Wednesday, March 2, 2011

Tentang SIM dan Menyetir

Tahukah Anda bahwa:

Orang yang tertabrak mobil dengan kecepatan 30 km/jam, sama efeknya dengan jatuh bebas dari ketinggian 3 meter, peluang hidup masih besar. Seperti terjatuh dari lantai satu bangunan.

Orang yang tertabrak mobil dengan kecepatan 50 km/jam, sama efeknya dengan jatuh bebas dari ketinggian 10 meter atau jatuh bebas dari lantai 3 sebuah gedung, peluang hidup kecil.


Bertabrakan mobil dengan kecepatan 70 km/jam, sama efeknya dengan jatuh dari lantai 6 sebuah bangunan. Tak kan selamat.

Tabrakan 2 kendaraan atau orang dengan kecepatan 90 km/jam, sama efeknya dengan jatuh bebas dari ketinggian 25 meter, atau terjatuh dari lantai 10 sebuah gedung.

Tabrakan frontal 2 kendaraan dengan kesepatan 110 km/jam, sama efeknya dengan jatuh bebas dari ketinggian 43 meter.

Seseorang hanya bisa selamat dalam sebuah kecelakaan frontal, tanpa menggunakan sabuk pengaman, hanya ketika mobil yang ditumpanginya berada dalam kecepatan 7 km/jam. Maka pakailah sabuk pengaman, jangan cuma dipakai untuk lolos dari tilangan polisi. Sebab, ketika mengemudi atau duduk di mobil yang bergerak, Anda tak sedang ingin berpetak umpet dengan polisi. Anda sedang menyelamatkan diri Anda sendiri.

Pernahkah Anda menghitung, berapa banyak waktu yang Anda hemat, dengan keputusan dahulu-mendahului mobil-mobil di depan Anda yang sedang melaju kencang? Menurut hitungan ahlinya, ketika Anda memutuskan untuk mendahului sebuah kendaraan yang melaju dengan kecepatan 90-110 km/jam, maka waktu yang bisa Anda `simpan` hanya antara 3-4 menit per 10 mil (100 km). Bayangkan betapa besar resiko yang mengiringi keputusan itu. Apa cukup relevan?

Tahukah Anda, berapa jauh jarak henti dari sebuah upaya mengerem (mati) mendadak untuk menghindari sebuah koalisi frontal? Kalau Anda bisa beraksi dalam hitungan detik, sejak melihat subjek tabrakan, maka jarak hentinya adalah:
30 km/jam (8 m + 7 m) = 15 meter
50 km/jam (14 m + 21 m) = 35 meter
70 km/jam (19 m + 46 m) = 65 meter
90 km/jam (25 m + 82 m) = 107 meter
110 km/jam (31 m + 132 m) = 163 meter

Dan tahukah Anda, bahwa pengetahuan macam begini seharusnya kita dapatkan sebelum dan setelah kita memiliki SIM di tangan dan siap-siap berpacu dengan maut di jalan.

Aku tak yakin apakah di Indonesia, untuk mendapatkan SIM, kita memerlukan pengetahuan dan skill yang memadai, termasuk pengetahuan macam di atas?

Tulisan ini sebelumnya aku posting di blogku di www.linnandari.multiply.com beberapa tahun lalu. Tapi begitu sering aku mendengar cerita soal kecelakaan maut di jalan-jalan di dalam negeri, yang mengingatkan aku pada SIM bodong dan banyaknya orang-orang yang tidak kompeten dalam mengemudi, menjadi (berpotensi) jadi pembunuh di jalanan.

Di bawah ini pengalamanku dan apa yang aku tahu tentang driving licence.

