Sunday, March 6, 2011
Macet atau Macet di Puncak?
Aku sekeluarga mengalami kemacetan serupa, ketika akhir tahun 2010, kami memutuskan untuk berlibur di Puncak. Tanggal 29 Desember, dalam perjalanan ke daerah penginapan kami di kawasan Kota Bunga, kami mampir dulu di Taman Safari. Kami memulai perjalanan dari Jakarta subuh hari. Suamiku yang orang Swedia, tak habis pikir, mengapa kami begitu khawatir dengan macet sehingga harus berangkat pagi-pagi sekali.
Perkiraan kami tepat, kami keluar tol Jagorawi dalam keadaan lancar dan sampai ke Taman Safari juga dengan nyaris tanpa kendala.
Anak-anak puas menyaksikan aneka fauna dan menjelang sore, kami siap mengakhiri safari dan selanjutnya menuju ke Puncak. Waktu itu sekitar pukul 3 sore. Keluar dari Taman Safari, tidak masalah, tapi jalan kami terhenti di lokasi parkir pertokoan yang menjual jajanan "oleh-oleh", sekitar beberapa ratus meter dari persimpangan jalur utama Jakarta-Puncak. Di depan kami, antrian mobil memenuhi parkiran pusat pertokoan itu, dan juga di sepanjang badan jalan.
Semula, kami kira perhentian ini cuma sebentar. Kami mendapat informasi bahwa jalur Puncak-Jakarta sedang ditutup dan saat itu sedang dibuka satu jalur Jakarta-Puncak, sampai pukul 16.30 wib. Kami sendiri akan mengarah ke Puncak--sama dengan arah lalu lintas yang sedang berjalan, karenanya timbul pertanyaan kenapa kami harus berhenti di sini. Insting jurnalisku bekerja otomatis. Soalnya, kalau menunggu lagi, maka kami tak mungkin bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak, karena sebentar kemudian, rute akan berubah menjadi satu arah Puncak-Jakarta.
Di depan pertokoan itu ada jalan kecil di kanan jalan, yang bisa dijadikan jalan pintas atau jalan alternatif menuju ke Puncak. Tapi untuk bisa memakai jalan itu, kita dipaksa harus dibantu dan tentu saja dengan membayar jasa penunjuk jalan. "Katanya, harus bayar 50 ribu, Mbak!" seorang pengendara mobil lain, bercerita.
Seperti ceritaku tadi, insting jurnalisku bekerja cepat. Aku turun dari mobil dan berjalan maju, melihat situasi di depan. Jalan utama yang menjadi pintu masuk ke kawasan Taman Safari itu tampak lenggang. Tidak ada tanda-tanda bahwa kendaraan tidak bisa melewati jalan yang mungkin sejauh 1 km itu. Sejumlah penghalang hanya di pasang di badan jalan, persis di depan pertokoan, sehingga mobil-mobil terpaksa berhenti di situ, yang dijagai beberapa orang.
Aku mencoba bertanya ke beberapa pengendara, mengapa kita harus berhenti di sini. Semua menggelengkan kepala. Cuma, seorang supir bercerita, pasti ini akal-akalan kelompok orang setempat, polisi, dan kerja sama dengan pemilik toko. Soalnya, kalau toh, rute dijadikan satu arah, mengapa mobil diharuskan berhenti persis di depan pertokoan--seolah-olah orang dipaksa turun dan berbelanja. Padahal, jalan di depan sekitar 1 km menuju pertigaan jalan utama, kosong melompong. Dan mengapa pula, semua mobil dipaksa berhenti. Bukankah pengendara yang akan ke Puncak, mestinya bisa melaju? Seorang pemuda yang mendengar obrolan kami, ikut menimbrung. "Mau kemana, Mbak? Lewat jalan situ bisa, kalau mau ke Puncak," ujarnya sambil menunjuk jalan kecil di seberang pertokoan.
Aku melirik sebentar, dan bertanya,"kalau lewat situ harus bayar berapa memangnya? katanya harus 50 ribu. Masak harus dipajekin!" Akh.. gak gitu, katanya. Nanti saya bantu kalau mau.
Aku melirik jam tangan. Sekitar 20 menit lagi, arah jalur akan berubah dari Puncak ke Jakarta. Itu artinya, kami akan terhenti di sini, entah sampai kapan.
Aku cari akal. Aku hampiri seorang bapak, yang mirip orang kantoran atau politisi, yang berdiri di samping jalan. "Pak, kenapa kita diberhentikan di sini?" Dia menggeleng kepala. Lalu, sok yakin aku bilang," pasti ini cuma akal-akalan orang di sini saja. Semua mesti berhenti, supaya orang bisa belanja. Kalau mau jalan pintas mesti bayar. Padahal jalan di depan melompong. Lagian, kayak kami, la.. kan mau ke Puncak, masak gak bisa jalan," kataku.
Oh.. iya..ya, kata bapak tadi. Tadinya saya juga mau ke Puncak, tapi karena terhenti di sini dan sudah sore, jadi batal deh.. Coba saya telpon dulu wartawan Sonora, biar dia yang mengontak polisi, katanya. Terjadilah percakapan telepon singkat, mirip bos yang memberi perintah ke bawahannya. Aku tersenyum simpul.
Setelah ngobrol sedikit, pemuda yang menawarkan bantuan tadi, bergabung juga bersama kami. Bapak itu--seperti mungkin pekerjaan sehari-harinya--meminta agar si pemuda itu membantu aku karena akan ke Puncak dan sebentar lagi jalur itu bakal ditutup.
Bagiku tidak ada pilihan lain, selain bersiap-siap membayar beberapa puluh ribu kepada penunjuk jalan itu, ketimbang menunggu di depan pertokoan, tanpa tahu kapan jalan akan dibuka.
Apesnya, mobil kami ternyata berada cukup di tengah, sehingga butuh kerja sama dengan mobil-mobil lain untuk bisa keluar ke jalan lagi. Di situlah, peran lelaki tadi. Alhasil, last minute, kami berhasil keluar ke jalan dan langsung mengambil jalan kecil, yang ternyata hanya tak lebih dari 100 meter menuju jalan alternatif menembus ke jalan utama Puncak.
Meski harus mengorek Rp20 ribu, kesal kami terlampiaskan. Daripada menunggu dengan perut lapar dan tanpa kejelasan.
Aku membayangkan, jika aku tak bertanya sana-sini, maka kami pasti masih akan terhenti di situ dan mengikuti arus mobil-mobil lain. Berhenti tanpa tahu kenapa?
Aku percaya, situasi itu dibuat sedemikian rupa oleh oknum-oknum tertentu untuk meraup pendapatan. Pertokoan mendapatkan pembeli yang terpaksa berbelanja karena bosan menunggu dan mungkin kelaparan. Lalu, para preman yang memaksa pengendara untuk membayar uang menuju jalan pintas. Dan pak polisi, pasti tahu gelagat ini, dan hampir pasti mendapat jatahnya sendiri.
Ini trik penghidupan di Indonesia-ku.
Friday, March 4, 2011
Coincident
Rabu kemarin (2 Maret 2011), misalnya. Aku tengah berjalan kaki menuju tempat kerja suamiku. Sepulang bertemu dengan orang di Departemen Tenaga Kerja (Arbetsförmedlingen), aku langsung ke tempat suamiku, untuk menjemput anak-anak yang kutinggal di sana. Sesuai janji dengan mereka, kami akan pergi ke Mc Donald yang tak jauh dari situ.
Di tengah perjalanan, persis depan sebuah sekolah, entah kenapa, aku tiba-tiba teringat temanku Liping, perempuan Cina yang baru 2-3 tahun ini bermukim di Swedia. Liping selain kukenal di sekolah bahasa, juga kerap datang mengunjungiku di butik. Dia ingin berlatih bahasa Swedia.
Ketika itu, terpikir olehku, mungkin Liping dan keluarganya sudah kembali ke apartemen mereka saat itu. Karena aku tahu, sejak 2 minggu terakhir, mereka terpaksa pindah ke apartemen sementara, karena lantai apartemen mereka sedang direnovasi. Aku sendiri, pernah mengunjungi mereka di apartemen sementaranya, yang berapa agak jauh dari pusat kota.
Nah, karena ingatan itu, aku tiba-tiba berhenti di seberang sekolah tadi dan mengambil handphone. Aku ingin menelepon dia untuk bertanya kabar. Bunyi dering singkat saja, dan aku dengar dia berteriak, "Aku liat kamu.. aku liat kamu," dalam bahasa Swedia. Aku kebingungan, karena tidak mengerti maksudnya. Maklum, bahasa Swedia dia, tak lebih bagus dari bahasaku. Lalu, sambil bertanya balik, aku pun meneruskan langkahku.
Setelah beberapa kali bolak-balik mendengarkan ocehan dia, baru aku mengerti bahwa ketika aku berhenti di seberang sekolah dan mulai bertelepon, dia sedang mengamatiku dari jendela dapur sebuah apartemen, di sisi jalanku. Sayangnya, dia tidak bisa membuka jendela kaca itu untuk berteriak atau melambaikan tangan.
Aneh? Bagiku, aneh sekali... karena bagaimana mungkin, mereka tiba-tiba menempati sebuah apartemen di sisi jalan itu. Sementara aku tahu, apartemen sementara mereka ada sekitar 15 menit dari situ, dan apartemen mereka yang sedang direnovasipun butuh beberapa jarak dari situ. Dan yang lebih anehnya lagi, kenapa aku tiba-tiba berpikir tentang dia dan meneleponnya.
Thursday, March 3, 2011
Inmemoriam seorang Kawan
Pendaftaraan Anak WNI Ditunda di Swedia (di tempat Anda?)
Update:
Surat keputusan status ke-WNI kedua anak kami sudah keluar menjelang 17 Agustus 2008 kemarin, lalu disusul dengan keluarnya paspor untuk keduanya oleh KBRI Stockholm 20-an Oktober kemarin.Ternyata, ini yang saya tidak tahu, biaya pengurusan dwi kewarganegaraan sebesar 500 kronor (atau sekitar Rp700 ribu, kalau pakai kurs 1 kr = Rp1400) sudah mencakup pembuatan paspor untuk anak-anak. Dengan begitu, saya berkesimpulan, ongkos yang ditetapkan cukup ekonomis.*****
Tulisan ini sebenarnya saya tulis untuk milis lain. Tapi karena isu ini menyangkut orang banyak. Mungkin ada gunanya jika kita bisa berbagi informasi.
Ini menyangkut pelaksanaan UU Kewarganegaran RI yang belum lama ini diundangkan. sementara di beberapa negara lain seperti Jerman, Kanada, Amerika, sudah berjalan. Tapi baut kami di Swedia, masih harus menunggu. Menurut Second secretary di KBRI Stockholm, pihaknya mendapat faksimili dari Deplu-- yang kami ketahui kemudian, faksimili itu diteken oleh Dirjen Hukum, Deplu. Jawaban ini melalui penjelasan susulan atas email pertanyaan saya di Milis Komunitas Indonesia di Swedia--untuk menunda pelayanan pendaftaran WNI bagi anak kawin campur dan masyarakat yang ingin mendaftar WNI. Salah satu alasannya, karena diperlukan penataran. Di sini ada beberapa diskusi terkait. http://groups.yahoo.com/group/rumah_indonesia/message/1747
Kalau penataran yang dijadikan alasan penundaan. Ujung-ujungnya pasti soal dana. Bisa dibayangkan budget yang dibutuhkan untuk menatar para staf KBRI di berbagai belahan dunia itu. Anehnya, kalau perlu penataran, mengapa KBRI di negara seperti AS, Jerman dan Kanada, tidak menunggu penataran juga?
Tadinya, saya mengira kebijakan penundaan ini merupakan kesepakatan lintas departemen antara Kantor Menteri Hukum dan HAM dan pelaksana lapangan Kantor Imigrasi dan Deplu. Tapi ternyata Menteri Hukum Hamid Hamid Awaludin mengaku kaget dan tidak tahu-menahu.
Jadi begini ceritanya;
Setelah menerima penjelasan dari Pak Wibi Second Secretary KBRI Stockholm tentang adanya perintah penundaan Pendaftaran WNI bagi Anak Kawin Campur (sesuai dengan surat dari Jakarta yang diterima KBRI 4 Desember), saya mencoba mencari informasi lebih lanjut. Maklum, naluri jurnslid saya jadi tergelitik. Ada apa? Wong UU nya sudah ada, PP nya sudah jelas, tapi masih ditunda realisasinya.
Lalu saya mencoba mengontak beberapa teman (wartawan) di Jakarta. Kalau mungkin saya bisa "menitip" pesan (pertanyaan) buat Pak Hamid (Menteri Hukum dan HAM), yang dulu sebelum menjadi menteri adalah kawan diskusi kami untuk soal politik dan hukum.
