Wednesday, March 28, 2012

Berani membuka peluang

Kemarin, 27 maret, mengalami perbincangan menarik per tlp dgn direktur Kantor Sosial di pemda kami (aku titip pesen di voicemail box-nya Bpk itu, utk minta ditelpon kembali). Salah satu yg enak di sini, meskipun bos di departemennya, mereka hrs menghargai org spt aku, anonim-nobody yg minta ditelpon utk kepentingan tertentu.

Singkat kata, aku jelaskan bhw aku tadi mampir ke kantornya utk mengantar CV dan melamar menjadi karyawan magang di devisi baru yg tengah mereka bangun, khusus menangani: imigran dan pencari suaka. Sejak lama, aku ingin sekali mempraktekkan ilmu dan gelar sosiolog yg sdh nganggur 19 thn itu:)

Bapak itu yg juga imigran, ramah dan akomodatif sekali--seperti referensi yg aku dgr dari karyawan di kantor itu. Untuk beberapa bln ke depan, selama musim panas, ia tdk bisa menjanjikan tempat utk magang, karena mereka dlm tahap membangun devisi, termasuk kantor. Tapi ia berjanji, setelah musim panas, kalau aku masih tertarik, ia akan menyediakan tempat untuk itu. "Meskipun magang, saya kan ingin kamu merasa bagian dari karyawan dan diperlakukan layak (punya kantor dan fasilitas), "katanya. Tawaran itu, tentu saja aku sambut gembira, meski kemungkinan harus menunggu sampai September nanti.

Paling tidak, satu misi utk menjejakkan kaki dan membuka kontak di sana, bukan mustahil. Di sini, seperti juga di negeri kita, orang harus rajin membuka kontak utk mencari pekerjaan yg diidamkan.

Lucunya, dan ini pelajaran berharga yg belakangan mulai aku sadari; jangan pernah merasa takut utk mulai (membuka kontak, menelepon, bertanya ttg kemungkinan dan prospek), karena pada akhirnya: yang terburuk dari kemungkinan itu adalah gagal atau jawabannya tdk seperti yg kita harapkan. Tapi paling tdk, dgn keberanian itu, kita tahu, jawaban apa yg ada di depan.

Tadinya, aku selalu ragu utk bertanya atau menelpon org2 yg duduk di posisi kunci itu. Bosku yg sekarang dan suamiku, sering mendorong dan menantang. Telpon aja.. dan tanya.. Paling2 jawaban yang terburuk adl mereka tdk bisa membantu. Tapi bagi kamu, itu adl kejelasan, dari pada menyimpan pertanyaan: mungkin gak ya...?

Sunday, March 6, 2011

Macet atau Macet di Puncak?

Macet di kawasan Puncak sih bukan berita, apalagi pas akhir pekan. Begitu kira-kira asumsi banyak orang. Dan ketika ada berita macam di www.detik.com hari ini, soal macet 13 jam, orang-orang pun paling bisa hanya menggerutu. Baca link soal macetnya di sini: http://us.detiknews.com/read/2011/03/06/063844/1585381/10/parah-13-jam-berlalu-jalur-puncak-masih-lumpuh-total

Aku sekeluarga mengalami kemacetan serupa, ketika akhir tahun 2010, kami memutuskan untuk berlibur di Puncak. Tanggal 29 Desember, dalam perjalanan ke daerah penginapan kami di kawasan Kota Bunga, kami mampir dulu di Taman Safari. Kami memulai perjalanan dari Jakarta subuh hari. Suamiku yang orang Swedia, tak habis pikir, mengapa kami begitu khawatir dengan macet sehingga harus berangkat pagi-pagi sekali.

Perkiraan kami tepat, kami keluar tol Jagorawi dalam keadaan lancar dan sampai ke Taman Safari juga dengan nyaris tanpa kendala.

Anak-anak puas menyaksikan aneka fauna dan menjelang sore, kami siap mengakhiri safari dan selanjutnya menuju ke Puncak. Waktu itu sekitar pukul 3 sore. Keluar dari Taman Safari, tidak masalah, tapi jalan kami terhenti di lokasi parkir pertokoan yang menjual jajanan "oleh-oleh", sekitar beberapa ratus meter dari persimpangan jalur utama Jakarta-Puncak. Di depan kami, antrian mobil memenuhi parkiran pusat pertokoan itu, dan juga di sepanjang badan jalan.

