Ini tentang temanku yang tak lama lagi memutuskan untuk menikah..
Ini tentang temanku yang setengah tahun lalu dalam chat2 nya selalu "disperades" karena gak kawin2 dan bentar lagi khawatir mendapatkan status perawan tua..
Ini temanku yang selalu bertanya-tanya, bisakah aku menemukan pasangan buatnya..
Sebagai teman, aku berupaya.. Kumasukkan profilenya di sebuah dating date online klub di sini, dan wooala! Akhirnya, ada seorang pria yang cocok, dari beberapa yang mengontak.. dan mereka ketemu dan oke.. sekarang dia sudah hampir--bahkan sudah menganggap dirinya Mrs..A.
Dia sudah berubah.. dia tidak lagi disperades.. dia tidak lagi mengeluh seperti chat2 nya beberapa bulan sebelumnya. Dia sudah pede banget.. dia sepertinya tahu semua tentang negara yang bakal dihijrahinya. Negara di kutub yang sangat beda kultur dan seluk-beluknya. Negara yang kutinggali 5 tahun terakhir ini..
Syukurlah.. dia bukan lagi teman yang putus asa, bukan lagi teman yang suka bertanya-tanya, dia sudah pede lagi.. dan boleh dibilang, dia teman yang berubah...
Berubah? Iya.. kini dia tiba-tiba sangat "eksklusif", dia berubah menjadi sangat agama-simbolik. Berpuluh tahun kenal dia, kami jarang sekali menyentuh soal agama. Tapi, kini, ketika dia mau menikah dengan pria yang mengaku agnostic, dan pindah ke negara dengan sejarah panjang kristen tradisional--meskipun 5 tahun di sini aku berkesimpulan--kebanyakan penduduknya tak beragama, jika dinilai dari ketaatan--dia menjadi cenderung mengesankan fanatik sempit.
"Hei..aku dapet temen baru yang juga mau pindah ke sana dan dia islam," tulisnya satu kali dalam chat boks kami. Oij..oij.. sejak kapan aku membedakan temenku yang islam dan non islam.. aku gak pernah terpikir mengkotakkan mereka begitu.. Chat terakhir kami, dia menyebutkan kemungkinan dia batal bertandang ke rumahku, dalam kunjungan dua minggunya ke negeri aku tinggal, bulan depan. Karena dia dan calon Mr. nya punya jadual padat. Mereka ingin bertemu dengan kenalan di komunitas islam di sana dan berkunjung ke imam sebuah mesjid di satu kota beberapa jam perjalanan dari kota calon suaminya..
Oiij..oijj lagi pikirku. Sejak kapan dia suka ke mesjid selama hidupnya di Indonesia? Aku bisa mengira, hanya ketika lebaran, sholad Eid dan sejenisnya. Tapi sekarang, dia memilih bertemu imam, bersama calon pasangannya yang agnostic.. Sebuah perubahan untuk kebaikan? Mudah2 an. My finger crossed!
Yang aku gak habis pikir, mengapa tiba-tiba kita harus menjadi agama-sentris bahkan fanatik dan menjadikan keyakinan kita sebagai sebuah problem. Sementara orang2 di komunitas tempat hijrah kita nanti, sama sekali tidak peduli dengan apa agama yang kita anut. Agama adalah sesuatu yang personal.. Nilai hidup yang dianut di sini, aku kira lebih karena respek. Aku menghargai keyakinanmu dan kamu menghargai prinsipku. Di scandinavia, atau swedia, khususnya, orang-orang berkumpul di rumah, dinner bersama, duduk di depan api unggun dan pohon natal warna-warni di christmas eve, bukan dan lebih banyak tidak berpikir tentang kristus. Semangatnya, aku kira--memanfaatkan moment kebersamaan, lampu pohon natal yang warna-warni menambah keakraban dan keindahan--cosiness. Dan opss.. kalau kita tanya ke mereka, mengapa mereka tidak menghadiri misa di gereja, yang hanya beberapa kilometer dari rumah.. "Kami tidak sedang merayakan kelahiran kristus, kami merayakan midwinter blood, kata beberapa orang yang aku kenal. Ya.. mereka merayakan hari ketika gelap terpanjang dari penanggalan kalender kembali makin pendek dari hari ke hari sampai summer nanti.
Aku penasaran, bisakah eksistensi agama hanya untuk diri sendiri? Satu lagi yang menggelitikku sejak awal, tentang teman ini. Dia menginginkan sebuah keluarga yang sakinah (absurd dan aku tak yakin bisa menjelaskan term ini). Tapi sejak awal, dia ingin aku membantu dia menemukan jodohnya di kutub ini, yang kebanyakan orangnya tak begitu peduli dengan agama dan minim sekali islam terutama. Aku belum pernah menemukan laki2 bule sini yang beragama islam (atau karena kami memang tidak pernah bicara soal agama, he..he..). Nah, bagaimana aku bisa menemukan orang yang dia seusai katagori yang dia mau? Aku katakan ke dia, kalau kamu mencari pasangan islam sejati, kamu salah tempat untuk memilih. Carilah di negeri arab sana, pasti banyak. Tapi dia gak suka orang arab, katanya..
Begitulah.. temanku ini nanti akan kawin secara islam di KUA di Jakarta. Dan bercita-cita untuk mengislamkan calon suaminya yang agnostic. Semoga mereka bahagia..
No comments:
Post a Comment