Tuesday, March 1, 2011

Last conversation with My Dad

Entah kenapa, Kamis lalu, 6 Mei 2010, sekitar pukul 5 sore, aku sudah memutuskan menutup toko. Rasanya, ingin sekali pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Toko biasanya tutup jam 6 sore. Sebenarnya, tidak ada juga firasat buruk hari itu. Yang ada cuma keinginan untuk ada di rumah, menghabiskan waktu dengan anak-anak dan bekerja di kebun. Kebetulan, matahari bersinar terang. Rupanya, pada saat aku membereskan toko, Papa yang tinggal di belahan bumi lain, sedang menghabiskan napas-napas terakhirnya, dalam tidur. Waktu itu, pukul 22.00 WIB.

Aku tiba di rumah jam 18.10 dan menjadi kejutan kecil bagi suamiku yang sedang membereskan meja, sehabis makan malam dengan anak-anak. Aku langsung duduk di meja makan dan menyantap makanan yang masih terhidang di meja. Hari itu, seharian, aku memang cuma menyantap gado-gado buatan rumah. Usai makan dan tengah mencuci piring, handphoneku berbunyi. Baru pada panggilan kedua, kukeringkan tangan dan menjawab panggilan tak bernomor itu. Tadinya, aku kira, pemilik butik tetangga yang menelepon. Tapi kudengar suara Muksin, kakakku di seberang. ”Ciauw, Apa sudah gak ada,” katanya singkat.

Dan aku terpana beberapa detik. Tapi tidak seperti beberapa berita kematian teman-temanku. Aku tak kaget. Detak jantungku tak berhenti. Aku hanya bertanya, kapan? Lalu, kakakku bercerita singkat dan mengabarkan bahwa semua saudaraku di Lampung, dalam perjalanan mobil ke Jakarta, untuk meneruskan terbang dengan pesawat pertama ke Bangka, esok harinya.

Sulit untuk menggambarkan perasaanku setelah mendengar kabar itu. Tapi aku merasa ikhlas menerima kepergian Papa pada usianya yang mendekati 86 tahun. Aku ikhlas karena sempat ngobrol dengannya, 2 hari menjelang kepergiannya. Selasa, 4 Mei kemarin, Ibuku berulang tahun ke 84 tahun. Karena ulang tahun Ibu dan Papaku, biasanya mengacu pada kalender cina, aku kadang tidak ’ngeh’ kapan. Biasanya, salah satu atau dua keponakan di Indonesia, akan mengingatkan aku bahwa orang tuaku berulang tahun. Anna, salah satu keponakanku, hari itu, mengingatkanku.

Aku pun langsung menelpon ke rumah. Hari sudah malam di Mapur, sudah sekitar pukul 7 malam. Sebenarnya, aku pesimis bisa ngobrol dengan Papa atau Ibuku, saat itu. Rumah kami memakai mesin diesel untuk penerangan dan biasanya dengan suara berisik begitu, orang tuaku hampir tak bisa mendengar suara kami di ujung telepon. Tapi naluriku mengatakan aku harus menelepon. Setelah 2-3 kali mencoba, akhirnya handphone di seberang pun terangkat. Rupanya, kakak lelaki tertuaku yang berbicara. Kakak tertuaku, rupanya, baru sore itu sampai ke Mapur, setelah sebulan lebih pulang ke rumahnya di Lampung. Ko Sui memang meniatkan untuk membantu menemani Ibu dan Papaku, selama ini.

Setelah ngobrol beberapa saat dengan Ko Sui mengenai keadaan Ibu dan Papa, dia bertanya kalau aku mau berbicara dengan Papa, yang duduk di sebelahnya. Tadinya aku menolak. Bukan karena tidak mau. Tapi biasanya, aku suka putus asa. Biasanya, kalau aku mencoba menelepon, pasti Papa hanya menjawab sekenanya: bahwa dia baik-baik saja dan sehat. Selebihnya, dia lebih banyak tidak mendengar, apa yang kutanya. Selain itu, kalau bicara terlalu panjang, napasnya pun ngos-ngosan.