Semula, kami kira perhentian ini cuma sebentar. Kami mendapat informasi bahwa jalur Puncak-Jakarta sedang ditutup dan saat itu sedang dibuka satu jalur Jakarta-Puncak, sampai pukul 16.30 wib. Kami sendiri akan mengarah ke Puncak--sama dengan arah lalu lintas yang sedang berjalan, karenanya timbul pertanyaan kenapa kami harus berhenti di sini. Insting jurnalisku bekerja otomatis. Soalnya, kalau menunggu lagi, maka kami tak mungkin bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak, karena sebentar kemudian, rute akan berubah menjadi satu arah Puncak-Jakarta.

Di depan pertokoan itu ada jalan kecil di kanan jalan, yang bisa dijadikan jalan pintas atau jalan alternatif menuju ke Puncak. Tapi untuk bisa memakai jalan itu, kita dipaksa harus dibantu dan tentu saja dengan membayar jasa penunjuk jalan. "Katanya, harus bayar 50 ribu, Mbak!" seorang pengendara mobil lain, bercerita.

Seperti ceritaku tadi, insting jurnalisku bekerja cepat. Aku turun dari mobil dan berjalan maju, melihat situasi di depan. Jalan utama yang menjadi pintu masuk ke kawasan Taman Safari itu tampak lenggang. Tidak ada tanda-tanda bahwa kendaraan tidak bisa melewati jalan yang mungkin sejauh 1 km itu. Sejumlah penghalang hanya di pasang di badan jalan, persis di depan pertokoan, sehingga mobil-mobil terpaksa berhenti di situ, yang dijagai beberapa orang.

Aku mencoba bertanya ke beberapa pengendara, mengapa kita harus berhenti di sini. Semua menggelengkan kepala. Cuma, seorang supir bercerita, pasti ini akal-akalan kelompok orang setempat, polisi, dan kerja sama dengan pemilik toko. Soalnya, kalau toh, rute dijadikan satu arah, mengapa mobil diharuskan berhenti persis di depan pertokoan--seolah-olah orang dipaksa turun dan berbelanja. Padahal, jalan di depan sekitar 1 km menuju pertigaan jalan utama, kosong melompong. Dan mengapa pula, semua mobil dipaksa berhenti. Bukankah pengendara yang akan ke Puncak, mestinya bisa melaju? Seorang pemuda yang mendengar obrolan kami, ikut menimbrung. "Mau kemana, Mbak? Lewat jalan situ bisa, kalau mau ke Puncak," ujarnya sambil menunjuk jalan kecil di seberang pertokoan.

Aku melirik sebentar, dan bertanya,"kalau lewat situ harus bayar berapa memangnya? katanya harus 50 ribu. Masak harus dipajekin!" Akh.. gak gitu, katanya. Nanti saya bantu kalau mau.

Aku melirik jam tangan. Sekitar 20 menit lagi, arah jalur akan berubah dari Puncak ke Jakarta. Itu artinya, kami akan terhenti di sini, entah sampai kapan.

Aku cari akal. Aku hampiri seorang bapak, yang mirip orang kantoran atau politisi, yang berdiri di samping jalan. "Pak, kenapa kita diberhentikan di sini?" Dia menggeleng kepala. Lalu, sok yakin aku bilang," pasti ini cuma akal-akalan orang di sini saja. Semua mesti berhenti, supaya orang bisa belanja. Kalau mau jalan pintas mesti bayar. Padahal jalan di depan melompong. Lagian, kayak kami, la.. kan mau ke Puncak, masak gak bisa jalan," kataku.

Oh.. iya..ya, kata bapak tadi. Tadinya saya juga mau ke Puncak, tapi karena terhenti di sini dan sudah sore, jadi batal deh.. Coba saya telpon dulu wartawan Sonora, biar dia yang mengontak polisi, katanya. Terjadilah percakapan telepon singkat, mirip bos yang memberi perintah ke bawahannya. Aku tersenyum simpul.

Setelah ngobrol sedikit, pemuda yang menawarkan bantuan tadi, bergabung juga bersama kami. Bapak itu--seperti mungkin pekerjaan sehari-harinya--meminta agar si pemuda itu membantu aku karena akan ke Puncak dan sebentar lagi jalur itu bakal ditutup.