Setelah cek sana-sini, pertanyaan saya akhirnya sampai dan dijawab oleh Pak Hamid. Menteri Hukum mengaku kaget mendengar adanya perintah penundaan ini. Dia, menurut kawan saya Wartawan Anteve, mengaku tidak tahu menahu alasan dan adanya penundaan. Menurut dia, di beberapa negara, pendaftaran sudah berjalan lancar. Ia, melalui teman tadi, mengatakan kalau saya butuh cepat, bisa mengirimkan langsung pendaftaran anak saya ke Jakarta.
Nah, mendapat kabar ini, saya jadi bingung sendiri. Ada apa? Bukan saya mau menyalahkan KBRI Stockholm. Wong, saya yakin Pak Wibi dan kolega di sini, hanya menjalankan perintah dari Pusat. Saya tadinya bertanya-tanya juga, Perintah Pusat yang dimaksud Pak Wibi, instansi mana, apakah Deplu atau ada kebijakan lintas departemen, dalam hal ini keputusan bersama antara Deplu dan Menteri Hukum dan HAM. Tapi, kalau betul, Hamid Awaluddin menyatakan tidak tahu, saya jadi berkesimpulan bahwa perintah tunda datang dari Pejambon sendiri. Belakangan saya baru tahu kalau perintah tunda datang dari Dirjen Hukum, Deplu. Apa alasannya masih buram. Tapi sekadar info, mungkin ada kaitannya dengan posisi Swedia dalam hubungan diplomatik dengan Indonesia. Seperti kita tahu, posisi Ambasador untuk negeri ini sempat kosong selama 4 tahun, sebelum diisi oleh Ambasador Linggawati Hakim yang baru saja menempati posnya, akhir November lalu.
Pertanyaan saya kemudian, kenapa? Dan saya kira Deplu dalam hal ini KBRI sebagai kepanjangan tangan, perlu menjelaskan kepada masyarakat yang terkena langsung dampak UU WNI ini. Soalnya, di banyak negara, sebelum anak atau masyarakat memiliki sertifikat WNI, mereka tetap harus mendapatkan dan membayar visa untuk masuk ke Indonesia.
Kalau hal ini dikaitkan dengan perlunya Penataran (seperti kata Pak Wibi), harus dijelaskan juga ke masyarakat, kapan penataran ini berlangsung dan bakal selesai. Dari kaca mata saya, Pejabat KBRI sebenarnya sudah tidak perlu lagi ditatar mengingat Peraturan Menteri dari UU WNI ini sudah sangat rinci (seperti yang tercantum dalam lampirannya). Apalagi KBRI dalam hal ini hanya--tolong koreksi kalau saya salah--bertindak sebagai fasilitator untuk menerima aplikasi masyarakat dan melanjutkannya ke Menteri Hukum. Jadi, logikanya, sepanjang semua formulir dan dokumen yang diperlukan terpenuhi, ya.. tidak bakal ada masalah.
Semangat kita kan efisiensi birokrasi!
Mental Maling (Birokrasi) Kita
Saya mau berbagi kabar sekaligus pengalaman--mungkin nanti berguna buat kawan-kawan yang mengalami. Ceritanya, kami mengirimkan sebuah paket untuk orangtua saya di Bangka. Tapi meski sudah dua bulan berlalu, paket tersebut belum kunjung tiba.
Akhirnya, kami mengontak Kantor Pos Swedia untuk meminta di tracking, paketnya ada dimana. Di Swedia, ya seperti biasa, gampang banget, dengan buka website Kantor Pos dan mengetik No. pengiriman, ketahuan deh, jalur paket tersebut. Pendek kata, beberapa hari setelah dikirim, paket itu sudah sampai di perbatasan Swedia dan siap terbang ke Indonesia. Nah, sampai di sini jadi masalah, karena tidak ada lagi sistem online komputer. Semua data barang dibuat dengan manual. Menurut Kantor Pos Swedia--setelah 2 kali komunikasi per telepon--butuh waktu minimal seminggu untuk mengeceknya sampai Indonesia.
Kami pun menunggu.
Sebagai informasi, barang yang kami kirimkan adalah handphone Nokia bekas, yang diperlukan Orang Tua saya di rumah, sebagai satu-satunya alat komunikasi. Tidak bisa HP lain, kecuali Nokia tua yang ada colokan antena di belakangnya (saya lupa serinya). Nah, karena Ortu saya tinggal di desa kecil yang belum ada listrik PLN (cuma pake mesin diesel) dan juga tidak ada signal HP. Maka alternatifnya adalah menggunakan HP tapi dengan bantuan Antena tinggi untuk mencari signal. Barang lain yang saya kirim adalah Kamera digital dengan baterai--ini pun bekas kami pakai. Kami kirim ke sana karena kamera ini gampang dioperasikan dengan baterai.
Selain itu, kami juga mengirimkan Senter (lampu tangan) yang menggunakan dinamo bukan baterai. Ada 6 buah, maksud kami buat dibagi-bagi ke saudara dan tetangga di kampung. Maklum, tanpa listrik, senter ini pasti bermanfaat. Cukup memutar dinamo satu menit, lampu bisa dipakai 30 menit. Sebagai info tambahan, Senter ini termasuk inovasi baru yang mulai populer sekarang, kalau Anda sempat mengamati katalog2 keluaran Jula, Biltema, atau Bauhaus. Oya, berat paket yang saya kirim beratnya 2,5 kg dan biayanya sekitar 300 SEK.
Nah, jawaban yang kami tunggu akhirnya datang dari SMS keponakan saya tadi pagi buta (jam 4 subuh). Dia minta saya menelepon karena dia dan mamanya sedang di Kantor Pos Sungailiat dan tidak bisa mengambil Paket, kecuali harus membayar Rp250 ribu. Orang Pos juga menanyakan berapa nilai barang di Paket itu. Nah.. lo.
Setelah saya telpon mereka tadi siang--usai membaca SMS--ternyata mereka sudah pulang ke rumah dan dipaksa membayar Rp200 ribu--itu pun dengan tawar-menawar lama. Kondisi paket sudah pasti terbuka dan semua barang sudah dilihat. Petugas Pos yang meminta duit bilang, uang sebesar itu untuk membayar Bea-Cukai (Bea cukai??? Sejak kapan petugas Pos bertugas dan menerima bayaran bea cukai? Ada-ada aja, mau PUNGLI kok pake atas nama Bea Cukai). Lagian, kalau ada urusannya dengan Bea-Cukai, kan sudah ditahan sejak di perbatasan (bandara atau pelabuhan) negara.
Hal lain, seperti diceritakan keponakan saya, ternyata Paket tersebut sudah lumayan lama mengendap di Kantor Pos, entah di Jakarta atau di Sungailiat. Tanpa alasan. Padahal paket tersebut seharusnya dikirimkan ke alamat yang dituju--alamat sebuah CV Penitipan Barang, karena Ortu saya tinggal di kampung, jadi semua kiriman dialamatkan ke CV langganan itu. Saya hakul yakin, jika tidak ada tracking dari Kantor Pos Swedia, maka Paket tersebut pasti sudah ditelah bumi--dibagi-bagi sesama petugas Pos kali yee..
Saya menduga, setelah membuka paket dan melihat isinya, petugas Pos Sungailiat dapat ide untuk rencana MEMUNGLI Papa saya, sebagai penerima. "Wah.. ini barang bernilai," mungkin begitu akal bulus mereka. Apalagi mereka tahu, ini berhubungan dengan orang dusun, yang tidak mengerti tata-cara hukum. Jadilah barang bekas yang saya kirim itu kena palak oleh aparat negeri kita yang mentalnya masih mental maling.
Kalau sudah begini, saya jadi berangan-angan, kapan bangsa kita mau bergerak maju. Karena saya yakin, mental yang ditunjukkan pengawai Pos Sungailiat itu bukan cuma seorangan. Tapi memang begitulah keseluruhannya
Info terbaru. Tadi sore, suamiku menerima telepon dari staf Kantor Pos Swedia yang mengurusi keluhan kita. Mereka minta maaf karena ada pelayanan yang mengecewakan. Sebagai konpensasinya, mereka memberi jatah pengiriman gratis seberat 20 kg untuk ke semua negara tujuan di dunia. Ironis kan, yang tidak profesional di sana, yang di sini harus menanggung malu...
Aku pikir, perilaku aparat yang begini-begini ini juga kesalahan kita. Kita ambil bagian membuat mereka tidak merasa "bersalah" berbuat (pungli) sewenang-wenang. Karena, kalau pemakai jasa seperti Ibu Lenah (contoh)nya, tak keberatan dikutip uang 10-20 ribu, lalu Liza, teman di Swedia tak keberatan membayar sekian, lalu kakak saya meski terpaksa tapi
tetap membayar 200 ribu dan ribuan orang lainnya seantero Indonesia mengamini "pungli tidak jelas dasar hukumnya ini" ya.. praktek itu akan berjalan terus menerus dan pada akhirnya menjadi semacam pungut wajib yang dibenarkan!
Mengutip Ibu Lenah yang harus membayar "upeti" hanya untuk menembus kiriman Amplop berisi foto keluarga yang dia kirim ke Indonesia, juga harus diambil di Kantor Pos pula--padahal alamatnya jelas. La.. uang itu untuk membayar apa? Wong nilai prangkonya cukup,
sesuai aturan.
Aku membayangkan, andai kita bisa "melawan bersama-sama" kesewenang-wenangan Pungli yang tidak berdasar itu, dengan membuat komplain, atau menuntut penjelasan dasar hukum pelaksanaannya, maka para aparat ini akan berpikir dua kali untuk mengulanginya. Bukankah ini satu langkah kecil untuk membangun kesadaran hukum rakyat Indonesia..
Oya, suamiku kecewa dan marah sekali dengan pengalaman ini. Dia marah karena kiriman kita yang niatnya membantu dan menyenangkan orang di sana, ujung-ujungnya justru memberatkan mereka. Padahal, kalau kita tahu bakal ada tambahan biaya yang sudah menjadi ketentuan di Indonesia, maka akan kita bayar dari sini.
Sepanjang pagi dan malam ini dia tetap menggerutu gak habis pikir. Aku setuju dengan gerutuan dia. Tapi sebagai orang yang pernah hidup dan besar di Indonesia dan mengamati dari dekat praktek KKN (kolusi,Korupsi dan Nepotisme)ini, aku terpaksa harus menjelaskan sudut pandang pelakunya. Yang entah dari level mana mereka duduk, mereka pasti punya justifikasi. Gaji pegawai negeri kecil, tidak cukup buat hidup, negara belum mampu menyejahterakan mereka, oleh karena itu mereka harus mencari tambahan sendiri. Salah satunya ya dengan Pungli itu.
Just a little thought.
Tambahan: Saya baru ketemu link peraturan yang menjelaskan paket kiriman apa yang terkena cukai dan mana yang tidak. Baca di http://www.beacukai.go.id/library/data/bc8302s.pdf Pasal 11 dan 14. Sayang saya tidak menemukan nilai cukai yang harus dibayar..
Setelah beberapa waktu, pihak Kantor Pos Swedia sendiri merasa bersalah dan bertanggungjawab kenapa kiriman kami tak sampai sesuai dengan jadual normal. Sebagai konpensasi, kami berhak atas voucher gratis untuk mengirim paket seberat 10 kg ke luar negeri. Kami berterima kasih, tentu saja.
Lördagsgodis
Lördagsgodis, Saturday candy atau Permen hari Sabtu, he..he.. boleh dibilang tradisi di Swedia. Lördagsgodis merupakan komitmen yang menyebar di antara banyak keluarga bahwa anak-anak hanya boleh menikmati manis-manisan seperti permen, coklat, ect. hanya saat weekend. Hari lain, kebanyakan anak dengan keluarga menganut tradisi "lördagsgodis" sudah harus maklum dan pasrah bahwa tak akan ada permen untuk dinikmati. Kecuali ada event yang istimewa, seperti ulang tahun dan semacamnya. Itu pun biasanya permen yang dioleh-olehi hanya boleh dinikmati di akhir pekan saja.
Buat anak-anak kami, kebiasaan ini tidak menjadi masalah. Bukan apa-apa. Karena ibu mereka tidak suka permen, maka anak-anak pun tidak biasa menikmati godis. Bahkan banyak permen yang dibeli di beberapa kesempatan akhirnya masuk ke tong sampah karena kadaluarsa.
Di banyak sekolah di Swedia, sudah umum ada larangan membawa permen ke sekolah. Kini, kebijakan ini menjadi perdebatan politik nasional. Karena banyak pihak yang ingin kebijakan ini menjadi kebijakan umum yang menyeluruh. Dalam hal makanan untuk anak di sekolah, Swedia memang termasuk ketat. Bahkan untuk anak-anak di beberapa Kommun (pemda), termasuk di daerah kami, sudah tidak lagi diijinkan disajikannya roti-roti dengan aneka jam atau marmelad dan sejenisnya yang mengandung banyak gula. Kini, banyak sekolah atau daycare, hanya menyediakan roti, roti keras, dengan mentega dan keju saja, atau buah-buahan sebagai makanan selingan. Tidak ada pusat jajan di sekolah-sekolah. Yang ada hanya semacam kios kecil yang menjual "hanya" sejenis roti bagi anak-anak yang membutuhkan. Kalau toh ada anak-anak memiliki kebiasaan jajan, itu pasti dilakukan di luar arena sekolah, ketika mereka pulang atau pergi sekolah.