Sesaat kemudian, Ko Sui bertanya lagi apa aku mau ngobrol dengan Papa. Akhirnya, aku mengiyakan dan ia memberikan telepon ke Papa. Aku tanya apa kabarnya, dan dia menjawab bahwa dia sehat-sehat saja. Lalu, aku pun menanyakan mengenai telapak kakinya, yang kata Ko Sui, agak sembab. Tapi dia bilang, tidak sakit dan baik-baik saja. Aku agak heran, kok tumben Papa berbicara dengan lugas dan mendengar pertanyaanku dengan baik. Lalu, lebih kaget lagi, karena ia pun menyerocos, seperti Papa yang aku ingat, 10-15 tahun lalu. Tanpa ngos-ngosan.

Dia bercerita tentang ”pengelihatannya”. Ia melihat banyak hantu di rumah kami. Banyak sekali, katanya. Mereka ada di mana-mana, berdansa, nyanyi, ngobrol. Di langit-langit rumah, banyak sekali para wanita yang berkumpul, tambahnya lagi. Itulah alasan, mengapa sudah beberapa waktu ini, menjelang sore, Papa sudah menutup semua pintu dan jendela, karena takut hantu-hantu itu masuk rumah.

Perubahan tingkah laku Papa, belakangan ini, memang meresahkan kakak perempuan tertuaku yang biasanya mengurus keperluan orang tuaku. Satu kesempatan, di hari-hari terakhir, ia melihat Papa yang sedang duduk di kamarnya, menatap ke atas dan seolah-olah berbicara sendiri (Ini menurut Papa, karena tamu-tamu tidak diundang itu mengajaknya ngobrol). Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana, ketika mendengar cerita Papa mengenai tamu-tamu mistis itu. Aku mengenal Papa sebagai orang yang sangat rasional dan tak percaya dengan hal-hal gaib. Tapi di saat-saat terakhir hidupnya, ia berbicara sangat lugas mengenai tamu-tamu yang memenuhi rumah kami di Mapur. Dia bilang, banyak air di sekeliling rumah kami, banyak tanaman dan buah-buahan.

Dengan nada ingin tahu, aku pun bertanya, mengapa hanya Papa yang bisa melihat keberadaan orang-orang itu? Papa bilang—lagi-lagi dengan lancar dan tanpa ngos-ngosan—mungkin karena pengelihatan dia sudah kabur, jadi dia bisa melihat mereka dengan jelas. Lalu aku pun bertanya lagi, apakah orang-orang itu sudah mati atau masih hidup. Papa bilang, mereka masih hidup, tapi entah mengapa, ia-- satu dan lain alasan—seakan tidak mengenali tamu-tamu asing itu.

Ia juga sempat menjelaskan bahwa tamu-tamu itu terdiri dalam kelompok-kelompok. Ada kelompok ini, kelompok itu. Ia menyebut nama tiga kakakku yang tinggal di desa yang sama dan yang paling sering bertanggungjawab merawat kedua orang tuaku, sebagai bagian dari kelompok itu . Aku menduga, Papa mencoba dengan caranya untuk mengingatkan mereka mengenai sikap dan hubungan mereka yang tidak begitu harmonis, satu sama lain.

Aku juga bukan orang yang bercaya dengan hal-hal gaib. Tapi cerita Papa di saat akhir hidupnya, mengingatkan aku bahwa bukan mustahil ada alam lain yang tak kasat mata. Semoga di alam lain itu, Papa mendapatkan tempat yang indah, tempat yang damai, di mana ada kolam-kolam indah, ada pohon-pohon sejuk dan aneka tanaman dan buah-buahan, seperti yang dia ceritakan padaku di telepon itu. Semoga di sana, semua penghuninya selalu bergembira, menyanyi, menari dan berdansa. Semoga Papa, seperti juga katanya beberapa hari sebelumnya, bahwa ia melihat papanya. Semoga Papa akhirnya berkumpul lagi dengan orang tuanya.

Ada banyak kenangan indah tentang Papa, yang satu kali nanti, ingin kuceritakan kepada anak-anakku dan keponakan-keponakanku. Papa yang teramat baik, papa yang bijaksana, papa yang pekerja keras, dan papa yang sangat sosial.

Satu prinsip dasar yang selalu kuingat dari Papa, sejak aku kecil. Ia tak pernah pergi ke pesta apapun di kampung kami. Tapi, dia selalu menyempatkan diri datang di setiap moment kematian orang-orang yang dikenalnya. Menurut Papa, kalau orang bahagia, tidak terlalu perlu kita berbagi, tapi kalau orang ditimpa kemalangan, maka harus kita berbagi. Selamat jalan Papa. Beristirahatlah dengan tenang. Suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu kembali.

No comments:

Post a Comment