Bagiku tidak ada pilihan lain, selain bersiap-siap membayar beberapa puluh ribu kepada penunjuk jalan itu, ketimbang menunggu di depan pertokoan, tanpa tahu kapan jalan akan dibuka.

Apesnya, mobil kami ternyata berada cukup di tengah, sehingga butuh kerja sama dengan mobil-mobil lain untuk bisa keluar ke jalan lagi. Di situlah, peran lelaki tadi. Alhasil, last minute, kami berhasil keluar ke jalan dan langsung mengambil jalan kecil, yang ternyata hanya tak lebih dari 100 meter menuju jalan alternatif menembus ke jalan utama Puncak.

Meski harus mengorek Rp20 ribu, kesal kami terlampiaskan. Daripada menunggu dengan perut lapar dan tanpa kejelasan.

Aku membayangkan, jika aku tak bertanya sana-sini, maka kami pasti masih akan terhenti di situ dan mengikuti arus mobil-mobil lain. Berhenti tanpa tahu kenapa?

Aku percaya, situasi itu dibuat sedemikian rupa oleh oknum-oknum tertentu untuk meraup pendapatan. Pertokoan mendapatkan pembeli yang terpaksa berbelanja karena bosan menunggu dan mungkin kelaparan. Lalu, para preman yang memaksa pengendara untuk membayar uang menuju jalan pintas. Dan pak polisi, pasti tahu gelagat ini, dan hampir pasti mendapat jatahnya sendiri.

Ini trik penghidupan di Indonesia-ku.

Friday, March 4, 2011

Coincident

Kebetulan. Kadang, banyak jenis kebetulan-kebetulan yang membuatku merenung. Adakah sesuatu dibalik kebetulan itu.

Rabu kemarin (2 Maret 2011), misalnya. Aku tengah berjalan kaki menuju tempat kerja suamiku. Sepulang bertemu dengan orang di Departemen Tenaga Kerja (Arbetsförmedlingen), aku langsung ke tempat suamiku, untuk menjemput anak-anak yang kutinggal di sana. Sesuai janji dengan mereka, kami akan pergi ke Mc Donald yang tak jauh dari situ.

Di tengah perjalanan, persis depan sebuah sekolah, entah kenapa, aku tiba-tiba teringat temanku Liping, perempuan Cina yang baru 2-3 tahun ini bermukim di Swedia. Liping selain kukenal di sekolah bahasa, juga kerap datang mengunjungiku di butik. Dia ingin berlatih bahasa Swedia.

Ketika itu, terpikir olehku, mungkin Liping dan keluarganya sudah kembali ke apartemen mereka saat itu. Karena aku tahu, sejak 2 minggu terakhir, mereka terpaksa pindah ke apartemen sementara, karena lantai apartemen mereka sedang direnovasi. Aku sendiri, pernah mengunjungi mereka di apartemen sementaranya, yang berapa agak jauh dari pusat kota.

Nah, karena ingatan itu, aku tiba-tiba berhenti di seberang sekolah tadi dan mengambil handphone. Aku ingin menelepon dia untuk bertanya kabar. Bunyi dering singkat saja, dan aku dengar dia berteriak, "Aku liat kamu.. aku liat kamu," dalam bahasa Swedia. Aku kebingungan, karena tidak mengerti maksudnya. Maklum, bahasa Swedia dia, tak lebih bagus dari bahasaku. Lalu, sambil bertanya balik, aku pun meneruskan langkahku.

Setelah beberapa kali bolak-balik mendengarkan ocehan dia, baru aku mengerti bahwa ketika aku berhenti di seberang sekolah dan mulai bertelepon, dia sedang mengamatiku dari jendela dapur sebuah apartemen, di sisi jalanku. Sayangnya, dia tidak bisa membuka jendela kaca itu untuk berteriak atau melambaikan tangan.

Aneh? Bagiku, aneh sekali... karena bagaimana mungkin, mereka tiba-tiba menempati sebuah apartemen di sisi jalan itu. Sementara aku tahu, apartemen sementara mereka ada sekitar 15 menit dari situ, dan apartemen mereka yang sedang direnovasipun butuh beberapa jarak dari situ. Dan yang lebih anehnya lagi, kenapa aku tiba-tiba berpikir tentang dia dan meneleponnya.