Perhatian terhadap hal kecil seperti permen ini tentu saja bukan main-main. Banyak negara menjadi contoh betapa dampak kebiasaan atau tradisi makan menjadi hal serius ketika sudah di luar kontrol. Mungkin Inggris menjadi salah satu negara yang kini kelabakan menangani meningkatnya overweight, diabetes, dll di kalangan generasi mudanya.
Saya juga teringat akan kebiasaan di Indonesia, ketika anak-anak dengan bebas jajan semaunya. Mereka hampir bisa membeli apa saja yang mereka mau-asal punya sangu, tentu saja.
Akhirnya Jadi Juga (Dwiwarganegara)
Surat pemberitahuan mengenai dikabulkannya permohonan untuk kedua anak kami, datang kemarin, yang ditandatangani oleh Dubes RI untuk Swedia, Linggawaty Hakim. Bersamaan dengan itu, dikirimkannya juga dua lembar keputusan yang diteken oleh Menteri HAM Andi Mattalatta--melalui Dirjen Administrasi Umum Syamsudin Manan Sinaga, 29 Mei 2008. Untuk Linn dan Robert, keputusannya bernomor: M.HH-459.AH.10.01 Tahun 2008. Setelah saya teliti, ternyata nomor keputusan untuk keduanya sama, meski disalin dalam dua SK. Apakah ini suatu yang biasa, karena keputusan untuk satu keluarga? Atau ada kesalahan teknis? Mudah-mudahan begitu memang seharusnya..
The Rainy August and the Bloody Mosquitos
Alhasil, nyamuk yang biasanya tidak terlalu mengganggu, menjadi isu nasional. Invasi nyamuk di mana-mana. Apa lagi kalau sudah menjelang gelap, kalau pas membuka pintu rumah atau mobil, rasanya kita diserbu tiba-tiba oleh puluhan nyamuk (ini yang keliatan, kawan mereka di belakang, pasti lebih banyak lagi, he..he..) Sudah beberapa kali, ketika anak-anak atau saya lupa menutup pintu ruang tamu ke beranda, nyamuk-nyamuk langsung menyerbu. Robert yang asyik menonton TV, sudah beberapa kali juga datang ke saya dan minta tiger balsam karena tangannya tanpa sadar sudah penuh dengan bentolan merah bekas gigitan nyamuk. Yup, saya terpaksa membeli Tiger balsam di apotek untuk keperluan ini.
Menurut Nastional Encyclopedy yang dikutip oleh artikel ini, di Swedia bisa ditemukan sekitar 2000 jenis nyamuk!! Saya harus membaca artikel ini berkali2, karena takut salah. 2000 jenis, di antaranya yang biasa kami kenal adalah sandmyggor (nyamuk halus/pasir, kalau diterjemahkan kasar), stickmyggor (nyamuk jarum, mungkin karena diliat dari bentuk alat penghisapnya), lalu ada knot dan svidknott, yang bukan menghisap darah, tapi mencuri daging kita dengan gigitannya. Biasanya, gigitan mereka akan terasa sakit sekali, bisa berdarah dan terasa seperti terbakar.
Begitulah Agustus 2008, curahan hujan di Swedia, berkali-kali lipat di atas curah hujan normal. Temperatur sekitar 15-20 derajat celcius. Mostly cloudy dan angin kencang.
Anyway, kami sempat menikmati musim panas yang indah di Juni dan Juli, di mana matahari
Sekarang, sepertinya semua orang masih menunggu datangnya minggu di mana kami bisa menikmati suasana summer terakhir tahun ini. Ya.. Brittsommar atau di amerika dikenal dengan term Indiansummer. Nama Britt diambil dari nama yang menyanggut di kalendernya orang swedia, namnsdag. Brittsommar sendiri adalah fenomena beberapa hari di musim gugur, biasanya antara kurun 7 Oktober, ketika temperatur memanas sekitar 20 derajat dan matahari bersinar terang, layaknya musim panas.
Brittsommar adalah hari yang indah, perpaduan antara sinar matahari keemasan dan daun-daun di pepohonan yang menguning menunggu waktunya berguguran..
UI, Korupsi dan Nurani
Baca artikel di sini: http://www.detiknews.com/read/2008/09/10/183113/1003977/10/agus-condro-dapat-nurani-award-dari-ui
Kadang saya pikir ada yang salah dengan logika berpikir sendiri. Sudah jelas-jelas yang bersangkutan sebagai wakil rakyat terima suap--entah berapa kali, kita gak tahu--lalu ngaku ke KPK. Yang bersangkutan lalu menjadi headlines media massa, dan mirisnya, salah kaprah orang kita, seolah-olah yang bersangkutan pahlawan, jadinya. Seolah-olah, Agus Condro lah mengemban nurani rakyat--simpati bertambah setelah dia kemudian dipecat oleh partainya, PDIP. Pertanyaan saya, apakah dengan pengakuannya, Agus Condro bisa melepas bajunya sebagai penerima suap atau korupsi karena kekuasaannya sebagai wakil rakyat?
Okelah, kalau pihak UI sebagai lembaga intelek mau melihat dia sebagai whistle blower. Tapi bukankan ada macam-macam whistle blower dan tidak semuanya layak dilihat sebagai pahlawan. Saya berprasangka, Agus sebagai whistle blower karena dia kepepet dan berpikiran, satu ketika kebobrokannya sebagai wakil rakyat bakal terbongkar juga. Nah, dari pada nanti KPK harus mengobrak-abrik rumah dia, kenapa gak duluan saja mengaku. Apa whistle blower yang begini layak masuk katagori pahlawan--seperti dimaksudkan FHUI ketika memberikan Award Nurani. Nurani mana yang dimaksud, nurani bersalah atau nurani kejujuran..
Saya kira whistle blower yang layak menerima award macam begini adalah sosok yang jujur, pekerja serius, yang tak tahan melihat kebobrokan di institusinya dan memutuskan untuk saatnya mengabarkan kebenaran kepada publik--boleh jadi semacam dosen IPDN Inu Kencana, yang kendati mendapat tekanan dari mana-mana, tetap berani bersuara.
Kalau toh FHUI ingin menyemangati agar koruptor atau para penerima suap lain mengaku, apa perlu ada award beginian? Apa konstruktif hasilnya? Kenapa award macam begini tidak diberikan kepada mereka-mereka yang benar-benar jujur, bisa orang biasa, bisa orang penting, bisa orang terkenal, yang memang terbukti kebersihan nuraninya. Mana yang lebih penting, berlomba mengelus para koruptor untuk bertobat atau bergiat menyemangati orang-orang untuk berbuat kejujuran??
Bingung jadinya saya. Ush, temen saya yang wartawan di harian terkemuka di Jakarta bilang, jangan bingung, kita kan masih tinggal di Republik Mimpi.. Sedih kan..
Goodbye sekolah gratis (utk Asing) di Swedia
Sayang, sejak Juni kemarin, ada kebijakan baru yang dibuat oleh pemerintah Swedia. Tuition fee akan diberlakukan bagi student dari negara Non EU yang mau bersekolah di Swedia. Tadinya, Swedia boleh dibilang satu-satunya negara di Eropa yang menyediakan sekolah gratis bagi semua orang. Kebijakan baru ini akan berlaku mulai semester baru musim gugur 2010. Jadi masih ada tahun terakhir bagi teman-teman yang ingin menikmati sekolah gratis ini.
Ada banyak alasan mengapa kebijakan ini akhirnya diambil. Salah satunya, karena ada sense of unfairness, karena hampir semua negara di dunia memberlakukan tuition fee. Kalau negara-negara kaya seperti Amerika, Kanada, Jepang, Australia pun mewajibkan warga negaranya membayar fee universitas, mengapa Swedia harus menggratiskan fasilitas ini kepada mereka. Memang dilihat dari statistik, selain student dari Cina, India, Pakistan, mahasiswa dari negara-negara kaya di ataslah yang banyak menikmati kedermawanan Swedia.
Alasan lain menyangkut ruwetnya administrasi menyangkut mahasiswa asal negara non EU. Ambil saja contoh dari 20.000 calon mahasiswa asing yang mendaftar di berbagai universitas di Swedia, musim gugur 2008, setengahnya adalah mahasiswa dari Pakistan. Bisa dibayangkan bagaimana kewalahannya pihak universitas untuk mengecek akreditasi dan keabsahan dokumen, dll, bagi mereka.
Tapi untuk meneruskan kewajiban sosialnya, Swedia direncanakan tidak menutup pintu. Departemen pendidikan dan terkait di Swedia didorong untuk membuka luas kesempatan beasiswa kepada student dari negara-negara berkembang. Bisa melalui SIDA, lembaga non profit yang banyak bekerja sama dengan negara asing, atau langsung melalui universitas yang diminati.
Info lain mengenai studi di Swedia, bisa dicek di sini: http://www.studyinsweden.se/
Oya, sebenarnya, kalau sekolah di Swedia masih gratis, jika dibanding dengan kuliah di universitas mahal di Jakarta, plus biaya hidup (kost), dll, di sini justru lebih murah. Karena sekolahnya gratis, yang perlu kita pikirin ya biaya hidup saja. Student dari Asia biasanya kan toleran, gak masalah kalau harus tinggal di apartemen kecil, dan share dengan beberapa teman. Untuk ini, apartemen seharga 4-5 juta per bulan, bisa dibagi. Lalu kalau masak sendiri, hidup hemat, bisa lebih murah lagi. Hasilnya, pengalaman banyak, merasakan bagaimana hidup di luar negeri, pulang dengan gelar yang dianggap prestisius--meskipun sekolahnya belum tentu lebih bagus dari di Indo. Tapi, lulusan luar negeri, lo.. begitu persepsinya.
Regina, hilang dan kembali Misterius
Regina, remaja asal Bimoti, NTT, yang menghilang dari rumah penampungan anak pencari suaka Estonte di Sundsvall, Swedia, akhirnya secara misterius, kembali, Kamis sore, 11 Desember. Gadis 16 tahun ini menjadi pusat pencarian polisi Swedia dan sejumlah LSM, setelah menghilang 15 November lalu. Ia permisi ke induk semangnya untuk mengembalikan buku ke perpustakaan kota, tapi kemudian menghilang tanpa jejak. Sebuah situs www.findregina.com yang dikelola oleh MC Club Cruiser for Life pun didedikasikan untuk menelusuri jejaknya.
Saya sendiri menerima kabar kembalinya Regina per telepon dari Lena Sundbom, yang bertindak sebagai pendampingnya dalam proses mencari suaka di Swedia. Lena yang dalam perjalanan kereta dari Stockholm ke Sundsvall, menyatakan tiba-tiba saja Regina muncul, ketika pada penghuni rumah penampungan sedang merayakan Lucia. ”Ini hadiah Natal yang fantastis,” ujar Agnita Angström, pengelola penampungan itu.
Sejauh ini, Lena belum bisa bercerita banyak tentang apa yang terjadi terhadap Regina, karena ia dijadualkan bertemu gadis itu, Jumat pagi. Selain itu, induk semang Regina membiarkan Regina istirahat, karena ia terlihat capek dan banyak menangis.
Saya juga sempat mengabarkan kabar gembira ini kepada pihak kedutaan dan disambut gembira. Sekretaris pribadi Duta Besar Linggawaty Hakim menyatakan kemungkinan mereka akan mengirim wakil ke Sundsvall, untuk mengikuti kasus ini.
Terdamparnya Regina asal Bimoti, satu kota tak jauh dari Kupang, NTT, di Sundsvall, kota di tengah Swedia, yang berjarak 350 km di utara Stockholm, memang penuh misteri. Ia tidak bisa bercerita bagaimana dirinya bisa diantar seorang pria ke depan kantor Imigrasi setempat, 26 September lalu. Kepada petugas Imigrasi yang menangani kasusnya, ia hanya mengaku dibawa oleh seorang lelaki kenalan neneknya, Walisah. Satu-satunya orang yang membesarkannya, setelah orangtuanya meninggal. Karena ceritanya itulah, ia kemudian dimasukkan dalam katagori anak pencari suaka tunggal, yang kemudian ditempatkan di penampungan, sampai statusnya jelas.
Menghilangnya Regina, tentu saja memicu kecurigaan sejumlah pihak di Swedia, akan berlangsungnya sebuah perdagangan atau penyelundupan manusia antar negara. Bagaimana Regina bisa menghilang begitu saja selama hampir sebulan dan tiba-tiba muncul kembali. Untuk remaja yang baru mengenal Swedia, tentu sangat sulit untuk ke mana-mana tanpa ada kotak dengan orang yang dikenal atau calo. Apalagi kemampuan bahasa Ingrisnya sangat terbatas dan tidak bisa berbahasa Swedia.