Hemmn, aku biasa mengendarai motor sejak SD, lalu mulai mengemudi mobil sejak kurang lebih 15 tahun lalu. Punya SIM, tentu saja. Tapi jangan tanya apakah SIM ku lewat prosedur resmi. Seingatku, aku belajar nyetir di sekolah kursus mobil. Tapi SIM aku dapet dengan jalan pintas dan gampang. Bayar sekian, SIM dibawa ke rumah. So, sejauh itu, keahlian mengemudi lebih dari learning by practising. But who care? Kebanyakan polisi Indonesia, gak peduli apa itu SIM resmi atau aspal (asli tapi palsu). Kalau apes mesti berurusan dengan polisi, ya siap-siaplah uang kecil. Kalau jaman 5 tahunan lalu sih, masih mau salami dengan uang cebanan atau jigoan. Tapi jaman sekarang, entahlah. Tapi, demi berburuk sangka, kita salah atau nggak, kalau sudah kena stop polisi ya.. paling dikit gobanan melayang.

Masih ingat, dua tahun lalu, ketika pulang dan menyetir di Jakarta, aku kena stop pak polisi, hanya karena tidak mengidahkan perintah dia untuk berjalan di jalur kanan, masuk jalan layang Gatot Subroto. La.. gimana mau masuk jalan layang, wong tujuanku mau memutar bawah jembatan Slipi ke Tomang. Alhasil ya, 50 ribu melayang. Tanpa basa-basi.

Pendek kata, fungsi SIM di Indonesia kalau boleh digeneralisasi sebenarnya hanya semacam kartu garansi. Kalau punya SIM, harga ”tilangnya” lebih dikit, kalau tanpa SIM, siap-siaplah dipreteli dompetnya. Fungsi ideal SIM sebagai jaminan bahwa jalan-jalan mestinya digunakan oleh orang-orang yang bertanggungjawab, tahu aturan lalu lintas, tahu tanggungjawab keselamatan, dll, ya ada di urutan bawah. Wong, banyak kenalan yang aku dengar punya SIM bahkan bisa beli SIM internasional, tapi nyetirpun gak bisa. Gak tahu juga kenapa mereka mau punya SIM, sekadar gengsi-gengsian atau buat gantinya KTP.

Nah, ketika aku harus hijrah ke Swedia, 2003, SIM untuk mobil dan motorku berlaku sampai 2005. Tidak ada niatan untuk memperpanjang SIM waktu itu, karena aku yakin SIM Indonesia tidak berlaku di Eropa. Sementara di Swedia aturan main lalu lintasnya jelas. Orang asing yang sudah terdaftar di biro kependudukan (punya personnummer) bisa memakai SIM negara asalnya selama setahun. Setelah itu--kecuali SIM dari Jepang dan Switzerland yang boleh ditukar SIM Swedia dalam kurun waktu setahun--semua SIM dari negara lain tidak berlaku lagi. Untuk mendapatkan SIM Swedia, ya harus ikut tes layaknya pemula. Dan sangat mahal.

Aku sendiri, karena banyak kesibukan hidup, selama tahun-tahun awal di sini (punya anak kecil, lingkungan baru, dll), akhirnya tak begitu peduli untuk mengambil SIM sesegera mungkin. Apalagi, kami yang hidup di desa kecil, jarang sekali ketemu polisi. Orang di sini kalau ditanya sering gak ketemu polisi di jalan atau razia, ya layaknya menang lottery, kata mereka. Begitulah, selama 4 tahun nyetir keliling area kami, baru tiga kali melihat polisi merazia. Dua kali pertama, beruntung karena kesibukan mereka, aku lolos tanpa distop. Kali ketiga, karena razianya tengah malam di perempatan jalan, ya kena deh. Kami, waktu itu, dalam perjalanan pulang sehabis dinner di rumah kerabat. Nah, kalau sudah urusan dinner begini, model berkendara kami di keluarga ya demokrasi, kata suami. Perginya, suami yang menyetir, pulangnya giliranku yang notabene bukan penikmat alkohol.