Thursday, March 3, 2011

Inmemoriam seorang Kawan

Dear Kawans,
Siang ini, ketika aku selesai berberes di dapur, iseng, aku mengecek HP, siapa tahu ada missed calls atau SMS. Sejak tinggal di Swedia, jarang sekali aku peduli dengan HP, karena memang gak banyak yang menelepon. Paling keponakan kirim SMS dari Indonesia.

Tapi siang ini, aku disentakkan oleh 2 SMS, satu dari Fenty dan satu SMS lagi belum aku kenali no. pengirimnya (any way, thanks for both of you), yang mengabarkan bahwa Bang ABB sudah meninggalkan kita. Aku termenung sekian menit. Menit berikutnya, aku bercerita kepada suamiku tentang si Abang. Ini kebiasaanku yang baru. Mengingat Johan, suamiku, tak tahu menahu siapa yang kumaksud. Maka, seperti halnya ketika mendengar kabar Munir meninggal, kabar soal Bang ABB pun membuka memoriku tentang dia. Lalu, keluarlah semua kenangan berkesan saat bekerja dan berkawan dengan Agus Butar-Butar (ABB) selama kami bekerja di Majalah Forum Keadilan.

Akh.. tanpa disadari, sudah lama sekali aku tak bersua dengan ABB. Aku mencoba mengingat-ngingat kapan terakhir bertemu dengannya. Tapi aku sudah lupa. Mungkin sudah lebih 5 atau 6 tahun. Terakhir yang kuingat, dia nonaktif dari Sinar Pagi. Oya, dulu, kami masih sempat menikmati mobil baru yang dia terima ketika bergabung dengan SP.

Banyak kenangan berkesan saat-saat di FORUM dan bekerja dengan ABB. Dia sosok yang mewakili banyak sisi; teman kerja, abang, guru, dan pelindung sekaligus pengayom. Meskipun badannya besar, suaranya bergemuruh, tapi tak sekalipun aku menemukan kemarahan yang meluap dari si Abang. Tak terdengar sumpah serapah. Meskipun, dia orang Batak, Bung! ABB sangat pintar menempatkan dirinya dalam berbagai suasana.
Tentara dan Polisi, adalah dua institusi yang paling dipahami ABB. Aku belum pernah menemukan orang lain yang kepandaiannya melebihi ABB dalam berkomunikasi, bersosialisasi sekaligus melobi tentara maupun polisi. Dari jenderal bintang 4 sampai dengan kolonel dan prajurit, dia tahu bagaimana mengambil hati mereka. Kalau sebagai jurnalis, kami butuh melobi tentara atau polisi--dari pangkat tertinggi sampai kopral--ajaklah ABB, semua urusan bakal jadi lebih mudah. Apalagi ABB adalah fotografer handal.

Tahun 1996, kami berdua ditugaskan untuk meliput latihan gabungan ABRI dari semua Angkatan di Kepulauan Natuna, pulau terjauh Indonesia yang terletak di Laut Cina Selatan antara Semenanjung Malaysia, Borneo, Vietnam, dan Kamboja. Seminggu di sana, di antara para tentara, dengan kondisi seolah "dalam peperangan", medan yang berat, menjadi relatif ringan bersama ABB. Bahkan ada saat-saat fun, ketika kami menyewa motor pergi berkeliling kampung dan pulang ke camp, dengan keranjang besar penuh durian.

ABB suka sekali menikmati makanan. Apa saja, yang berlemak, yang pedas, yang gurih. Kalau Anda ingin makan enak, tanyalah ABB, kemana kita harus pergi. Salah satu restoran padang favorit ABB dan sejumlah fotografer lain terletak di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Lalu, kami juga beberapa kali makan ikan bakar di Muara Angke. Kamping dengan ABB sebagai komandan, adalah kenangan indah yang tak terlupakan.

Aku yakin banyak sekali kenangan berkesan bersama ABB yang juga dikenang kawan-kawan lain. Kini, saat mendengar kabar kepergiannya, aku tak kuat menahan air mata. Semoga Bang ABB diterima di sisi Nya, dilapangkan jalannya. Buat keluarga yang ditinggalkan, semoga anak-anak dan istri Abang diberi kekuatan dan keiklasan.

Pendaftaraan Anak WNI Ditunda di Swedia (di tempat Anda?)