David Lagerlöf, sektretaris pers Ecpat—sebuah organisasi sosial yang banyak terlibat dalam kampanye melawan kejahatan seks terhadap anak, menyebut kasus Regina sama dengan kasus humantrafficking asal Cina yang terdampar di Swedia, tiga tahun lalu.
Menurutnya—seperti dikutip oleh Sundsvall Tidning-rombongan dari cina itu dikirim oleh jaringan penyelundupnya dari Cina dan kemudian mereka ditinggal begitu saja, sehingga kasusnya diambil alih oleh imigrasi Swedia. Selama menunggu proses pengajuan status atau suaka, rombongan ini di tempatkan di penampungan. Dari sinilah kemudian, dimulai babak baru, ketika mereka kembali dihubungi oleh kelompok penyelundupnya untuk memulai babak rencana baru menjadi imigrant gelap di Scandinavia, tidak saja Swedia. Akan halnya kelompok dari Cina itu, kini mereka menghilang tak diketahui rimbanya. Kabarnya, mereka menerima instruksi lanjutan melalui pesan SMS.
Menurut data yang dikutip oleh Cruiser for Life, tahun 2007 saja, ada sekitar 100 anak yang menghilang dari pusat penampungan. Satu informasi yang belum terkonfirmasi menyebutkan di antara jumlah itu, terdapat beberapa orang Indonesia. Tak heran jika muncul pertanyaan, apakah Regina adalah salah satu korban akan trend penyeludupan orang ini.
Swedia sendiri bisa dibilang mulai menjadi tujuan negara perdagangan manusia. Soalnya, negara ini termasuk yang ”murah hati” dengan sistem jaminan sosialnya. Para pencari suaka, di tempatkan di rumah penampungan, diberi uang saku dan pendampingan, termasuk juga sekolah bahasa dan sebagainya. Bagi para imigran suaka, mereka dibiayai oleh pemda atau negara, sampai mereka bisa mendapatkan pekerjaan dan independen.
Untungnya lagi bagi modus penyelundupan orang di Swedia, adalah bebas lintas batas antara negara yang termasuk dalam Perjanjian Schengen. Jika yang bersangkutan bisa masuk ke Swedia, maka ia akan bebas masuk ke negara lain seperti Jerman, Belanda, Finlandia, Perancis, Norwegia, Belgia, Austria, Spanyol, semuanya ada 24 negara.
Kronologis Hilangnya Regina:
- 1. 26 September 2008, Regina diantar seorang pria ke depan kantor Imigrasi Swedia di Sundsvall, sekitar 350 km utara kota Stockholm. Regina mengaku tidak ingat bagaimana ia bisa meninggalkan Bimoni, NTT dan terdampar di Swedia. Ia hanya ingat seorang kenalan neneknya, mengajaknya pergi dengan mobil. Regina pun ditempatkan di rumah penampungan untuk anak pencari suaka, mengingat umurnya baru 16 tahun.
- Sabtu, 15 November, tengah hari, Regina permisi kepada induk semangnya, untuk mengembalikan ukuk e perpustakaan di kota Sundsvall. Tapi sampai 17.30, Regina tak kunjung tiba, induk semangnya pun melaporkan status hilang itu ke kepolisian setempat. Polisi pun menelusuri jejak Regina. Melalui kartu bus yang dimilikinya, ia diketahui menaiki bus menuju perpustakaan, lalu setengah jam kemudian, ia pun tercatat mengembalikan buku pinjamannya.
- Pukul 14.34 hari yang sama, polisi mengendus pemakaian kartu bank atas nama Regina di sebuah mesin elektronik untuk membeli tiket kereta dari Sundsvall menuju kota lain, Gävle. Pada waktu bersama, tercatat pula transaksi pembelian student tiket oleh seseorang. Tiket yang dibeli memakai kartu bank Regina, tercatat untuk kereta dengan waktu keberangkatan 16.11. Anehnya, sekitar 15.45, menjelang keberangkatan kereta, kartu bank Regina kembali dipakai untuk mengambil uang tunai sebesar 300 kr, di sebuah ATM di luar area station. Kondektur kereta yang dihubungi kepolisian mengaku tidak mengenali foto Regina dan dia yakin, gadis itu tidak berada di kereta menuju Gävle. Polisi menduga, Regina dibantu oleh orang lain dalam transaksi membeli tiket kereta.
- Seorang pria melapor ke polisi bahwa ia sempat membantu Regina dan pria remaja yang diduga temannya, ketika mereka membeli tiket kereta. Pria itu menyebut bahwa semula Regina berencana membeli tiket ke Ludvika, sebuah kota lain. Tapi karena tidak ada jadual kereta ke kota tujuan, maka mereka pun membeli tiket ke Gävle dan berniat melanjutkan perjalanan dari sana. Dua tiket seharga 294 kr dibeli dengan kartu bank Regina. Pria itu juga menilai penampilan Regina dan temannya tidak mencurigakan. Mereka kelihatan santai.
- 5 Des 2008, polisi merilis foto baru mengenai keterlibatan seorang pria muda yang berada di samping Regina, saat menarik uang dari sebuah ATM. Polisi berharap bisa mengendus jejak Regina dengan menemukan lelaki ini.
- 11 Desember 2008: Pukul 18.00 sore, Regina tiba-tiba muncul kembali di rumah penampungan di Sundsvall, di saat para penghuni penampungan sedang merayakan Lucia. Ia terlihat kecapean dan banyak menangis.
- 12 Desember; Regina masih enggan berbicara. Bahkan kepada pihak yang memeriksanya ia mengaku hanya ingin kembali ke rumah neneknya, tapi ternyata dia salah turun dari kereta yang dinaikinya. Sampai akhirnya ia ditolong oleh pasangan yang baik dan mengijinkannya menginap di rumah mereka. Tentu saja, penjelasan ini jauh dari logika, bagaimana Regina bisa berpikiran bahwa kereta yang dinaikinya bakal membawanya kembali pulang ke NTT. Dan siapa pasangan orang yang dimaksud, masih tanda tanya besar. Jika Regina mau menjawab jujur, tentu ini bisa membuka sedikit pintu bagi aparat terkait untuk menelusuri kemungkinan Regina berhubungan dengan calo yang mendatangkannya dari desa kecil di NTT sana. ***
Wednesday, March 2, 2011
Teman yang berubah
Ini tentang temanku yang tak lama lagi memutuskan untuk menikah..
Ini tentang temanku yang setengah tahun lalu dalam chat2 nya selalu "disperades" karena gak kawin2 dan bentar lagi khawatir mendapatkan status perawan tua..
Ini temanku yang selalu bertanya-tanya, bisakah aku menemukan pasangan buatnya..
Sebagai teman, aku berupaya.. Kumasukkan profilenya di sebuah dating date online klub di sini, dan wooala! Akhirnya, ada seorang pria yang cocok, dari beberapa yang mengontak.. dan mereka ketemu dan oke.. sekarang dia sudah hampir--bahkan sudah menganggap dirinya Mrs..A.
Dia sudah berubah.. dia tidak lagi disperades.. dia tidak lagi mengeluh seperti chat2 nya beberapa bulan sebelumnya. Dia sudah pede banget.. dia sepertinya tahu semua tentang negara yang bakal dihijrahinya. Negara di kutub yang sangat beda kultur dan seluk-beluknya. Negara yang kutinggali 5 tahun terakhir ini..
Syukurlah.. dia bukan lagi teman yang putus asa, bukan lagi teman yang suka bertanya-tanya, dia sudah pede lagi.. dan boleh dibilang, dia teman yang berubah...
Berubah? Iya.. kini dia tiba-tiba sangat "eksklusif", dia berubah menjadi sangat agama-simbolik. Berpuluh tahun kenal dia, kami jarang sekali menyentuh soal agama. Tapi, kini, ketika dia mau menikah dengan pria yang mengaku agnostic, dan pindah ke negara dengan sejarah panjang kristen tradisional--meskipun 5 tahun di sini aku berkesimpulan--kebanyakan penduduknya tak beragama, jika dinilai dari ketaatan--dia menjadi cenderung mengesankan fanatik sempit.
"Hei..aku dapet temen baru yang juga mau pindah ke sana dan dia islam," tulisnya satu kali dalam chat boks kami. Oij..oij.. sejak kapan aku membedakan temenku yang islam dan non islam.. aku gak pernah terpikir mengkotakkan mereka begitu.. Chat terakhir kami, dia menyebutkan kemungkinan dia batal bertandang ke rumahku, dalam kunjungan dua minggunya ke negeri aku tinggal, bulan depan. Karena dia dan calon Mr. nya punya jadual padat. Mereka ingin bertemu dengan kenalan di komunitas islam di sana dan berkunjung ke imam sebuah mesjid di satu kota beberapa jam perjalanan dari kota calon suaminya..
Oiij..oijj lagi pikirku. Sejak kapan dia suka ke mesjid selama hidupnya di Indonesia? Aku bisa mengira, hanya ketika lebaran, sholad Eid dan sejenisnya. Tapi sekarang, dia memilih bertemu imam, bersama calon pasangannya yang agnostic.. Sebuah perubahan untuk kebaikan? Mudah2 an. My finger crossed!
Yang aku gak habis pikir, mengapa tiba-tiba kita harus menjadi agama-sentris bahkan fanatik dan menjadikan keyakinan kita sebagai sebuah problem. Sementara orang2 di komunitas tempat hijrah kita nanti, sama sekali tidak peduli dengan apa agama yang kita anut. Agama adalah sesuatu yang personal.. Nilai hidup yang dianut di sini, aku kira lebih karena respek. Aku menghargai keyakinanmu dan kamu menghargai prinsipku. Di scandinavia, atau swedia, khususnya, orang-orang berkumpul di rumah, dinner bersama, duduk di depan api unggun dan pohon natal warna-warni di christmas eve, bukan dan lebih banyak tidak berpikir tentang kristus. Semangatnya, aku kira--memanfaatkan moment kebersamaan, lampu pohon natal yang warna-warni menambah keakraban dan keindahan--cosiness. Dan opss.. kalau kita tanya ke mereka, mengapa mereka tidak menghadiri misa di gereja, yang hanya beberapa kilometer dari rumah.. "Kami tidak sedang merayakan kelahiran kristus, kami merayakan midwinter blood, kata beberapa orang yang aku kenal. Ya.. mereka merayakan hari ketika gelap terpanjang dari penanggalan kalender kembali makin pendek dari hari ke hari sampai summer nanti.
Aku penasaran, bisakah eksistensi agama hanya untuk diri sendiri? Satu lagi yang menggelitikku sejak awal, tentang teman ini. Dia menginginkan sebuah keluarga yang sakinah (absurd dan aku tak yakin bisa menjelaskan term ini). Tapi sejak awal, dia ingin aku membantu dia menemukan jodohnya di kutub ini, yang kebanyakan orangnya tak begitu peduli dengan agama dan minim sekali islam terutama. Aku belum pernah menemukan laki2 bule sini yang beragama islam (atau karena kami memang tidak pernah bicara soal agama, he..he..). Nah, bagaimana aku bisa menemukan orang yang dia seusai katagori yang dia mau? Aku katakan ke dia, kalau kamu mencari pasangan islam sejati, kamu salah tempat untuk memilih. Carilah di negeri arab sana, pasti banyak. Tapi dia gak suka orang arab, katanya..
Begitulah.. temanku ini nanti akan kawin secara islam di KUA di Jakarta. Dan bercita-cita untuk mengislamkan calon suaminya yang agnostic. Semoga mereka bahagia..
Wartawan Pelempar Sepatu
Insiden pelemparan sepatu terhadap tokoh negara pada saat kunjungan kenegaraannya ke Irak itu, ditanggapi beragam. Di banyak negara arab, si pelempar ini dielu-elu sebagai pahlawan. Di kalangan wartawan, ada juga yang menganggap dia "hero" tapi ada juga yang mencela. Bahkan di FB ini banyak juga yang nge-fans ke siapalah namanya dia.
Aku sendiri ingin mencela dia. Karena sebagai orang yang pernah dididik dan menjadi wartawan, cukup lama, aku menilai perbuatan dia tidak "senonoh". Sejak dulu, aku selalu tidak sependapat dengan kolega yang tidak bisa membedakan dirinya sebagai aktivis/partisan atau sebagai wartawan. Sebagai wartawan, kerjaan dan tugas kita jelas. Akan halnya dalam kasus kunjungan Presiden AS ke Irak, aku kira gak ada fungsi sepatu dalam kerjaan wartawan, kecuali sebagai alas kaki.