Setelah berbasa-basi dengan pak polisi, saya disuruh meniup alat pengukur alkohol, yang akhirnya gagal. Entah karena aku tidak tahu cara meniupnya (baru kali pertama) atau karena alatnya yang memble. Setelah tanya soal SIM, ya suaraku berubah menyakinkan, bahwa aku penduduk baru di sini dan berhak memakai SIM negeriku selama setahun. Dan dalam waktu dekat aku bakal mengambil SIM Swedia. Setelah ngobrol ini-itu dan masih dengan suara yang pede, akhirnya pak polisi pun mengucapkan selamat jalan lagi. Mungkin dia melepasku karena dia juga beristrikan imigran dari Jerman, atau karena dilihatnya ada 2 balita di kursi belakang. Aku sendiri percaya ini keberuntungan.

Nah, balik ke soal SIM. Mau gak mau, kalau pengen nyaman dan nggak deg-deg kan, ya aku terpaksa harus punya SIM Swedia. Di sini, polisi gak mempan dikasih duit. Belum lama ini, Walikota tempatku Norrtälje harus rela SIM nya dicabut selama 2 bulan karena dia melaju pada kecepatan 75 km perjam di daerah yang mestinya cuma boleh 50 km perjam. Dia bilang,” tidak ada excuse, saya melakukan kesalahan dan harus menanggung resikonya.” Akibatnya, selama dua bulan dia harus rela bersepeda ke halte bus dan naik kendaraan umum. Masak Pak Walikota gak ada sopir pribadi? Ini Swedia, bung, bukan Indonesia. Pak menteri pun kalau keseringan naik taksi di sini, bisa-bisa diinvestigasi pengeluarannya.

Oya, cara yang paling umum di sini untuk mengambil SIM adalah belajar di sekolah mengemudi. Cuma, karena ongkosnya mahal, aku ogah pergi ke sekolah. Aku cukup pede belajar otodidak dengan membeli buku teori Driving Licence dan sejumlah latihan soal di internet. Total biaya ini sekitar Rp500 ribu. Tapi jangan dikira gampang belajar sendiri. Apalagi untuk seorang ibu dua balita, tanpa pembantu (baca fulltime mother, he..he..) waktu luang membaca cuma ada saat duduk di toilet selama beberapa menit.

Tidak heran, setelah 2 tahun berusaha membaca buku teori itu—plus praktek mengemudi tanpa SIM--baru ada keberanian ikut tes teori. Itu pun setelah 2 kali gagal (dari 65 soal, harus benar sebanyak minimal 52 soal, selama 50 menit) baru kali ketiga aku sukses lulus teori. Aku yakin kegagalanku lebih karena pemahamanku yang buruk terhadap pertanyaan dan jawaban dalam bahasa Inggris itu. Bukan karena aku tidak mengerti prakteknya. Anyway, aku tidak menganggap diriku katagori idiot (ada temen sekolah yang 5 kali baru lulus, meskipun tes dalam bahasa ibu), soalnya tes online itu memang berat. Kita harus menguasai berbagai pengetahuan tentang lalu lintas, tanggungjawab berkendara, dampak lingkungan dan seluk beluk mesin mobil. Aku gak yakin yang begini ini kita dapatkan waktu tes SIM di Indonesia. Oya, ada satu-dua kenalan dari Indonesia, yang mengaku mengeluarkan uang puluhan juta, sampai bisa mendapatkan SIM Swedia, yang berlaku internasional.