Update:

Surat keputusan status ke-WNI kedua anak kami sudah keluar menjelang 17 Agustus 2008 kemarin, lalu disusul dengan keluarnya paspor untuk keduanya oleh KBRI Stockholm 20-an Oktober kemarin.Ternyata, ini yang saya tidak tahu, biaya pengurusan dwi kewarganegaraan sebesar 500 kronor (atau sekitar Rp700 ribu, kalau pakai kurs 1 kr = Rp1400) sudah mencakup pembuatan paspor untuk anak-anak. Dengan begitu, saya berkesimpulan, ongkos yang ditetapkan cukup ekonomis.

*****


Tulisan ini sebenarnya saya tulis untuk milis lain. Tapi karena isu ini menyangkut orang banyak. Mungkin ada gunanya jika kita bisa berbagi informasi.

Ini menyangkut pelaksanaan UU Kewarganegaran RI yang belum lama ini diundangkan. sementara di beberapa negara lain seperti Jerman, Kanada, Amerika, sudah berjalan. Tapi baut kami di Swedia, masih harus menunggu. Menurut Second secretary di KBRI Stockholm, pihaknya mendapat faksimili dari Deplu-- yang kami ketahui kemudian, faksimili itu diteken oleh Dirjen Hukum, Deplu. Jawaban ini melalui penjelasan susulan atas email pertanyaan saya di Milis Komunitas Indonesia di Swedia--untuk menunda pelayanan pendaftaran WNI bagi anak kawin campur dan masyarakat yang ingin mendaftar WNI. Salah satu alasannya, karena diperlukan penataran. Di sini ada beberapa diskusi terkait. http://groups.yahoo.com/group/rumah_indonesia/message/1747

Kalau penataran yang dijadikan alasan penundaan. Ujung-ujungnya pasti soal dana. Bisa dibayangkan budget yang dibutuhkan untuk menatar para staf KBRI di berbagai belahan dunia itu. Anehnya, kalau perlu penataran, mengapa KBRI di negara seperti AS, Jerman dan Kanada, tidak menunggu penataran juga?

Tadinya, saya mengira kebijakan penundaan ini merupakan kesepakatan lintas departemen antara Kantor Menteri Hukum dan HAM dan pelaksana lapangan Kantor Imigrasi dan Deplu. Tapi ternyata Menteri Hukum Hamid Hamid Awaludin mengaku kaget dan tidak tahu-menahu.

Jadi begini ceritanya;
Setelah menerima penjelasan dari Pak Wibi Second Secretary KBRI Stockholm tentang adanya perintah penundaan Pendaftaran WNI bagi Anak Kawin Campur (sesuai dengan surat dari Jakarta yang diterima KBRI 4 Desember), saya mencoba mencari informasi lebih lanjut. Maklum, naluri jurnslid saya jadi tergelitik. Ada apa? Wong UU nya sudah ada, PP nya sudah jelas, tapi masih ditunda realisasinya.

Lalu saya mencoba mengontak beberapa teman (wartawan) di Jakarta. Kalau mungkin saya bisa "menitip" pesan (pertanyaan) buat Pak Hamid (Menteri Hukum dan HAM), yang dulu sebelum menjadi menteri adalah kawan diskusi kami untuk soal politik dan hukum.

Setelah cek sana-sini, pertanyaan saya akhirnya sampai dan dijawab oleh Pak Hamid. Menteri Hukum mengaku kaget mendengar adanya perintah penundaan ini. Dia, menurut kawan saya Wartawan Anteve, mengaku tidak tahu menahu alasan dan adanya penundaan. Menurut dia, di beberapa negara, pendaftaran sudah berjalan lancar. Ia, melalui teman tadi, mengatakan kalau saya butuh cepat, bisa mengirimkan langsung pendaftaran anak saya ke Jakarta.

Nah, mendapat kabar ini, saya jadi bingung sendiri. Ada apa? Bukan saya mau menyalahkan KBRI Stockholm. Wong, saya yakin Pak Wibi dan kolega di sini, hanya menjalankan perintah dari Pusat. Saya tadinya bertanya-tanya juga, Perintah Pusat yang dimaksud Pak Wibi, instansi mana, apakah Deplu atau ada kebijakan lintas departemen, dalam hal ini keputusan bersama antara Deplu dan Menteri Hukum dan HAM. Tapi, kalau betul, Hamid Awaluddin menyatakan tidak tahu, saya jadi berkesimpulan bahwa perintah tunda datang dari Pejambon sendiri. Belakangan saya baru tahu kalau perintah tunda datang dari Dirjen Hukum, Deplu. Apa alasannya masih buram. Tapi sekadar info, mungkin ada kaitannya dengan posisi Swedia dalam hubungan diplomatik dengan Indonesia. Seperti kita tahu, posisi Ambasador untuk negeri ini sempat kosong selama 4 tahun, sebelum diisi oleh Ambasador Linggawati Hakim yang baru saja menempati posnya, akhir November lalu.