Sebagai wartawan, kalau kita ingin menghantam atau membunuh Bush, maka bunuhlah dia dengan tulisan yang berbobot, tulisan yang menguliti dan melumpuhkan setiap argumentasi politik dan decision yang dia buat. Bunuhlah dia dengan artikel, berita yang akurat, yang dibaca oleh khalayak dan melahirkan persepsi baru di otak setiap pembacanya. Sehingga habis membaca tulisan itu, khalayak bisa bilang,"Hei.. wartawan, Anda benar, mari kita ramai-ramai gebuk Bush dengan sepatu dan sejak hari ini, tak ada tempat buat dia lagi di muka bumi ini."
Andai itu terjadi, maka Anda telah sukses membunuh Bush, tanpa harus mengorbankan sepatu Anda.
Sebuah Salam Pembuka
Dia pun lantas mengirim suggestion agar aku berteman dengan André di FB. Tentu saja tawaran itu aku sambut antusias. Soalnya, aku belum menemukan teman, orang Swedia, yang punya pengetahuan luas tentang Indonesia dan bahasanya. Dan tukar pikiran adalah kegiatan yang aku senangi.
Lalu, aku pun membuka kolom suggestion dan mengirim pesan perkenalan ke André. Ya, aku selalu mengirim pesan ke orang yang bakal aku add ke jaringan kontakku. Menurutku, ini basa-basi yang sopan dan memudahkan orang tersebut untuk mengingat sejarah pertemanan mau pun perkenalan kami. Seperti halnya aku sendiri malas merespon request dari orang yang tidak ada basa-basinya.
Kolom pesan sudah terbuka, aku sempat berpikir, bahasa apa yang harus kutulis? Swedia, Inggris atau Indonesia. Akhirnya, aku putuskan menulis dengan bahasa Indonesia formal, dengan pikiran bahwa André adalah penulis kamus—yang boleh jadi tak suka bahasa informal. Anda dan saya adalah kata ganti yang kupakai dan dengan salam pembuka ”Halo André”.
Beberapa menit kemudian, aku pun mendapat balasan dan konfirmasi pertemanan kami di FB. ”Halo Mbak Sensen”, begitu pesan dari André dimulai. Hoppsan! Pikirku. (Kata ini biasa kami pakai untuk menggambarkan keterkejutan, nyaris sama dengan ekspresi ”alamak” dan sejenisnya. André menulis lugas, singkat, tapi juga mengesankan ”keramahan” dalam pesannya.
Perbedaan gaya bahasa kami inilah yang kemudian aku tertawakan. Aku menertawakan diri, karena memposisikan diriku sebagai ”orang Swedia” (yang menurutku tidak suka banyak basa-basi di awal perkenalan, kaku, dan cenderung formal dan menjaga jarak). Aku ingat, sebuah pelukan (hug, kram) tanda terima kasih dan persahabatan dari temanku, perempuan irak, kepada perempuan Swedia, tetangganya, berakhir menyedihkan. Si perempuan swedia menjauh, karena mungkin menganggap si Irak terlalu friendly. Sementara André sukses mentransformasikan dirinya yang Swedish menjadi Indonesian dengan gaya sapaan: Mbak Sensen-nya.
Kalau saja André orang Indonesia, tanpa ragu aku akan menyapanya dengan Mas, Akang atau Bang. Tapi dia orang Swedia. Di sini, kita harus berhati-hati memakai sebutan paman, tante dan sejenisnya. Karena panggilan itu bisa berarti ”tonjokan” halus, karena memposisikan yang bersangkutan sebagai sudah berumur. Satu ketika, aku dan Robert, anakku, sempat diprotes lelaki 65-an tahun, karena ia menolak dipanggil farbror (uncle). Dia bilang, dia belum setua itu, he..he…
Dalam hal korespondensi singkatku dengan André Moller, muncul tanda tanya dalam hati. Apakah André yang sukses menampilkan sisi keindonesiaannya, karena pergaulan dengan keluarga dan lingkungan Indonesia? Atau aku yang sok menswedia, dengan menawarkan kekakuan dalam sebuah perkenalan?
Anyway, senang berkenalan dengan Anda, Mas André Moller. Kami dan bahasa Indonesia, membutuhkan banyak orang seperti sampean
Kematian
Musim panas tahun kemarin, kami menikmati midsummer dengan keluarga kenalan yang memiliki anak lelaki, 18 tahun. Anaknya kalem, kurus dan setelah beberapa saat, aku tahu dia mengidap leukemia. Ketika kamu berkumpul di pulau kecil milik kakek tirinya, ia baru saja pulang dari cuci darah di RS di Stockholm. Rupanya, penyakit yang baru terdeteksi itu sudah memasuki stadium lanjut. Bibirnya tampak kering dan matanya cekung, tapi ia tampak okey, tenang dan beraktifitas seperti kami yang normal. Aku ingat, kami sempat melancong keliling pulau kecil itu dan berhenti di tengah laut, dengan perahu kecil yang diawakinya. Kami menikmati hotdog di tengah ombak, dengan beer dingin.
Setelah menginap dua malam di pulau kecil itu, memasang jaring ikan dan dua kali makan malam bersama, aku terkesan dengan anak muda itu. Terkesan bagaimana dia terlihat ”tenang” menghadapi hidupnya, yang kata dokter, tak bakal bertahan lama. Rasanya, ingin kupeluk dia, merasakan detak jantungnya, menyalurkan kehangatan darahku di tangannya. Ah, aku ingin berbagi kehidupan dengannya. Tapi bagaimana bisa. Kini, aku bahkan lupa siapa namanya.
Yang kuingat adalah wajahnya yang memancarkan kehidupan. Wajahnya yang menegaskan ”go to hell” kematian. Aku ingat, aku menyiapkan penganan kecil untuk ngopi dia, aku dan suamiku, ketika dia meminta ikut kapal kami pulang ke kota. Weekend itu, dia ingin menghabiskan waktu dengan temen-temannya, katanya. Kami mengakhiri perjalanan dengan obrolan kecil, mengenai sekolah dan kegiatannya. Aku tahu, boleh jadi itu bakal menjadi obrolan kami terakhir.
Dan betul saja, musim gugur kemarin, sekitar November, aku dan suamiku membaca iklan kecil obituari, yang mengabarkan kepergian lelaki muda, yang baru 18 tahun itu. Dadaku sesak, betapa pendek waktunya.
Pertengahan Desember lalu, aku pulang mendadak ke Bangka untuk menjenguk orangtuaku yang sudah sepuh dan sakit-sakitan. Antrian check in di airport Pangkal Pinang, mempertemukan aku dengan sepupu perempuanku. Dia akan berangkat ke Jakarta untuk menjenguk istri adik lelakinya (alm), yang baru saja diketahui mengidap kanker payudara stadium lanjut. Aku terkejut, ah.. Penderita kanker yang dimaksud adalah Aso Ayun, begitu aku menyebutnya, umurnya aku taksir 50-an tahun. Aku kenal cukup baik Aso (kakak ipar) Ayun, karena sewaktu kelas I SMP, aku pernah tinggal bersama keluarga itu, selama setahun lebih. Pekerja keras, sederhana, dan harus ditinggal suami. Ya, Aso Ayun ditinggal mati sepupuku, ketika putra semata wayang mereka masih balita. Seumur hidupnya, Aso Ayun tinggal di Bangka, membesarkan putranya yang kini 20-an tahun. Saking sederhananya, Aso Ayun tak pernah ke Jakarta, meski banyak saudara yang mengundang. Baru ketika terdiagnosis kanker, Aso terbang ke Jakarta untuk berobat sampai ajalnya.
Ada penyesalan mendalam mendengar Aso Ayun meninggal, tak lama setelah aku pulang ke Swedia. Menyesal karena, aku tak disempatkan waktu membesuknya di RS Carolus. Padahal, sejak bertemu sepupuku di bandara, aku sudah menjadualkan untuk membesuk Aso. Tadinya, aku ingin berangkat bersama sepupuku yang langsung menuju ke rumah sakit. Sayang, kami berangkat dengan pesawat berbeda. Dia sampai duluan. Akhirnya, aku janji akan ke sana malamnya, dengan pikiran aku bisa minta diantar salah satu keponakan kami. Di airport, aku pun sempat menelpon keponakan tersebut dan mengutarakan niatku. Ketika itu hujan lebat dan langit gelap, pesawat kami pun tertunda sekitar sejam. Ditambah lagi, Jakarta memang tak bersahabat. Sampai di ibu kota, sore hari, waktuku habis di jalan. Masalah yang lain muncul, ketika keponakan, malam itu tiba-tiba saja harus mengantar orangtuanya ke RS bersalin. Di situ, adik si keponakan sedang berjuang melahirkan. Akhirnya hari berlalu, dan besoknya aku disibukkan dengan rencana lain yang jauh-jauh hari sudah diniatkan. Ingatanku baru kembali ke Aso Ayun, setelah mendengar kabar dari keponakan yang baru saja melahirkan, bahwa perempuan sederhana itu sudah tak kuat lagi mempertahankan hidupnya. Hatiku kembali sesak dan mataku panas.
Kematian dan menjadi tua adalah misteri. Tak ada yang tahu kapan hidup akan berakhir. Aku paham soal ini. Dua tahun lalu, aku mengunjungi tante pihak ibu, yang dulu kerap aku kunjungi waktu aku masih sekolah di Bangka. Dia tinggal sendiri di masa tuanya, dan sudah setengah pikun. Anaknya tinggal tak jauh dari situ. Tante (Thaijie Nyuk Jie) yang dulu kukenal ramah dan baik, tak ingat lagi padaku. Obrolannya pun sudah tak runut. Kuselipkan sedikit uang di tangannya, untuk membeli makanan yang dia suka. Aku merasa, dan benar saja, itu pertemuan terakhir dengannya.
Dua tahun lalu, juga pertemuan terakhirku dengan tante tertua (juga dari garis Ibu), Thaijie Nyuk Fa. Kepergian Thaijie ini tak kami duga sebelumnya. Meskipun ia lebih tua beberapa tahun dari Ibuku, kesehatannya cukup prima. Thaijie selalu rajin membantu mengemong cucu-cucunya. Kabar kepergiannya yang dikirim sepupuku dari Hongkong, menyentak sekali. Aku masih ingat pertemuan dan obrolan kami terakhir. Meski kehilangan, aku bersyukur selalu bisa mengunjunginya setiap kami pulang ke tanah air.
Dua kakak perempuanku yang tinggal di desa kami, kini mulai paham, mengapa aku selalu menyempatkan diri bertanya, siapa saja orang desa kami yang sepuh dan masih hidup atau yang sudah berpulang. Aku biasanya menyempatkan diri berkunjung ke mereka. Sekadar menyapa, menyelipkan uang jajan kecil, di sela jari-jari kurus mereka. Para sepuh di kampungku, umumnya, sederhana saja hidupnya, bahkan kekurangan. Sudah empat sesepuh yang tiada, sejak kepulanganku akhir 2007.
Kakak perempuanku juga mulai paham, mengapa aku ingin ada bungkusan makanan yang diatar ke para tetua itu, setiap kami merayakan hari jadi Ibu atau Papaku. Aku ingin, mereka juga bisa menikmati hajatan yang tak bisa mereka hadiri. Di desa kami, meski hanya pesta ulang tahun biasa, para tetangga dan sanak famili umumnya datang merayakan dengan makan bersama. Orang tuaku sendiri kini paling sepuh. Papaku 85 tahun dan Ibuku 82 tahun. Keduanya sudah sakit-sakitan. Sementara ibuku meski sehat, mulai parah pikunnya. Adalah misteri, sampai kapan mereka bisa menikmati hidup.
Bagi kami—anak-- yang tinggal berjauhan, rasanya berat setiap kali harus pulang dan kembali. Karena kami tak pernah tahu, kapan sebuah pertemuan menjadi yang terakhir. Deringan telepon dari Indonesia, buatku, selalu menakutkan. Takut ada kabar kehilangan. Karena kematian adalah misteri. Kematian adalah kehilangan yang tak kembali.
Kado Terindah
Ketika memasuki dapur, aku liat Linn, putriku yang 6 tahun, sedang naik di kursi yang ditariknya ke depan kulkas. Ia sedang menggapai kotak susu. Beberapa makanan, seperti mentega, dan ham, sudah tersedia di meja. Awalnya, aku tak begitu perhatian. Tapi kulirik ada yang lain dari penampilannya. Ia memakai dua kalung. Kalung emas berbentuk hati kecil dari papanya dan kalung mutiara biru tua yang kubikin khusus untuknya. Di telinganya, sepasang anting panjang (yang tentu saja kebesaran), yang kemarin aku berikan untuk dia coba-coba. Linn tidak seperti gadis kecil lainnya. Dia tak suka gaun, tak suka jepit rambut, ikat rambut dan sejenisnya. Dia tak punya lobang di telinga. Makanya, penampilan dia pagi buta itu membuatku agak terpana. Cantik juga putriku, kalau dandan begitu.