Untuk pemula atau kalangan remaja di Swedia, proses mendapatkan SIM ini termasuk ”proyek besar”. Tidak hanya karena pendidikannya yang serius dan lumayan lama. Tapi juga ongkosnya mahal. Misalnya untuk satu paket belajar 15 kali nyetir, belajar teori di sekolah dan 5 kali latihan tes teori via Internet, biayanya 5 500 kronor atau sekitar 6 juta. Itu baru ongkos kursusnya, belum ada jaminan kita bisa lulus tes di Vägverket (Biro Lalu Lintas). Sebelum itu, syarat awal, kita juga harus memiliki ijin mengemudi dari pemerintah (ini bukan SIM lo). Baru berupa ijin bahwa kita sehat secara mental dan fisik untuk mengambil SIM. Kesehatan mata adalah wajib. Ongkosnya sekitar Rp300 ribu. Untuk tes teori, biayanya Rp200 ribu, tapi kecil kemungkinan sekali tes kita bisa lulus. Itu artinya, kalau kita harus mengulang berkali-kali ya dikalikan saja dengan 300 ribu tadi. Menurut Biro Lalu Lintas ini, perharinya hanya sekitar 30 persen yang lulus tes teori dari semua yang mengikuti. Tes ini sendiri bisa dengan banyak bahasa, Anda juga bisa memakai penerjemah kalau memang diinginkan.

Lulus teori, Anda bersiap-siap untuk babak lanjutan, driving test. Tapi tunggu dulu, sebelum itu, kita harus punya sertifikat dari satu badan yang menyelenggarakan Pelatihan Resiko Mengemudi. Dari sini kita dikenalkan bagaimana resiko mengemudi di situasi dan kondisi alam yang licin dan bersalju, misalnya.

Salah satu sessi pelatihannya adalah kita diminta mengemudi dengan kecepatan tertentu, misalnya 30 km, 50 km atau 70 km per jam, di jalan kering dan jalan berair (es) lalu di titik yang ditentukan, kita harus mengerem sekuat-kuatnya, maksimum. Nah, apa yang akan terjadi? Berapa jauh titik henti dari rem kita dan bagaimana efeknya bagi mobil. Jangan kanget, kalau dengan kecepatan tinggi dan rem maksimal, mobil bisa berputar-putar 360 derajat tanpa kendali. Satu kali di kecepatan 70 km, jalan licin—karena disemprot air terus-terusan—dan tengah konsentrasi melewati sebuah simbol truk yang terparkir di jalan, tiba-tiba pendamping (yang kebetulan suamiku sekaligus penerjemah) menarik rem tangan, sesuai instruksi dadakan dari instruktur yang duduk di pos kendali. Alhasil, mobil berputar bak gasing tanpa kendali. Untung, seat belt terpasang dengan benar, sehingga tidak ada yang cidera—dan memang latihannya didesain sedemikian rupa sehingga resiko cederanya minim. Latihan ini, tujuan utamanya adalah mengetahui secara langsung apa resiko reaksi mobil, dari setiap keputusan yang kita ambil.

Sebelum praktek langsung di lapangan, kami dikenalkan dulu dengan kegunaan seat belt dan beberapa komponen keselamatan di mobil, seperti air bag dan senderan kepala. Di sebuah ruangan simulasi, kami diminta duduk di mobil, layaknya kita sedang berkendara. Tiba-tiba terjadi kecelakan dan mobil tersebut terbalik 180 derajat. Apa yang terjadi? Thanks to seat belt! Meskipun pantat sudah menggantung dari jok mobil, untung ditahan oleh sabuk pengaman yang erat di badan. Jadilah kita menggantung di udara dengan kepala di bawah dan pantat di awang-awang dan keringat dingin. Untung lagi ini hanya simulasi. Bayangkan kalau kecelakaan sebenarnya terjadi! Baru dari itu rasanya, aku benar-benar memahami manfaat seat belt. Selain itu, kita juga harus menjalani tes alkohol, sebelum tes lapangan. Caranya, dengan menghembuskan napas panjang di sebuah alat pengukur. Alat ini akan mengukur berapa banyak kadar alkohol di dalam tubuh seseorang. Batas toleransi alkohol yang diperbolehkan adalah 0,1 per milli atau setara dengan minum sekaleng bir dengan alkohol 2,25 persen. Di Swedia, statistik menunjukkan sedikitnya 150 orang mati pertahun akibat pengendara yang mabuk. Lebih banyak lagi yang kemudian cacat permanen karenanya.