Pertanyaan saya kemudian, kenapa? Dan saya kira Deplu dalam hal ini KBRI sebagai kepanjangan tangan, perlu menjelaskan kepada masyarakat yang terkena langsung dampak UU WNI ini. Soalnya, di banyak negara, sebelum anak atau masyarakat memiliki sertifikat WNI, mereka tetap harus mendapatkan dan membayar visa untuk masuk ke Indonesia.

Kalau hal ini dikaitkan dengan perlunya Penataran (seperti kata Pak Wibi), harus dijelaskan juga ke masyarakat, kapan penataran ini berlangsung dan bakal selesai. Dari kaca mata saya, Pejabat KBRI sebenarnya sudah tidak perlu lagi ditatar mengingat Peraturan Menteri dari UU WNI ini sudah sangat rinci (seperti yang tercantum dalam lampirannya). Apalagi KBRI dalam hal ini hanya--tolong koreksi kalau saya salah--bertindak sebagai fasilitator untuk menerima aplikasi masyarakat dan melanjutkannya ke Menteri Hukum. Jadi, logikanya, sepanjang semua formulir dan dokumen yang diperlukan terpenuhi, ya.. tidak bakal ada masalah.

Semangat kita kan efisiensi birokrasi!

Mental Maling (Birokrasi) Kita

Saya mau berbagi kabar sekaligus pengalaman--mungkin nanti berguna buat kawan-kawan yang mengalami. Ceritanya, kami mengirimkan sebuah paket untuk orangtua saya di Bangka. Tapi meski sudah dua bulan berlalu, paket tersebut belum kunjung tiba.

Akhirnya, kami mengontak Kantor Pos Swedia untuk meminta di tracking, paketnya ada dimana. Di Swedia, ya seperti biasa, gampang banget, dengan buka website Kantor Pos dan mengetik No. pengiriman, ketahuan deh, jalur paket tersebut. Pendek kata, beberapa hari setelah dikirim, paket itu sudah sampai di perbatasan Swedia dan siap terbang ke Indonesia. Nah, sampai di sini jadi masalah, karena tidak ada lagi sistem online komputer. Semua data barang dibuat dengan manual. Menurut Kantor Pos Swedia--setelah 2 kali komunikasi per telepon--butuh waktu minimal seminggu untuk mengeceknya sampai Indonesia.

Kami pun menunggu.
Sebagai informasi, barang yang kami kirimkan adalah handphone Nokia bekas, yang diperlukan Orang Tua saya di rumah, sebagai satu-satunya alat komunikasi. Tidak bisa HP lain, kecuali Nokia tua yang ada colokan antena di belakangnya (saya lupa serinya). Nah, karena Ortu saya tinggal di desa kecil yang belum ada listrik PLN (cuma pake mesin diesel) dan juga tidak ada signal HP. Maka alternatifnya adalah menggunakan HP tapi dengan bantuan Antena tinggi untuk mencari signal. Barang lain yang saya kirim adalah Kamera digital dengan baterai--ini pun bekas kami pakai. Kami kirim ke sana karena kamera ini gampang dioperasikan dengan baterai.

Selain itu, kami juga mengirimkan Senter (lampu tangan) yang menggunakan dinamo bukan baterai. Ada 6 buah, maksud kami buat dibagi-bagi ke saudara dan tetangga di kampung. Maklum, tanpa listrik, senter ini pasti bermanfaat. Cukup memutar dinamo satu menit, lampu bisa dipakai 30 menit. Sebagai info tambahan, Senter ini termasuk inovasi baru yang mulai populer sekarang, kalau Anda sempat mengamati katalog2 keluaran Jula, Biltema, atau Bauhaus. Oya, berat paket yang saya kirim beratnya 2,5 kg dan biayanya sekitar 300 SEK.