Melihat Linn 'memanjati' kulkas juga bukan pemandangan biasa. Wong, setiap pagi, kami harus bertengkar kecil, dengan beberapa teriakanku agar Linn dan Robert segera duduk di meja makan untuk sarapan, atau untuk mengganti pijama mereka dengan baju ke sekolah. Biasanya, Linn berusaha selama mungkin berselimut dan berbaring di sofa sambil mata memlototi teve.
Karena baru bangun, aku langsung ke toilet dan pikiranku sibuk untuk menyiapkan kue tart buat penganan minum kopi siang nanti. Soalnya, mertuaku dan adik suamiku akan datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun bagi hari jadiku besok.
Ulang tahun. Aku termasuk yang tidak perhatian sama ulang tahun. Mungkin karena dibesarkan dalam kultur Cina, di mana moment ulang tahun hanya dirayakan ketika umur memasuki separuh abad atau seterusnya. Sementara aku masih muda, usiaku baru genap 39. Tapi jujur, kadang umur begini juga lumayan menggelisahkan. Teringat anak-anak yang masih balita. Mudah-mudahan mereka mendapatkan cukup waktu dan kesempatan yang mereka butuhkan dari kami, untuk memasuki dunia orang dewasa.
Setelah sibuk berberes ini-itu, aku lupa Linn yang tampil beda. Aku cuma berpikir, tumben.. kok dia jadi sibuk membantu nyiapin sarapan. Setelah sarapan, "Linn-Robert, ke toilet dulu ganti baju dan sikat gigi." Kalimat ini standar dan otomatis banget keluar dari mulutku, setiap paginya, sebelum mereka menghabisi tegukan terakhir susu di gelas dan menghilang dengan cepat ke depan teve.
"Mama..!" Linn memotong ucapanku. Aku sudah sikat gigi, katanya. Sudah pula ganti baju, biar mama gak repot nyuruh-nyuruh, katanya. Oh.., ujarku, sambil memlototi penampilannya. Baru sadar kalau dia sudah berganti baju, berdandan dengan segala perhiasan, yang tak biasa ia pakai.
Rupanya, pagi ini, dia tidak ingin merepotkan aku. Tidak ingin membuatku naik darah karena anak-anak "menulikan" telinganya dan sibuk menikmati kartun di teve. Rupanya ini hadiah yang dia maksud ketika kemarin gadis kecilku ini berbisik bahwa akan ada hadiah buatku. Tapi rahasia, katanya.
Aku bilang ke dia, terima kasih atas usahanya. Dia tersenyum dan berkata,"mungkin besok (hari senin, ultahku), mama bakal sarapan dengan kue (ini bakal jadi sarapan istimewa, kalau jadi. Soalnya kami biasa makan roti, tiap pagi)." Rupanya ada lagi rencana lain di otaknya, untuk kado ultahku.
Sang Penengah
Rupanya Robert tahu, sejak sejam sebelumnya, terjadi perang dingin yang cukup sengit antara kakak perempuannya, yang 6 tahun, dengan mama yang memasang wajah masam. Linn menyalahkan mama karena telah "merusak" hasil rajutan tangannya, yang berubah patrun. Sementara mama berpikir, patrun baru akan memudahkan gadis itu untuk melanjutkan hobi barunya belajar merajut. Patrun awalnya sendiri, dikerjakan sang papa. Karena tidak suka dengan pola baru rajutan itu, Linn berusaha menarik kembali benang rajutan, yang akhirnya menjadi kacau. Jadilah perang dingin antara Linn dan Mama. Dan putraku yang 4 tahun itu berusaha menjadi penengahnya.
Usaha Robert ternyata tidak berhenti hanya sekadar menyakinkan Mama untuk memeluk Linn. Dia mendatangi Linn di kamarnya dan menanyakan/memastikan apakah Linn mau minta dipeluk. Sekejap kemudian, dia balik ke kamar kami menyampaikan kesimpulannya. "Linn mau dipeluk, tapi dia takut dipukul." "Apa pernah Mama memukul Linn?" aku balik bertanya. Robert menggeleng dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, Linn mendatangi kamar kami, masih dengan isakan setengah manjanya. "Apa kamu mau dipeluk?"tanyaku. "Iya," sengaunya di sela tangisan yang makin menjadi dan ocehan yang gak jelas. Aku tanya, kenapa kamu nangis? Dia berusaha menjelaskan kekesalannya terhadap rajutan yang salah pola tadi. Aku bilang, kalau kamu tak suka, ya ubah saja kembali semula, dan berhenti bicara mengenai rajutan yang menjengkelkan itu. Dia bilang, dia berusaha mengatasi kekesalannya, tapi masih teringat terus. Akhirnya, kubuka tanganku dan menawarkan pelukan. Robert ikut-ikutan mengelus kakaknya.
Linn, dalam banyak hal, mencerminkan tabiatku waktu masih muda. Kalau kesal terhadap sesuatu, maka perasaan itu sering dipendam-pendam dan akhirnya meledak. Sejak kecil, Linn jauh lebih dekat ke papanya, sementara Robert lengket denganku. Linn sangat perasa, sementara Robert sangat easy going.
Akhirnya, kami pun berdamai. Linn minta ijin untuk tidur di ranjang kami, dan disambut gembira oleh Robert yang senang tidak sendiri. Tapi sejenak kemudian, Robert tiba-tiba cemberut. La.. kalau Linn tidur di sini, nanti kakiku gak bebas lagi, keluh dia. "Lo, bukannya kamu suka tengkurap dan menekuk lutut (seperti orang bersujud) kalau tidur," tanyaku. Itu kalau aku kedinginan dan tidur di ranjangku sendiri, kata Robert. Tapi di sini kan ada mama, papa dan Linn, jadi hangat, jadi aku biasa tidur begini, ujarnya, sambil memperagakan badannya yang berbaring lurus. Di bawah, kakinya bertemu kaki Linn, yang tidur di tengah dengan kepala berlawanan arah.
Kedua anak ini punya kebiasaan sejak kecil. Pagi-pagi sekali, ketika mereka terbangun, langsung berlari ke ranjang kami untuk melanjutkan tidur, sambil menghangatkan kaki mereka yang kedinginan, karena selimut yang berceceran. Robert menaruh kedua telapak kakinya di antara pahaku. Sementara Linn selalu memepet ke badan papanya. Waktu mereka masih kecil, kebiasaan ini tidak masalah. Tapi kini, Linn sudah 118 cm dan Robert sudah 107 cm. Karena keduanya tidur di tengah, maka kedua pasang kaki mereka pun bertabrakan.
Yatchnya Kementerian Kelautan
Bukan karena kapalnya yang enggak bagus. Tapi it's a matter of choices. Kenapa memilih kapal Lagoon 500 untuk sebuah ekspedisi mengecek terumbu karang.
Sepertinya, pencetus ide itu adalah mereka yang lebih ingin memuaskan hasrat personalnya, ketimbang memikirkan tujuan riset dan pemantauan lingkungan. Tidak kaget nanti, kalau kita sering mendengar, pak menteri atau para eselon atas di departemen tersebut, jadi rajin turun atau nginap di laut, karena tiba-tiba mereka mendapat fasilitas hotel mewah mengapung yang bisa membawa mereka ke mana saja. Lagoon 500 adalah yacth, kapal layar jenis katamaran mewah, yang biasa dimiliki konglomerat kaya dunia.
The new Lagoon 500 picks up where the successful Lagoon 440 left off, blending innovation and quality in equal parts. The 500 is truly impressive. From the unique flybridge steering station to the nifty rumble seat cockpit forward to the stunning interior finished in mukali wood, the Lagoon 500 leaves an indelible impression. Designers Marc Van Peteghem and Vincent Lauriot Prevost were given a challenging assignment by the Lagoon management team: Design a catamaran for world cruising that includes just about everything you’d want or need at home. That’s right, home; the design premise of the Lagoon 500 was to make the boat as much like a house as possible—albeit a house that can sail at double-digit speeds. (Dikutip dari majalah Sailing USA, Agustus 2006)
Apakah Lagoon 500 ini bagus? Absolutely. Rasa penasaran membawaku menelusuri beberapa situs tempat berkumpulnya para pencinta kapal di Eropa. Hampir sulit mencari sisi jelek dari kapal dengan dua motor ini. Luxurius, boleh jadi kata yang bisa menggambarkan fasilitas yang dimiliki kapal sepanjang 15,5 meter, dengan 6 kabin, 5 toilet, dan kapasitas 10-12 orang ini. Satu pencinta kapal layar memberi resensi, hanya ada 2 hal yang jelek mengenai Lagoon 500, yaitu harganya yang sangat mahal dan karena bobotnya yang super ringan (10.650 kg), maka agak sulit mengerem (mengendalikan) kapal ini, jika angin kencang.
Lalu apa cocok, kapal begini untuk keperluan survey? Lagi-lagi soal pilihan prioritas. Suamiku yang familiar dengan pernak-pernik kapal dan cukup tertarik dengan berbagai teknologi kapal, spontan menyebut pilihan ini sebagai ridicolous. ”Kapal layar untuk kepentingan survey marine? Are you kidding? Saya kira itu lebih untuk kesenangan belaka!” ujarnya, tertawa. Suamiku tidak sekadar ngomong, karena selama musim panas, kami biasanya banyak menghabiskan waktu di laut, dengan kapal tua kami, yang juga bermotor dua, dengan panjang 14 m.
Kalau mau dibanding-banding, kapal jenis katamaran tentu saja lebih fleksibel dibanding dengan kapal layar biasa. Kapal ini bisa berlabuh di perairan agak dangkal, di mana tidak memungkinkan untuk kapal layar konvensional. Kapal ini juga bisa irit diesel, karena kalau cuaca bagus dan berangin, maka tak perlu menggunakan motor untuk melaju. Tapi berlayar juga memerlukan keahlian khusus. Untuk itu tentu harus ada sejumlah kru dan kapten kapal yang handal. Tapi kenapa kok yacth Lagoon 500 yang dipilih dan bukan kapal yang didesain khusus untuk reset kelautan? Kalau soal kenyamanan periset, kapal-kapal ukuran besar, biasanya sudah memiliki standar desain kabin yang tak kurang nyaman. Apalagi kalau untuk berlabuh lama di laut lepas, tentu kapal berbobot berat lebih nyaman dan tegar dihajar ombak.
Dirjen Pengawasan Kementerian KP menyatakan kelebihan Lagoon 500, salah satunya karena irit. Dia membandingkan kapal patroli jenis macan-hiu yang menghabiskan Rp40 juta, hanya untuk solar, sementara Lagoon hanya Rp2 juta, perharinya. Bandingan ini tentu saja relatif, bahkan nyaris tak masuk akal. Namanya kapal patroli, ya kerjanya berkeliling, maka tak heran jika biaya operasinya pun besar. Sementara Lagoon nantinya aku kira cuma dipakai untuk mengantar, menjadi hotel berlabuh, bagi mereka yang riset. Apakah para ahli ini tak lebih baik datang ke satu lokasi, menginap bersama penduduk lokal dan memanfaatkan transport lokal untuk keperluan risetnya. Dengan begitu, tentu mereka bisa berdialog dan mendapatkan pengetahuan komprehensif mengenai apa yang mempengaruhi satu ekosistem laut.
Biaya bahan bakar solar Rp40 juta per hari untuk kapal operasi, seperti yang dirujuk Dirjen Pengawasan Kementerian KP, terkesan berlebihan. Katakanlah kapal operasi itu menggunakan 2 motor, sama halnya dengan Lagoon, dan kapal kami. Maka, kapasitas solar di tiap tangkinya kemungkinan adalah 500 liter. Itu artinya, tiap mengisi penuh tangki solar (1000 liter x Rp4500/ltr), biayanya tidak lebih dari Rp5 juta. Dan untuk kapal kami yang berbobot 13 ton—sebagai perbandingan—memakan 4 ltr solar per hampir 2 km. Itu artinya, dengan seribu liter solar di tangki, kapal kami bisa berlayar sekitar 500 km. Tidak begitu jelas, kapal operasi macam apa yang dimaksud Pak Dirjen. Tapi biaya operasional Rp40 juta (hampir 9 ribu liter solar) per hari, agaknya tidak masuk akal.
Kalau dugaanku benar, Lagoon 500 nantinya lebih banyak dipakai sebagai basecamp untuk para periset kelautan. Semacam hotel bintang lima saja, pendeknya. Padahal esensi risetnya sendiri ada di dalam laut, yang membutuhkan berbagai peralatan dan teknologi canggih untuk mendukung akurasi hasilnya. Kalau Kementerian KP menghabiskan Rp14 miliar untuk hotel mengapung saja, berapa banyak lagi alokasi dana untuk keperluan esensial riset itu sendiri? Alat dan teknologi, dan tentu saja ahlinya. Jangan-jangan, ini lagi-lagi fenomena pejabat kita. Senangnya pada semua yang berbau artificial, yang mewah-mewah, tak peduli rakyat yang menderita karena sarana dan prasarana untuk mereka yang serba seadanya.