Di sessi terakhir setelah praktek lapangan, kita diperlihatkan sejumlah konsekuen dari kecelakaan yang pernah terjadi dan bagaimana meminimalisasi resiko. Kita diajak juga menghitung berat efek benda-benda kecil yang kerap kita bawa di mobil dan diletakkan sembarang, tanpa memikirkan efeknya jika terjadi kecelakaan. Seunit headphone yang diletakkan sembrono, ketika terjadi kecelakaan dalam kecepatan tertentu, mampu menimbulkan hentakan berpuluh kilo, yang mungkin memukul badan kita sendiri atau penumpang lainnya di mobil. Begitu juga set kunci yang biasa kita kalungi atau tas yang biasa kita lempar di jok belakang atau samping. Jika terjadi hentakan tak terkontrol, berat barang-barang itu berlipat-lipat ganda. Karena itu, saran terbaik dari si instruktur adalah benda apapun di dalam mobil sebaiknya ditaruh di lantai atau dipakaikan sabuk pengaman. Termasuk juga seat kosong idealnya dipasang seat belt juga, sehinga tidak terlontar ke depan jika terjadi celaka.

Usai mendapatkan sertifikat dari pelatihan resiko ini, barulah lengkap syarat untuk mengikuti tahap terakhir yaitu driving test. Oya, ongkos untuk program ini hampir Rp2juta untuk 4 jam.

Sebelum memulai tes mengemudi, kita haru membayar dulu biaya administrasi dan sewa mobil dengan sistem komando ganda, total duit yang keluar Rp1,5 juta. Gagal, ya harus mengulang lagi, dengan biaya yang sama. Untuk bagian ini, aku belum mengikuti, karena waiting list nya cukup panjang. Kemungkinan, jika aku mendaftar sekarang, aku baru bisa tes Desember nanti. Terakhir kalau kita lulus tes mengemudi, SIM keluar dalam satu minggu, dan kita harus membayar hampir Rp300 ribu.

Selesai? Tunggu dulu. Jangan terlalu pede, karena selama dua tahun pertama memiliki SIM, kita menjalani masa percobaan. Ini artinya, jika kita kedapatan melakukan pelanggaran, besar kemungkinan SIM kita dicabut dan terkena saksi tidak boleh memiliki SIM selama waktu tertentu. Untuk mendapatkan SIM baru, ya harus mulai dari nol lagi.

Usaha mendapatkan SIM selesai sudah, 12 Februari 2008. Untuk, hanya perlu sekali saja test untuk menyetir. Booking waktu di Vägsverket, semacam Dinas LLAJR kalau di Indonesia, lalu aku ambil kursus singkat di sekolah menyetir, cuma 5 kali mengendarai bersama instruktur di situ. Ternyata, strategi ini sangat berguna, karena kita jadi tahu, tips praktis yang menentukan dan masuk penilaian instruktur pengetes nanti. Termasuk juga pengenalan rute-rute jalan yang kemungkinan ditempuh.

Menjelang hari H, aku benar-benar terserang nervous, panik gak karuan, sudah dari hari sebelumnya. Bener-bener nervous, sampai rasanya seperti demam, panas dingin. Pukul 10, kami memulai tes dengan pengecekan kondisi luar mobil, seperti lampu dan kondisi ban, sebelum masuk dan duduk. Setelah itu, duduk di belakang stir, mengecek rem kaki, rem tangan, kaca spion, menyesuaikan letak penyender lehar, dan beberapa pernik lainnya, juga termasuk keharusan. Untung banget , instruktur pengetesnya sudah separoh baya, tenang, tidak banyak bicara, hanya duduk dan sekali-kali memberi instruksi arah dan apa yang harus aku lakukan. Setelah 35 menit berkeliling, kami kembali ke kantor LLAJR ini. Dan horeeee!! Dia bilang lulus! Wuiihhh.. rasanya lega banget. SIM sudah di tangan dan tak khawatir lagi kalau nyetir..

No comments:

Post a Comment