Nah, jawaban yang kami tunggu akhirnya datang dari SMS keponakan saya tadi pagi buta (jam 4 subuh). Dia minta saya menelepon karena dia dan mamanya sedang di Kantor Pos Sungailiat dan tidak bisa mengambil Paket, kecuali harus membayar Rp250 ribu. Orang Pos juga menanyakan berapa nilai barang di Paket itu. Nah.. lo.

Setelah saya telpon mereka tadi siang--usai membaca SMS--ternyata mereka sudah pulang ke rumah dan dipaksa membayar Rp200 ribu--itu pun dengan tawar-menawar lama. Kondisi paket sudah pasti terbuka dan semua barang sudah dilihat. Petugas Pos yang meminta duit bilang, uang sebesar itu untuk membayar Bea-Cukai (Bea cukai??? Sejak kapan petugas Pos bertugas dan menerima bayaran bea cukai? Ada-ada aja, mau PUNGLI kok pake atas nama Bea Cukai). Lagian, kalau ada urusannya dengan Bea-Cukai, kan sudah ditahan sejak di perbatasan (bandara atau pelabuhan) negara.

Hal lain, seperti diceritakan keponakan saya, ternyata Paket tersebut sudah lumayan lama mengendap di Kantor Pos, entah di Jakarta atau di Sungailiat. Tanpa alasan. Padahal paket tersebut seharusnya dikirimkan ke alamat yang dituju--alamat sebuah CV Penitipan Barang, karena Ortu saya tinggal di kampung, jadi semua kiriman dialamatkan ke CV langganan itu. Saya hakul yakin, jika tidak ada tracking dari Kantor Pos Swedia, maka Paket tersebut pasti sudah ditelah bumi--dibagi-bagi sesama petugas Pos kali yee..

Saya menduga, setelah membuka paket dan melihat isinya, petugas Pos Sungailiat dapat ide untuk rencana MEMUNGLI Papa saya, sebagai penerima. "Wah.. ini barang bernilai," mungkin begitu akal bulus mereka. Apalagi mereka tahu, ini berhubungan dengan orang dusun, yang tidak mengerti tata-cara hukum. Jadilah barang bekas yang saya kirim itu kena palak oleh aparat negeri kita yang mentalnya masih mental maling.

Kalau sudah begini, saya jadi berangan-angan, kapan bangsa kita mau bergerak maju. Karena saya yakin, mental yang ditunjukkan pengawai Pos Sungailiat itu bukan cuma seorangan. Tapi memang begitulah keseluruhannya

Info terbaru. Tadi sore, suamiku menerima telepon dari staf Kantor Pos Swedia yang mengurusi keluhan kita. Mereka minta maaf karena ada pelayanan yang mengecewakan. Sebagai konpensasinya, mereka memberi jatah pengiriman gratis seberat 20 kg untuk ke semua negara tujuan di dunia. Ironis kan, yang tidak profesional di sana, yang di sini harus menanggung malu...

Aku pikir, perilaku aparat yang begini-begini ini juga kesalahan kita. Kita ambil bagian membuat mereka tidak merasa "bersalah" berbuat (pungli) sewenang-wenang. Karena, kalau pemakai jasa seperti Ibu Lenah (contoh)nya, tak keberatan dikutip uang 10-20 ribu, lalu Liza, teman di Swedia tak keberatan membayar sekian, lalu kakak saya meski terpaksa tapi
tetap membayar 200 ribu dan ribuan orang lainnya seantero Indonesia mengamini "pungli tidak jelas dasar hukumnya ini" ya.. praktek itu akan berjalan terus menerus dan pada akhirnya menjadi semacam pungut wajib yang dibenarkan!

Mengutip Ibu Lenah yang harus membayar "upeti" hanya untuk menembus kiriman Amplop berisi foto keluarga yang dia kirim ke Indonesia, juga harus diambil di Kantor Pos pula--padahal alamatnya jelas. La.. uang itu untuk membayar apa? Wong nilai prangkonya cukup,
sesuai aturan.

Aku membayangkan, andai kita bisa "melawan bersama-sama" kesewenang-wenangan Pungli yang tidak berdasar itu, dengan membuat komplain, atau menuntut penjelasan dasar hukum pelaksanaannya, maka para aparat ini akan berpikir dua kali untuk mengulanginya. Bukankah ini satu langkah kecil untuk membangun kesadaran hukum rakyat Indonesia..