Andai Departemen Kelautan ini bijak, aku kira mereka akan lebih mengedepankan efisiensi dan efektifitas kerja dalam pemantauan terumbu karang. Apalagi kalau Lagoon ini dimaksudkan untuk beroperasi di seluruh perairan Indonesia. Tidak sekadar mangkal di perairan Ancol saja. Aku sulit membayangkan, kapal ini akan hilir mudik secara efektif memantau terumbu karang di ujung Sumatera, lalu berlayar ke peraian Bali-Lombok, sampai dengan Kalimantan. Kalau atas nama ngirit solar, kapal ini bergerak dengan layar dan angin, maka jarak dari pulau ke pulau ini pun bakal ditempuh berbulan-bulan. Seperti perjalanan yang biasa dilakukan para fun-adventurer eropa, yang berlayar kesana-kemari menjelajahi pulau-pulau selama musim panas. Para pelayar tentu tahu apa yang kubicarakan. Tujuan utama para pelayar bukanlah tempat, tapi lebih penjelajahan itu sendiri. Ambisi mereka menaklukkan angin dan alam. Aku pernah menyaksikan bagaimana seorang pelayar berkutat berlama-lama mencoba melabuhkan kapalnya di pelabuhan, di mana kami berlabuh. Itu hanya karena dia menunggu arah angin yang tepat. Padahal, ia bisa memakai motor kapal dan berlabuh dalam 10 menit.
Kalau saja Departemen Kelautan dengan budget Rp14 miliar itu memutuskan membeli kapal yang tidak semewah dan semahal kapal pesiar Lagoon , tapi kapal yang efektif untuk menjelajahi kepulauan kita, lalu sisanya dipakai membeli secukupnya kapal motor kecil yang didistribusikan ke berbagai daerah. Maka para kanwil Kelautan di daerah bisa bekerja efektif, tanpa menunggu datangnya Lagoon 500 dari Jakarta.
Note tambahan:
Aku baru nemu rumus menghitung perjalanan dengan kapal layar dari seorang pelayar Swedia, yang memutuskan menjual rumahnya, dan berlayar mengarungi laut Atlantik.
Dia bilang rumusnya gini:
1 jam terbang dgn pesawat = seminggu berlayar
1 jam mengendarai mobil = sehari berlayar.
Hidup Mahal di Indonesia (oleh2 perjalanan mudik)
Greetings dari sang pilot menenangkan hatiku. Finally, I’m home, begitu kira-kira. Bukannya sok lupa dari mana asalku dan lupa paspor di tangan masih berlambang Garuda. Tapi home di sini lebih karena zona rasa aman yang kurasakan ketika memasuki udara Swedia. Everything will be according to the rule. Itu yang membuat aman dan nyaman. Gak ada zona abu-abu dalam hampir setiap urusan. Tidak ada yang bertanya aku warga negara mana, agama apa. Mata sipit dan kulit kuning langsat, tidak menjadi bahan diskriminasi. Kepemilikan atas 10 nomor kependudukan, menjelaskan semua informasi yang mereka butuhkan.
Kelegaan ini bukan juga tanpa alasan. Sejak check in keberangkatan dari Jakarta sudah muncul masalah. Bawaanku overloaded. Tas yang masuk bagasi 30 kg, berat maksimum yang ditolerir oleh penerbangan Etihad. Aku gembira, karena tadinya sudah siap-siap membayar ekstra. Tapi kemudian si petugas mulai iseng. Tas bagasiku ukuran standar, dia minta ditimbang juga. Meskipun tak terlihat dari luar, isinya ternyata berat, karena snack kemplang dan mpek-mpek buatan saudara, 17 kg. Si petugas bilang tidak bisa, mesti dikurangi jadi 7 kg maksimum. Aku bilang, Aku bersedia membayar overweight. Anehnya, dia yang gak mau melayani, karena menurut dia, kemahalan. Dia menghitung cepat, bisa Rp10 juta, katanya, tak sebanding dengan harga bawaanku. Kok jadi dia yang memutuskan sebanding atau tidak, Aku mendongkol, sambil berpikir keras dari mana dia mendapat angka Rp10 juta. Wong, aku biasa berhubungan dengan jasa pengiriman. Kiriman lewas EMS Express untuk 20 kg saja tak lebih dari 3 juta.
Alternatif yang dia tawarkan adalah membuang sebagian dari isi tas. Aku terpaksa setujui karena gak mau repot. Saudaraku yang menunggu di luar, kemudian sibuk memisahkan, yang ringan, masuk ke tas tangan, yang berat dan kompak dimasukkan ke tas plastik jinjing. Aku balik ke counter check in, ditimbang, tas tangan tinggal 11 kg. Lagi-lagi dia menolak. Kubuka tas itu dan menawarkan rendang atau krupuk yang mau dia ambil. Tapi si petugas menolak dengan alasan itu oleh-oleh. Aku bilang, kubayar berapa kelebihannya, tapi lagi-lagi anehnya dia tidak mau melayani. Setelah berdebat beberapa menit, seorang petugas penerbangan itu menghampiri dan memerintahkan si petugas meloloskan tasku, karena waktu boarding sudah hampir habis. Kepalaku pusing dan mulai berkeringat karena mesti lari sana-sini. Selain itu, aku juga tidak mengerti, mengapa tidak dibolehkan membayar saja biaya kelebihan itu. Mau uang pelicin? Aku tidak mau berprasangka.
Kepulangan mendadak selama 2 minggu lalu, terbilang melelahkan, meskipun senang juga bisa berjumpa keluarga dan teman. Tepat 2 tahun setelah kepulanganku terakhir, rasanya banyak yang berubah di Indonesia. Kota Jakarta makin semerawut, meskipun atas nama pembangunan. Pembangunan jalan tol Kalideres ke arah Jakarta Selatan, misalnya, terlihat sangat ”manual” dan tradisional. Alat berat yang terlihat hanya satu-dua, selebihnya urusan gali menggali dan memecah beton, dilakukan oleh kuli-kuli. Di satu sisi, boleh jadi ini bagus untuk pengerahan tenaga kerja. Tapi, berapa besar dampak ekonomi dari kemacetan, kesemrawutan dan inefisiensi sepanjang tahun akibat pembagunan konvensional ini?
Masih teringat ketika, minggu siang, 7 Desember, aku mendarat di bandara Soekarno-Hatta setelah menempuh perjalanan 22 jam rute Arlanda-Frakfurt-Abu Dhabi-Jakarta. Pilot Etihad, perusahaan penerbangan milik Emirat Arab ini, mengabarkan Jakarta cerah dan udara 32 derajat Celsius. Aduh.., rasanya tak rela meninggalkan ruang pesawat yang dingin dan nyaman dan harus siap-siap menikmati panas, debu dan polusi Jakarta.
Keluar dari pesawat artinya siap-siap berjuang. Di antaranya berjuang melawan panas dan ketidakdisiplinan. Benar saja. Memasuki area pengambilan bagasi, semua sudah desak-desakan. Semua berusaha berada terdekat dengan gerai berjalan untuk bagasi. Alhasil hanya beberapa orang di lingkaran itu saja yang bisa melihat bagasi yang berputar, karena semua pandangan tertutup badan mereka. Dalam hati aku mengumpat, ”welcome home!” Apakah orang kita tidak pernah belajar? Termasuk untuk hal-hal yang kecil dan simpel. Contohnya, antrian bagasi itu. Di banyak bandara international, ada garis pembatas sederhana, 1 meter, di mana semua orang menunggu. Ini artinya, jarak pandang semua terbuka untuk melihat semua bagasi. Orang hanya mendekat ke trolley berputar untuk mengambil bagasinya, as simple as that! Gak ada desak-desakan.
Keluar bandara, gerah dan serbuan calo taksi menambah ketidaknyamanan. Mau naik apa? Taksi di Jakarta begitu banyak macamnya dan cerita reputasi buruk taksi juga berjibun. Hanya satu yang sering direkomendasikan teman-teman, Blue Bird Group. Tapi ternyata untuk mengenali taksi Blue Bird juga susah-susah gampang. Banyak taksi lain yang mencoba meniru dan nyaris menyamai logo dan warna populer mereka. Penasaran, apa Blue Bird sudah mematenkan logo mereka ini.
Menginap semalam di Jakarta, perjalanan berikutnya menuju kampung kelahiran, Mapur, di ujung utara pulau Bangka. Tidak banyak yang berubah di Bangka. Dari udara, kolam-kolam gersang bekas tanah penambangan timah tampak di mana-mana. Di Mapur sendiri, yang menjadi salah satu pusat pertambangan timah, dan yang terbaru adalah perkebunan sawit, populasi penduduk bertambah pesat. Pekerja pendatang dari Jawa, Lampung, Palembang, dan sekitarnya, membangun rumah-rumah sederhana di sepanjang jalan masuk ke desa Mapur. Ekses dari perubahan ini tidak saja positif, karena semakin hari trend kriminalitas pun bertambah. Mulai dari kejahatan kecil seperti maling, sampai dengan perampokan serius dengan senjata api, yang melibatkan pendatang. Konon, banyak geng kriminal dari Sumatera Selatan atau Palembang yang menyeberang mencari mangsa.
Hidup di Mapur Semahal Swedia
Sejak beralih profesi dari jurnalis ke wiraswasta, aku dipaksa makin cermat berhitung soal ekonomi. Maklum, sebagai entreprenur di negeri semacam Swedia, semua mesti dikerjakan sendiri dan tidak hanya soal berapa laba masuk kantong. Swedia adalah satu dari negeri dengan pajak termahal di dunia. Pajak pendapatan bisa mencapai 60 persen dan semua konsumsi, kecuali buku dan rumah sakit, dikenakan 25 persen. Soal pajak ini, tak banyak yang bisa kita protes, karena negara dengan sistem jaminan sosial dikelola pemerintah, maka pajak adalah baterai penggerak semua institusinya.
Nah, jika dibanding-banding, ternyata biaya hidup di Mapur atau Jakarta, sama mahalnya dengan hidup di Swedia. Di Mapur, ikan tenggiri harganya Rp50-60 ribu perkilo, daging (babi atau sapi) perkilo sama juga sekitar 60-an ribu. Padahal, sekitar 7 km dari rumah orang tua kami, laut menghampar. Bedanya dengan di Swedia, apa-apa di sini mesti ditambah 25% pajak, sementara di Indonesia, semua bisa masuk kantong sendiri. Aku merasakan, ongkos hidup di Mapur, luar biasa besarnya. Uang sudah seperti hasil nyetak sendiri. Paling tidak seratus ribu untuk belanja makan perhari untuk sekeluarga. Ini belum ongkos-ongkos lainnya. Misalnya, kalau ada keperluan mendadak ke kota. Tidak ada bus yang beroperasi setelah tengah hari. Untuk mencarter mobil pribadi, paling tidak Rp200-300 ribu. Jangan tanya soal listrik, sejak saya lahir, kami harus mandiri dengan lampu petromak dan diesel sendiri. Sedikit kemajuan sekarang, tiang listrik sudah berdiri di sepanjang jalan desa, tapi tidak ada yang tahu kapan bakal menyala.
Aku membayangkan betapa beratnya hidup penduduk di kampung kecil, yang dulu kaya dan terkenal dengan lada putih dan jeruknya. Kini hampir semua tanah tergerus untuk penambangan timah. Perkebunan sawit dalam tempo tak lama juga bakal mengeringkan kesuburan tanah di sana, Hampir tak ada lagi lahan bagus untuk perkebunan. Banyak keresahan yang terungkap oleh penduduk asli Mapur mengenai masa depan mereka. Ketika tanah tak lagi subur, maka harapan hidup pun suram. Dan yang nelangsa, tidak ada satu pun agenda jelas pemerintahan yang bisa (dan bekerja untuk) memandu rakyat seperti di desa-desa ini. Rakyat ya harus survive sesuai kemampuannya.
Di perkebunan sawit, pekerjanya mayoritas pendatang. Upah mereka pun terbilang cuma pas untuk makan perhari. Setelah dipotong sana-sini, yang dibawa pulang tinggal Rp40 ribu perhari. Di Swedia, upah bersih rata-rata per jam sekitar Rp120 ribu. Itu upah untuk pekerja rendahan. Jauh jika membandingkan soal income ini. Tapi soal mahalnya barang-barang, ternyata nyaris sama.
Sebelum mengakhiri perjalanan mudik, aku menyempatkan diri menginap 2 malam lagi di Jakarta. Kali ini, kusempatkan untuk melihat pusat bisnis di Tanah Abang, yang ternyata sudah jauh modern dari ingatanku dulu. Pusat grosir Tanah Abang kini besar, bersih dan nyaman. Bahkan jauh lebih nyaman dari Pasar Pagi Mangga Dua yang berjubel dan sempit. Di pasar ini, aku melihat-lihat celah untuk mengekspor tekstil.
