi dana untuk keperluan esensial riset itu sendiri? Alat dan teknologi, dan tentu saja ahlinya. Jangan-jangan, ini lagi-lagi fenomena pejabat kita. Senangnya pada semua yang berbau artificial, yang mewah-mewah, tak peduli rakyat yang menderita karena sarana dan prasarana untuk mereka yang serba seadanya.
Andai Departemen Kelautan ini bijak, aku kira mereka akan lebih mengedepankan efisiensi dan efektifitas kerja dalam pemantauan terumbu karang. Apalagi kalau Lagoon ini dimaksudkan untuk beroperasi di seluruh perairan Indonesia. Tidak sekadar mangkal di perairan Ancol saja. Aku sulit membayangkan, kapal ini akan hilir mudik secara efektif memantau terumbu karang di ujung Sumatera, lalu berlayar ke peraian Bali-Lombok, sampai dengan Kalimantan. Kalau atas nama ngirit solar, kapal ini bergerak dengan layar dan angin, maka jarak dari pulau ke pulau ini pun bakal ditempuh berbulan-bulan. Seperti perjalanan yang biasa dilakukan para fun-adventurer eropa, yang berlayar kesana-kemari menjelajahi pulau-pulau selama musim panas. Para pelayar tentu tahu apa yang kubicarakan. Tujuan utama para pelayar bukanlah tempat, tapi lebih penjelajahan itu sendiri. Ambisi mereka menaklukkan angin dan alam. Aku pernah menyaksikan bagaimana seorang pelayar berkutat berlama-lama mencoba melabuhkan kapalnya di pelabuhan, di mana kami berlabuh. Itu hanya karena dia menunggu arah angin yang tepat. Padahal, ia bisa memakai motor kapal dan berlabuh dalam 10 menit.
Kalau saja Departemen Kelautan dengan budget Rp14 miliar itu memutuskan membeli kapal yang tidak semewah dan semahal kapal pesiar Lagoon , tapi kapal yang efektif untuk menjelajahi kepulauan kita, lalu sisanya dipakai membeli secukupnya kapal motor kecil yang didistribusikan ke berbagai daerah. Maka para kanwil Kelautan di daerah bisa bekerja efektif, tanpa menunggu datangnya Lagoon 500 dari Jakarta.
Note tambahan:
Aku baru nemu rumus menghitung perjalanan dengan kapal layar dari seorang pelayar Swedia, yang memutuskan menjual rumahnya, dan berlayar mengarungi laut Atlantik.
Dia bilang rumusnya gini:
1 jam terbang dgn pesawat = seminggu berlayar
1 jam mengendarai mobil = sehari berlayar.
No comments:
Post a Comment