Oya, suamiku kecewa dan marah sekali dengan pengalaman ini. Dia marah karena kiriman kita yang niatnya membantu dan menyenangkan orang di sana, ujung-ujungnya justru memberatkan mereka. Padahal, kalau kita tahu bakal ada tambahan biaya yang sudah menjadi ketentuan di Indonesia, maka akan kita bayar dari sini.

Sepanjang pagi dan malam ini dia tetap menggerutu gak habis pikir. Aku setuju dengan gerutuan dia. Tapi sebagai orang yang pernah hidup dan besar di Indonesia dan mengamati dari dekat praktek KKN (kolusi,Korupsi dan Nepotisme)ini, aku terpaksa harus menjelaskan sudut pandang pelakunya. Yang entah dari level mana mereka duduk, mereka pasti punya justifikasi. Gaji pegawai negeri kecil, tidak cukup buat hidup, negara belum mampu menyejahterakan mereka, oleh karena itu mereka harus mencari tambahan sendiri. Salah satunya ya dengan Pungli itu.

Just a little thought.

Tambahan: Saya baru ketemu link peraturan yang menjelaskan paket kiriman apa yang terkena cukai dan mana yang tidak. Baca di http://www.beacukai.go.id/library/data/bc8302s.pdf Pasal 11 dan 14. Sayang saya tidak menemukan nilai cukai yang harus dibayar..

Setelah beberapa waktu, pihak Kantor Pos Swedia sendiri merasa bersalah dan bertanggungjawab kenapa kiriman kami tak sampai sesuai dengan jadual normal. Sebagai konpensasi, kami berhak atas voucher gratis untuk mengirim paket seberat 10 kg ke luar negeri. Kami berterima kasih, tentu saja.



Lördagsgodis

Lördagsgodis, Saturday candy atau Permen hari Sabtu, he..he.. boleh dibilang tradisi di Swedia. Lördagsgodis merupakan komitmen yang menyebar di antara banyak keluarga bahwa anak-anak hanya boleh menikmati manis-manisan seperti permen, coklat, ect. hanya saat weekend. Hari lain, kebanyakan anak dengan keluarga menganut tradisi "lördagsgodis" sudah harus maklum dan pasrah bahwa tak akan ada permen untuk dinikmati. Kecuali ada event yang istimewa, seperti ulang tahun dan semacamnya. Itu pun biasanya permen yang dioleh-olehi hanya boleh dinikmati di akhir pekan saja.

Buat anak-anak kami, kebiasaan ini tidak menjadi masalah. Bukan apa-apa. Karena ibu mereka tidak suka permen, maka anak-anak pun tidak biasa menikmati godis. Bahkan banyak permen yang dibeli di beberapa kesempatan akhirnya masuk ke tong sampah karena kadaluarsa.

Di banyak sekolah di Swedia, sudah umum ada larangan membawa permen ke sekolah. Kini, kebijakan ini menjadi perdebatan politik nasional. Karena banyak pihak yang ingin kebijakan ini menjadi kebijakan umum yang menyeluruh. Dalam hal makanan untuk anak di sekolah, Swedia memang termasuk ketat. Bahkan untuk anak-anak di beberapa Kommun (pemda), termasuk di daerah kami, sudah tidak lagi diijinkan disajikannya roti-roti dengan aneka jam atau marmelad dan sejenisnya yang mengandung banyak gula. Kini, banyak sekolah atau daycare, hanya menyediakan roti, roti keras, dengan mentega dan keju saja, atau buah-buahan sebagai makanan selingan. Tidak ada pusat jajan di sekolah-sekolah. Yang ada hanya semacam kios kecil yang menjual "hanya" sejenis roti bagi anak-anak yang membutuhkan. Kalau toh ada anak-anak memiliki kebiasaan jajan, itu pasti dilakukan di luar arena sekolah, ketika mereka pulang atau pergi sekolah.

Perhatian terhadap hal kecil seperti permen ini tentu saja bukan main-main. Banyak negara menjadi contoh betapa dampak kebiasaan atau tradisi makan menjadi hal serius ketika sudah di luar kontrol. Mungkin Inggris menjadi salah satu negara yang kini kelabakan menangani meningkatnya overweight, diabetes, dll di kalangan generasi mudanya.

Saya juga teringat akan kebiasaan di Indonesia, ketika anak-anak dengan bebas jajan semaunya. Mereka hampir bisa membeli apa saja yang mereka mau-asal punya sangu, tentu saja.