Hari terakhir, kuhabiskan dengan bertemu kawan-kawan jurnalis, sambil berbagi cerita. Kami bertemu di areal jantung Jakarta, Senayan City. Aku ibarat orang dusun yang terpana melihat berbagai simbol modernisasi dan teknologi yang mewabah di Indonesia. Kawan-kawanku, paling tidak memegang dua, bahkan 3 telpon genggam dalam kesehariannya. Alat komunikasi Blackberry, merupakan simbol status bagi pemiliknya. Konon, Blackberry sudah mirip kacang goreng di kota-kota besar Indonesia. Mobil-mobil mewah berseliweran, mal-mal selalu terlihat padat. Bahkan di resto-resto mahal—yang kebetulan saya hampiri karena ditraktir—pun tak mudah mencari meja kosong. Hebat! Krisis seakan tak menjangkau Jakarta. Dalam hati kubertanya, apakah ini hasil kehebatan program ekonomi pemerintah atau daya survival rakyat yang memang luar-biasa?
Beda dengan dampak krisis ekonomi berkepanjangan di belahan bumi Eropa. Tiap hari, kami disuguhi berita keprihatinan, berapa banyak tenaga kerja yang terancam ter-PHK. Berapa banyak usaha yang bangkrut dan budget pemerintah yang tak terpenuhi. Bahkan kini, Volvo yang menjadi simbol kebanggaan rakyat Swedia tergadaikan ke Geely Automobile, perusahaan mobil Cina, setelah pemerintah Swedia menyatakan tidak sanggup mengambil-alih perusahaan mobil itu dari Ford.
Event natal dan tahun baru yang biasanya mampu menghidupkan ekonomi di sektor perdagangan, bisa terbilang suram. Kami yang berada di sektor riil dan usaha kecil, merasakan, christmas sale kali ini terburuk dari tahun-tahun sebelumnya. Meski banyak pakar memprediksi krisis segera berakhir di Eropa, kondisi lapangan menyiratkan krisis masih berkepanjangan.
Budaya Antri
Blackberry di mana-mana
Sebuah Perkawinan dgn Jaminan
Secara singkat, jaminan ini tercantum dalam Rancangan Undang-Undang tentang Hukum Materiil Peradilan Agama Bidang Perkawinan masuk dalam bahasan Program Legislasi Nasional tahun 2010. Di mana Pasal 142 ayat 3 menyebutkan bahwa pria WNA yang hendak menikahi perempuan WNI diharuskan membayar jaminan Rp500 juta yang harus didepositkan di bank Syariah.
Seorang teman kuliahku dulu, memposting pertanyaan kritis mempertanyakan kenapa aku bergabung dalam group itu. Lalu terjadilah dialog kecil kami mengenai hal ini:
Jenderal Itseng:
Loh jaminan itu khan buat ngelindungan perempuan wni nya ? ko malah ditolak siy...????
Sen Gustafsson:
Ngelindungin dari sapa? Kenapa gak sekalian aja, uangnya dikasih ke calon istri atau ortunya. Perkawinan kan urusan domestik-personal. Kenapa kok jadi urusan negara. La.. apa bedanya suami orang asing dengan suami sesama WNI. Apa ada bukti bahwa suami wni lebih bertanggungjawab dlm hubungan suami-istri, dibanding dengan suami WNA? Policy begini kan dibuat berdasarkan pikiran diskriminatif, tidak saja terhadap para lelaki, tapi juga diskriminatif terhadap perempuan. Di sini, negara juga menempatkan perempuan sebagai pihak yang tidak bisa menjalankan hak dan kewajibannya (tidak mampu bertanggungjawab), karena harus ada perlindungan khusus.
Dan lagi Tanu, aku juga penasaran: apa dasar dari kebijakan begini. Apa sudah ada permintaan dari para perempuan, untuk minta dilindungi oleh pemerintah. Kenapa harus perempuan yang kawin dgn wna mendapat perlakuan khusus begini. Kenapa gak anak dan fakir miskin yang dipikirin saja, ketika mereka memang gak punya kesempatan untuk hidup lebih baik.
Gitu lo.. pikiranku....
Jenderal Itseng:
ooooo gitu, kalo cowo wna nya dari kawasan skrg sen sen maybe bisa masuk katagori bertanggungjawab, cuma yg kejadian disini khan beda, coba deh observasi kejadian kejadian kawin yg sekarang marak di kawasan puncak dan daerah laennya, yg melibatkan cowo wna keturunan arab yg kadang cuma berlangsung seminggu bahkan bisa 3 hari... gimana tuh... apa ...ngga perlu dilindungin yg model begituan,... sen tiap kebijakan pemerintah pasti ada dampak bae n buruknya tergantung drmn kite mandangnya... gimana?????
Sen Gustafsson:
Tanu, aku tahu yang kamu maksud. Tahun 2002, aku pernah ikut menulis laporan panjang mengenai fenomena kawin kontrak di Puncak, untuk majalah Trust.
Tapi aku yakin masalahnya tidak akan selesai dengan uang jaminan 500 juta ini. Kenapa? Karena fenomena yang terjadi di Puncak itu adalah fenomena kawin kilat/kontrak yang didasarkan pada hukum Islam, kawin sirih-kamu lebih tahu dari aku, gimana ritualnya. Aku ingat dulu ada kyai yang menikah hanya semalam, dengan dalih kawin agama ini.
Nah, bagaimana mengsingkronkan hukum islam dengan hukum nasional?
Aku ingat orang tuaku yang dulu kawin dengan tradisi kepercayaan Kong Fu Cu, tanpa mendaftar ke catatan sipil, maka kami 11 org anaknya dianggap anak haram. Tak bisa memakai nama dan marga Bapak kami di akte lahir. Padahal jelas-jelas prosedur ritualnya sudah diikuti, disaksikan banyak orang, dan sampai sekarang hidup rukun, tetap saja secara ansih hukum, peran bapakku tidak diakui. Aku kira memikirkan dampak perkawinan yang kayak begini ini lebih berguna, ketimbang pakai jaminan segala.
Btw, kamu konsern juga sama masalah ini ya . Salut!***
Itu dialog kecil kami. Dialog besar mengenai hal ini masih berlanjut di pikiranku saat ini.
Kenapa sering kali penggagas kebijakan itu hanya melihat hal-hal yang kontroversial dan menanganinya secara pukul rata. Jadi ingat pepatah, kalau mau membasmi tikus, jangan lumbung padinya yang dibakar.
Kalau ingin menjamin dan melindungi hak-hak perempuan Indonesia, mengapa hanya perempuan yang kawin dengan WNA saja yang dilindungi? Bagaimana dengan perlindungan kaum perempuan yang kawin dengan WNI? Apakah ada statistik jelas, bahwa yang kawin dengan orang asing lebih banyak yang teraniaya, dibanding yang kawin dengan sebangsa? Lalu apakah lelaki WNA lebih tidak berkeadilan dibandingkan lelaki sebangsa? Berapa sih bandingannya, dan apa buktinya? Apakah bandingan antara keduanya sebanding, sehingga, negara perlu memuat pasal yang diskriminatif ini?
Di Denmark, pasangan beda negara diharuskan mendepositkan sekitar Rp100 juta untuk bisa tinggal di sana. Ini sebagai bentuk jaminan karena jaminan sosial di sana memang ditanggung oleh negara. Kendati begitu, jaminan ini mendapat kritik terus-menerus.
Di Swedia, untuk memberikan perlindungan kepada mereka yang menikah (tidak hanya perempuan saja), maka ada sejumlah peraturan menyangkutnya. Dan yang unik, meskipun negara ini liberal dalam urusan status hubungan; nikah, sambo (kumpul kebo), sarbo (kumpul kebo tapi tinggal terpisah), dan bahkan kini pasangan sesama jenis pun diakui keberadaannya, dan bahkan bisa menikah di gereja, tetap saja ada ketentuan vital: seseorang hanya boleh punya satu partner. Tidak boleh double atau tripel. Semua orang yang mau menikah, diharuskan dulu membuat keterangan berstatus single—di mana status ini tercatat dalam lembaga kependudukan negara. Jadi, tidak ada yang bisa bersuami atau beristri lebih dari seorang.
Bentuk keadilan begini, aku kira lebih baik. Lalu, jika ada perceraian, maka ada penetapan mengenai harta bersama, harta gono-gini, nasib anak dan segala macam yang menyangkut kesejahteraan mereka. Warga negara apa pun, selagi perkawinan itu diakui oleh hukum Swedia, maka hak dan kewajibannya adalah sama.
Tidak begitu jelas, pasal dalam RUU ini diperuntukan bagi siapa. Hanya untuk muslimkah? Atau bakal menjadi hukum nasional yang mengatur semua pernikahan. Kalau hanya untuk muslim, bagaimana menyesuaikannya dengan hukum nasional. Jangan-jangan, nanti ada yang sampai mengaku bukan Islam, untuk menghindari jaminan Rp500 juta ini. Nah lo..
Uang sebanyak Rp500 juta bukannya sedikit. Kalau di-kronor-kan maka hampir setara dengan 420 ribu kronor Swedia. Banyak sekali yang bisa dilakukan dengan uang sebenar itu, yang nantinya—kalau pasal ini diberlakukan—hanya tidur di bank Syariah.
Aku saja contohnya. Memulai usaha kecilku di Swedia, dengan pinjaman mikro dari bank, sebanyak 200 ribu kr, yang aku cicil dalam 4 tahun. Dengan uang itu, aku bisa membuka butik kecil dan sejauh ini, meski jauh dari berhasil, tapi berhasil membangun harga diri dan independensiku sebagai entreprenur dan perempuan mandiri dengan embel-embel pemilik usaha. Andai saja, aku mendapatkan pinjaman sebesar uang jaminan itu, kemungkinan usahaku kini sudah berkembang dua kali lipat dan lebih maju lagi. Ini di Swedia.
Ops... ada sedikit yang ingin aku tambahkan, soal pajak penghasilan di Swedia. Untung menghasilkan uang sebanyak 420.000 kronor itu dan diendapkan ke bank syariah Indonesia, maka yang bersangkutan harus menghasilkan uang berkali lipat. Karena paling tidak 40-50% dari jumlah itu sudah dipotong pajak.
Aku membayangkan akan kecil sekali kemungkinan lelaki Swedia mampu mengawini perempuan Indonesia di tanah air, karena untuk itu, paling tidak mereka harus menyisihkan lebih dari 600 ribu kronor (sekitar Rp700 juta lebih), hanya untuk keperluan prosedural pernikahan, belum pesta kawin dan tetek-bengeknya. Angka yang fantastis, bagi mereka yang hanya pekerja biasa!
Kalau uang itu dipakai untuk modal usaha di Indonesia, maka bisa dihitung berapa banyak mulut yang bisa dihidupi dan diberi peluang kerja. Kalau uang itu dipakai oleh suami-istri yang bersangkutan, kemungkinan mereka bisa membangun hidup yang baik dan sukses. Berapa banyak, keluarga yang berantakan dan merana, karena himpitan ekonomi dan kesulitan hidup? Aku kira, pemerintah, DPR, dan instansi terkait harus mempelajari berbagai aspek ini, sebelum benar-benar sampai pada kesimpulan bahwa Rp500 juta uang jaminan itu adalah sebuah keharusan dan efektif untuk mencegah perceraian antara pasangan berbeda bangsa!
Muncul banyak sekali rasa pesimistis dengan pasal jaminan ini. Bagaimana pengaturan jaminan tersebut dan sampai kapan jaminan itu bakal mengendap di bank. Bagaimana kalau tiba-tiba ada keperluan keluarga yang mendesak. Siapa yang berhak memutuskan sebuah jaminan masih diperlukan atau tidak diperlukan. Apakah setelah usia berkawinan menginjak 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, atau sampai salah seorang dari pasangan itu meninggal dunia? Karena yang namanya jaminan, sifatnya sementara.
Lalu bagaimana jika yang justru ingin bercerai adalah sang istri pribumi. Dalihnya bisa macam-macam, ingin uangnya, menemukan cinta yang lain, dan segudang alasan lain. Lalu kalau pasangan itu terdiri dari lelaki pribumi dan perempuan asing, apakah diberlakukan juga pasal yang sama?
Aku kira ada persepsi vital yang salah mengenai keharusan jaminan ini. Karena dengan itu, seolah-olah hubungan kasih-sayang, cinta dan kekeluargaan di antara pasangan yang menikah, menjadi terkontrol oleh bentuk material jaminan. Padahal hakekat hubungan itu sendiri adalah perasaan dan kemanusiaan. Dan selalu ada persepsi salah bahwa orang asing selalu memiliki uang berlimpah dan wajib ditekan-tekan harga diri dan hak hakikinya oleh peraturan. Belum lagi, banyak perempuan Indonesia kemudian merasa ”terjual-belikan” oleh negara, karena hakekat kecintaan mereka, keputusan independen mereka sebagai orang dewasa, harus digadaikan dengan jaminan Rp500 juta!